Renungan Natal berdasarkan 1 Samuel 8–10
Natal mengingatkan kita pada kedatangan Raja sejati yang telah dinubuatkan sejak dahulu kala. Mari kita merenungkan sebuah kisah Alkitab dalam 1 Samuel 8 yang relevan dengan arti Natal yang sesungguhnya, yaitu: Yesus Raja Sejati.
Bangsa Israel datang kepada nabi Samuel dengan satu permintaan: “Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami, seperti yang ada pada bangsa-bangsa lain.”
Mereka menginginkan raja manusia yang terlihat, yang bisa :
- Memimpin mereka dalam peperangan
- Membuat mereka merasa aman dan terhormat di antara bangsa-bangsa sekitar.
Sekilas, permintaan ini terlihat wajar dan masuk akal. Lagi pula, semua bangsa di sekitar mereka memiliki raja. Bangsa-bangsa itu tampak kuat, terorganisir, dan disegani. Israel merasa tertinggal, dan kurang terhormat tanpa sosok raja yang duduk di atas tahta.
Allah Ingin Menjadi Raja atas Umat-Nya
Namun di balik permintaan itu tersembunyi sebuah tragedi rohani. Allah berfirman kepada Samuel dalam 1 Samuel 8:7: “Bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak sebagai raja atas mereka.”
Israel sebenarnya sedang menolak Allah sebagai Raja mereka yang sejati.
Mereka merasa:
- Tidak lagi puas dengan pemerintahan Allah yang langsung.
- Ingin sama seperti bangsa lain.
- Menginginkan pemimpin yang terlihat, yang bisa mereka andalkan dengan mata jasmani, bukan lagi dengan iman.
Sejak awal, rencana Allah adalah teokrasi, yaitu : pemerintahan langsung oleh Allah sendiri. Ketika Israel keluar dari Mesir, Allah berkata dalam Keluaran 19:6: “Kamu akan menjadi bagi-Ku, kerajaan imam dan bangsa yang kudus.”
Allah sendiri yang menjadi Raja mereka dan yang :
- Memimpin mereka dengan tiang awan dan tiang api.
- Memberi mereka kemenangan atas musuh-musuh yang jauh lebih kuat.
- Menyediakan manna dan air di padang gurun.
Selama masa hakim-hakim, meskipun ada pasang surut, Allah tetap setia memimpin umat-Nya. Ketika mereka bertobat dan berseru kepada-Nya, Dia mengutus hakim-hakim seperti Debora, Gideon, dan Simson untuk membebaskan mereka. Samuel sendiri adalah hakim terakhir yang saleh hiduonya , yang memimpin Israel dengan takut akan Tuhan.
Namun ketika Samuel sudah tua dan anak-anaknya tidak berjalan di jalan yang benar, bangsa Israel mulai menginginkan perubahan. Mereka melihat bangsa-bangsa di sekitar memiliki raja yang gagah, memimpin tentara besar, dan yang membangun istana megah. Perasaan “ketinggalan zaman” membuat mereka ingin “sama seperti bangsa lain”.
Godaan yang Sama Hari Ini
Kisah ini bukan sekadar catatan sejarah kuno dalam Alkitab. Ini adalah cermin yang Tuhan nyatakan kepada kita hari ini. Kita pun sering melakukan hal yang sama: menolak Yesus sebagai Raja sejati atas hidup kita, sambil mencari “raja-raja” pengganti yang lebih terlihat, lebih cepat memberi hasil, atau lebih sesuai dengan selera dunia.
Dunia terus-menerus menawarkan “raja-raja” pengganti:
- Kekayaan dan harta benda
- Jabatan dan popularitas
- Teknologi dan kemudahan hidup
- Bahkan ideologi politik atau filsafat manusia
Semuanya berjanji memberi kita rasa aman, damai, dan kebanggaan. Dan sering kali kita tergoda untuk berkata dalam hati: “Berikanlah kepada kami ‘raja’ seperti yang dimiliki orang-orang dunia ini.”
Kita melihat :
- Orang sukses di media sosial dan mulai berpikir: “Kalau saja aku bisa hidup seperti mereka, aku pasti bahagia.”
- Kehidupan mewah orang lain dan merasa iri : “Kalau saja aku punya uang sebanyak itu, semua masalahku akan selesai.”
- Melihat pasangan orang lain yang romantis dan mulai membandingkan : “Kalau saja aku menemukan orang yang tepat, hidupku akan sempurna.”
Inilah godaan yang sama yang dihadapi Israel. Mereka mulai mencari keamanan, identitas, dan kepuasan dari hal-hal yang terlihat, yang bisa kita diukur dan dikontrol, daripada dari Allah yang tidak terlihat namun setia.
Konsekuensi dari Menolak Allah sebagai Raja
Allah tidak langsung menolak permintaan Israel. Dia mengizinkannya. Bukan karena itu yang terbaik, tetapi karena Dia menghormati kehendak bebas manusia.
Namun melalui Samuel, Dia memberikan peringatan serius dalam 1 Samuel 8:10-18 tentang apa yang akan terjadi jika mereka memiliki raja manusia. Raja itu akan mengambil anak-anak mereka, ladang-ladang terbaik, dan memungut pajak. Dan pada akhirnya: “Kamu akan berseru-seru pada hari itu karena rajamu yang kamu pilih bagimu sendiri, tetapi TUHAN tidak akan menjawab kamu pada hari itu.”
Peringatan ini adalah gambaran rohani tentang apa yang terjadi ketika kita menolak Allah sebagai Raja.
Jika kita menjadikan :
- Uang sebagai raja, maka uang itu akan “mengambil” waktu, kesehatan, hubungan, dan damai sejahtera kita.
- Karier atau jabatan sebagai raja, maka itu akan menuntut pengorbanan keluarga, ibadah, dan integritas kita.
- Hubungan manusia sebagai raja, maka ketika hubungan itu goyah, seluruh hidup kita akan runtuh.
- Kenikmatan duniawi sebagai raja, maka kita akan terus merasa kosong, karena kenikmatan itu tidak pernah cukup.
Semua “raja” pengganti ini pada akhirnya akan mengecewakan kita. Dan seperti yang Tuhan katakan kepada Israel, pada hari kita berseru karena penderitaan yang ditimbulkan oleh “raja” pilihan kita sendiri, sering kali kita baru menyadari bahwa kita telah menolak Raja yang sejati.
Yesus: Raja yang Sudah Datang
Inilah kabar baik Natal. Dalam Yesus Kristus, Kerajaan Allah telah datang ke dunia ini!
Yesus berkata dalam Markus 1:15: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”
Dalam pelayanan-Nya, Yesus mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati. Semua itu adalah tanda bahwa Kerajaan Allah sudah hadir. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus telah mengalahkan kuasa dosa, maut, dan Iblis.
Seperti yang ditulis Paulus dalam Efesus 1:20-21, Allah “mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan.”
Secara kosmis, Yesus sudah menjadi Raja atas seluruh alam semesta saat ini juga. Tidak ada satu pun kekuatan yang lebih tinggi daripada-Nya.
Namun secara pribadi, Kerajaan-Nya masih bersifat “sudah, tapi belum sempurna”. Kerajaan-Nya sudah hadir di dalam hati setiap orang yang menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat. Seperti yang Paulus katakan dalam Kolose 1:13: “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih.”
Bagi kita yang percaya, kita sudah menjadi warga Kerajaan Allah saat ini. Namun Kerajaan itu belum dinyatakan secara penuh. Dosa masih ada. Penderitaan masih ada. Itulah sebabnya Yesus mengajarkan kita untuk terus berdoa dalam Matius 6:10: “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”
Inilah paradoks indah dari kehidupan Kristen: Yesus sudah menjadi Raja kita, namun kita masih menantikan penggenapan penuh Kerajaan-Nya. Kita sudah diselamatkan, namun kita tetap harus bertumbuh dalam pengudusan. Kita sudah menang dalam Kristus, namun kita masih berjuang menakluklan dosa setiap hari.
Kerajaan Allah bukan sekadar konsep teologis yang abstrak. Kerajaan Allah adalah kenyataan yang harus kita hidupi setiap hari. Di mana Yesus memerintah, di situ ada damai sejahtera, keadilan dan kasih yang sejati.
“Allah menjadi manusia supaya manusia kembali hidup di bawah Allah, bukan menggantikan Allah.”
Augustinus
Panggilan Pribadi: Akui Yesus sebagai Raja
Inilah inti renungan Natal kita. Meskipun Yesus sudah menjadi Raja secara obyektif, Dia masih memberikan kita kehendak bebas untuk memilih. Kita dibebaskan memilih apakah kita akan tunduk kepada pemerintahan-Nya atau tidak.
Banyak orang Kristen yang dengan bibir berkata “Yesus adalah Tuhan dan Rajaku”. Namun, dalam praktik sehari-harinya masih mempertahankan banyak “tahta kecil” di dalam hati mereka. Kita masih ingin memerintah sendiri di beberapa area kehidupan.
Setiap kali kita melakukan itu, kita sedang mengulangi dosa Israel.
Di area :
- Keuangan, kita berkata: “Ini uangku, aku yang berhak menentukan mau dipakai untuk apa.”
- Hubungan, kita berkata: “Aku tahu firman Tuhan bilang begini, tapi aku lebih tahu apa yang terbaik untuk kebahagiaanku.”
- Waktu, kita berkata: “Aku terlalu sibuk untuk saat teduh, untuk beribadah, untuk melayani.”
- Keputusan hidup, kita berkata: “Aku tidak perlu tanya Tuhan dulu, aku sudah cukup dewasa untuk memutuskan sendiri.”
Menjadikan Yesus Raja sejati berarti menyerahkan seluruh hidup kita kepada-Nya tanpa terkecuali. Bukan hanya pada hari Minggu di gereja, tapi setiap hari, setiap saat, di setiap area.
Ini adalah keputusan yang harus kita buat seumur hidup kita. Setiap pagi ketika kita bangun, kita perlu memilih lagi: “Hari ini, siapa yang akan menjadi raja atas hidupku?” Setiap kali kita menghadapi keputusan, kita perlu bertanya: “Apa yang Raja Yesus inginkan dalam situasi ini?”
Kadang-kadang penyerahan ini mudah tapi kadang-kadang juga terasa sulit. Ada area-area dalam hidup kita yang kita enggan serahkan karena kita takut kehilangan kontrol, kenikmatan, dan identitas kita.
Biarkan Dia yang memerintah:
- Pekerjaan kita : bukan ambisi pribadi atau tekanan atasan
- Keuangan kita : bukan ketakutan atau keserakahan
- Hubungan kita : bukan nafsu atau rasa takut sendirian
- Waktu kita : bukan kemalasan atau kesibukan yang tidak berkenan kepada-Nya
- Pikiran dan emosi kita : bukan kekuatiran atau kemarahan
Ini bukan berarti kita menjadi pasif atau tidak bertanggung jawab. Justru sebaliknya. Ketika Yesus benar-benar menjadi Raja, kita akan hidup dengan penuh kuasa, hikmat, dan damai sejahtera yang dari Surga.
Berkat dari Hidup di Bawah Pemerintahan Yesus
Apa yang kita dapatkan ketika kita benar-benar menjadikan Yesus Raja atas hidup kita?
- Damai sejahtera yang melampaui akal budi (Filipi 4:7)
- Kuasa untuk mengalahkan dosa dan godaan (Roma 6:14)
- Petunjuk yang jelas dalam setiap keputusan (Mazmur 32:8)
- Penyediaan yang ajaib dari Bapa di surga (Matius 6:33)
- Identitas yang kokoh sebagai anak-anak Allah (Roma 8:16-17)
- Dan yang terpenting: kemuliaan Allah dinyatakan melalui hidup kita (Yohanes 15:8)
Saul, raja pertama Israel, awalnya rendah hati. Dia bahkan bersembunyi di antara barang-barang ketika namanya diumumkan sebagai raja. Tapi karena dia tidak taat sepenuhnya kepada Tuhan, kerajaannya berakhir tragis.
Sebaliknya, Daud yang disebut “seorang yang berkenan di hati Allah” selalu mengakui Allah sebagai Raja sejati, meskipun dia sendiri adalah raja manusia. Yesus adalah Daud yang lebih besar, Raja yang sempurna, yang tidak pernah gagal.
Baca juga artikel lainnya:
Penutup: Maranatha!
Suatu hari nanti Yesus akan datang kembali sebagai Raja segala raja. Pada saat itu, setiap lutut akan bertelut dan setiap lidah akan mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan (Filipi 2:10-11). Tidak ada lagi pilihan. Tidak ada lagi “tahta kecil” yang bisa kita pertahankan.
Pada hari itu, semua “raja-raja” palsu yang pernah kita sembah akan terbukti tidak berharga. Uang tidak akan bisa dibawa mati. Jabatan tidak akan ada artinya. Popularitas akan lenyap. Yang tersisa hanyalah satu pertanyaan: “Apakah kita sudah hidup di bawah pemerintahan Raja Yesus?”

Kedatangan Yesus yang pertama kali yang kita rayakan setiap Natal adalah kedatangan dalam kerendahan hati. Dia datang sebagai bayi yang lahir di kandang hewan, tidur di palungan. Dia datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang.
Tetapi kedatangan-Nya yang kedua akan sangat berbeda. Dia akan datang dalam kemuliaan, dengan kuasa yang tak terbatas, untuk menegakkan keadilan dan menghukum kejahatan. Setiap mata akan melihat-Nya. Setiap orang akan mengakui kerajaan-Nya.
Pertanyaannya adalah: apakah kita sudah siap untuk hari itu?
Tapi hari ini, Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk memilih dengan sukarela: “Maukah engkau menjadikan Aku Raja sejati atas seluruh hidupmu?”
Natal adalah undangan untuk menjawab pertanyaan ini juga kesempatan untuk merenungkan: siapa yang sebenarnya memerintah hidup kita? Apakah kita masih seperti Israel yang menolak Allah sebagai Raja dan mencari “raja-raja” pengganti? Ataukah kita sudah benar-benar menerima Yesus sebagai Raja atas setiap aspek kehidupan kita?
Hari ini adalah hari yang tepat untuk membuat keputusan itu. Bukan besok ataupun nanti. Tdak ada yang tahu kapan waktu kita habis, kapan kesempatan terakhir kita berlalu.
Karena Anak Manusia juga datang
bukan untuk dilayani,
melainkan untuk melayani
dan untuk memberikan nyawa-Nya
menjadi tebusan bagi banyak orang.
Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
supaya dalam nama Yesus
bertekuk lutut segala yang ada di langit
dan yang ada di atas bumi
dan yang ada di bawah bumi,
dan segala lidah mengaku:
“Yesus Kristus adalah Tuhan,”
bagi kemuliaan Allah, Bapa.
Maranatha! Datanglah, ya Tuhan Yesus!


