Pendahuluan
Dalam pembacaan kitab Injil, kita akan menemukan sesuatu yang menarik. Yesus hampir tidak pernah mengajarkan murid-murid-Nya untuk menentukan nasib akhir seseorang. Ia tidak mengajar untuk merumuskan kriteria siapa yang masuk surga atau neraka. Ia tidak membagi manusia ke dalam kelompok “lolos” dan “gagal”. Yesus juga tidak memberikan otoritas kepada siapa pun untuk menarik kesimpulan akhir tentang orang lain.
Yang Yesus lakukan justru sebaliknya. Ia mengarahkan perhatian pada satu hal yang sangat mendasar, yaitu : bagaimana manusia hidup di bawah pemerintahan Allah. Ia mengajarkan kasih kepada musuh, memberi kepada yang membutuhkan, mengampuni tanpa batas. Semua adalah tindakan yang dikerjakan hari ini, bukan spekulasi tentang status kekal.
Perhatikan kisah dalam Matius 25:31-46. Yesus memang menggambarkan penghakiman akhir. Namun, fokus-Nya adalah tindakan konkret seperti memberi makan, memberi minum, menerima orang asing, memberi pakaian, mengunjungi yang sakit dan yang dipenjara. Yesus tidak menjelaskan mekanisme penghakiman atau kriteria masuk surga. Ia menunjukkan bahwa hidup di bawah pemerintahan Allah berarti melayani sesama dalam tindakan nyata.
Pemberian makan kepada yang lapar, memberikan minum kepada yang haus, menerima orang asing, memberi pakaian kepada yang telanjang, mengunjungi yang sakit dan yang dipenjara. Yesus menyebut ini sebagai tanda bahwa seseorang sudah mengenal Allah. Tindakan ini menunjukkan bahwa kehendak Allah sudah bekerja dalam kehidupan mereka.
Jika kita membaca Injil dengan cermat, kita akan melihat pola yang konsisten. Yesus lebih peduli pada proses daripada hasil akhir. Ia lebih tertarik pada perjalanan iman daripada mengajarkan tentang menghakimi siapa yang layak berada di surga dan siapa yang akan masuk neraka.
Kerajaan Allah: Bukan Kehidupan Setelah Mati
Istilah “Kerajaan Allah” sering disalahpahami oleh banyak orang Kristen masa kini. Kita cenderung menganggapnya sebagai tempat di surga setelah kematian kelak. Padahal, dalam konteks Yudaisme abad pertama, Kerajaan Allah memiliki makna yang sangat berbeda.
Secara esensi, Kerajaan Allah (Basileia tou Theou) dan Kerajaan Surga (Basileia tōn Ouranōn) adalah hal yang sama, yakni kedaulatan Allah atas kehidupan. Perbedaan istilah ini hanyalah masalah etika bahasa. Matius menggunakan kata “Surga” untuk menghormati pembaca Yahudi yang tabu menyebut nama “Allah” secara langsung. Jadi Matius menggunakan “Surga” sebagai metonimia (kata ganti) untuk Allah. Ketika Matius menulis “Kerajaan Surga”, pembaca Yahudinya otomatis mengerti bahwa yang dimaksud adalah “Pemerintahan Allah”.
Kesalahan pemahaman muncul ketika kita mengira “Kerajaan Surga” adalah lokasi setelah mati, padahal keduanya merujuk pada pemerintahan Allah yang hadir di bumi. Ini bukan soal pindah tempat ke awan-awan, melainkan tentang menghadirkan kualitas hidup surgawi ke dalam praktik nyata dalam kehidupan masyarakat hari ini.
Orang Yahudi di zaman Yesus sudah mengenal istilah ini dengan baik. Bagi mereka, Kerajaan Allah berarti Allah yang memerintah umat-Nya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pedagang yang jujur dalam timbangan, seorang hakim yang tidak menerima suap, seorang ayah yang mengajarkan Taurat kepada anak-anaknya. Inilah wujud konkret Kerajaan Allah. Kehidupan yang taat pada kehendak Allah dimulai di pasar, di pengadilan, di rumah, bukan di kehidupan setelah mati nanti.
Jadi Kerajaan Allah dalam pikiran orang Yahudi abad pertama bukanlah soal lokasi di awan-awan, melainkan soal kedaulatan (kingship/reign).
Mazmur 47:9 mengatakan, “Allah bertakhta atas bangsa-bangsa, Allah bersemayam di atas takhta-Nya yang kudus.” Ini menunjukkan bahwa Allah memerintah sekarang, bukan nanti. Ulangan 6:4-9 mengajarkan bahwa kehidupan harus diarahkan oleh Taurat dalam setiap aspek : di rumah, di jalan, ketika berbaring, dan ketika bangun.
Mikha 6:8 merangkum dengan indah apa yang dikehendaki Allah: “Telah diberitahukan kepadamu, hai manusia, apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” Ini adalah tentang cara hidup, bukan tentang tiket masuk surga.
Nabi Yesaya membayangkan Kerajaan Allah sebagai zaman di mana ketidakadilan berakhir. Yesaya 11:4 menubuatkan, “Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran.”
Namun, menjelang zaman Yesus, pemahaman ini mulai mengalami pergeseran makna dan menyempit. Kerajaan Allah diharapkan sebagai pembebasan politik dari penjajahan Roma. Istilah ini dijadikan penanda identitas eksklusif umat pilihan. Kerajaan Allah diukur melalui kepatuhan ritual dan ketaatan pada hukum-hukum detail.
Fokus bergeser dari kehendak Allah yang membentuk hidup ke sistem yang dapat dikendalikan manusia. Taurat yang semula menegakkan keadilan bagi janda dan anak yatim dipersempit menjadi perdebatan tentang jarak yang boleh ditempuh pada hari Sabat. Perintah untuk mengasihi sesama (Imamat 19:18) berubah menjadi perdebatan tentang siapa yang layak disebut “sesama”. Pemerintahan Allah yang seharusnya mentransformasi hati akhirnya direduksi menjadi daftar kewajiban ritual yang bisa dicentang.
Kesalahan “Kristen modern” adalah meninggalkan akar Yahudi pemahamannya dan menggantinya dengan konsep “surga jackpot” yang sebenarnya lebih mirip filsafat Yunani kuno atau gnostisisme.
Yesus datang untuk mengembalikan makna Kerajaan Allah ke pengertian yang sebenarnya. Dalam Markus 1:15, Ia berkata, “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.”
Perhatikan kata-kata Yesus: “Kerajaan Allah sudah dekat.” Bukan “nanti di surga”, tetapi “sudah dekat” sekarang. Panggilan untuk bertobat dan percaya adalah panggilan untuk masuk ke dalam cara hidup yang baru, hidup di bawah pemerintahan Allah mulai hari ini.
Ketika Yesus berbicara tentang:
- Pertobatan, Ia maksudkan perubahan arah dari hidup yang berpusat pada diri sendiri ke hidup yang taat pada kehendak Allah.
- Ketaatan batin, Ia maksudkan transformasi dari dalam, bukan sekadar mengikuti aturan tetapi menjadi orang yang berbeda.
- Kesetiaan hidup, Ia maksudkan konsistensi antara apa yang dipercaya di hati dan apa yang dilakukan di pasar, di rumah, di jalan.
Kerajaan Allah hadir ketika kehendak Allah nyata dalam cara seseorang hidup sehari-hari. Ia tidak diukur dari banyaknya doa yang diucapkan atau ayat yang dihafalkan, melainkan dari tindakan sederhana yang mencerminkan kasih, keadilan, dan kesetiaan di tengah hidup yang nyata.
Berbahagialah: Pembukaan yang Mengejutkan
Dalam tradisi nabi-nabi Perjanjian Lama, teguran sering dibuka dengan kata “celakalah”. Ini adalah cara untuk menyatakan kesalahan umat dan akibat yang akan mereka tanggung.
Yeremia 22:13 mengucapkan celaka atas raja yang membangun istananya dengan ketidakadilan: “Celakalah orang yang mendirikan rumahnya dengan tidak menurut kebenaran dan kamar-kamar lotengnya dengan tidak menurut keadilan.” Nabi Amos, Hosea, dan Yesaya juga sering menggunakan formula “celakalah” untuk mengumumkan hukuman.
Ketika Yesus naik ke gunung dan mulai mengajar, para pendengar mungkin mengharapkan Ia akan membuka dengan teguran yang keras. Mereka mungkin mengira Yesus akan mengecam dosa-dosa mereka, mengumumkan celaka atas ketidaktaatan mereka, atau menyatakan murka Allah.
Namun, Yesus melakukan sesuatu yang sangat berbeda. Ia membuka Khotbah di Bukit dengan rangkaian pernyataan “berbahagialah”. Ini bukan sekadar perbedaan kata. Ini adalah pergeseran paradigma yang radikal. Tidak kurang ada 10 ucapan bahagia yang tercatat dalam Matius 5:3-12.
Dalam tradisi hikmat Yahudi, ungkapan “berbahagialah” digunakan untuk menunjuk cara hidup yang benar di hadapan Allah. Mazmur 1:1-3 menggambarkan orang yang berbahagia sebagai mereka yang tidak hidup menurut nasihat orang fasik, melainkan yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN dan yang hidupnya berakar pada kehendak-Nya.
Dengan membuka pengajaran-Nya demikian, Yesus menunjukkan jalan hidup yang dinilai benar oleh Allah. Ia menggambarkan karakter yang Allah hargai berupa kerendahan hati, kepekaan terhadap penderitaan, kelemahlembutan, kerinduan akan kebenaran, kemurahan hati, kemurnian hati, kesediaan membawa damai, dan keteguhan menghadapi penganiayaan. Semua ini menunjuk pada perjalanan pembentukan karakter, bukan kriteria penerimaan akhir.
“Air mata,
kesusahan,
kehilangan,
penolakan,
dan penderitaan
karena memilih taat
adalah jalan
yang harus dilewati
bersama Tuhan.
Manusia hanya
menjalaninya
dengan setia,
tanpa menyimpulkan
apa-apa.
Allah yang melihat
seluruh perjalanan
itulah yang akhirnya
berkata:
berbahagialah.”
Taurat sebagai Bahasa Moral
Setelah ucapan bahagia, Yesus melanjutkan dengan membahas Taurat. Banyak orang mengira Yesus datang untuk meniadakan atau mengganti Taurat. Namun, Yesus sendiri mengatakan sebaliknya.
Matius 5:17 mencatat, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”
Kata “menggenapi” di sini bukan berarti “mengakhiri”. Ini berarti “memberikan pengertian yang penuh” atau “menunjukkan makna yang sesungguhnya”. Yesus tidak datang untuk menghapus Taurat, tetapi untuk menunjukkan apa sebenarnya tujuan Taurat.
Dalam Matius 5:18, Yesus menegaskan, “Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.”
Pernyataan ini sangat kuat. Yang menarik, Yesus kemudian menggunakan Taurat sebagai bahasa moral untuk menjelaskan kehendak Allah kepada pendengar yang sudah akrab dengan hukum Musa. Taurat berfungsi sebagai sarana pembelajaran yang membentuk sikap hidup, bukan sebagai kitab hukum untuk menjatuhkan vonis.
Perhatikan pola pengajaran Yesus dalam Matius 5:21-48. Ia menggunakan formula “Kamu telah mendengar… tetapi Aku berkata kepadamu…” berulang kali.
Ketika membahas pembunuhan, Yesus masuk ke akar masalahnya: kemarahan yang ada di hati (Matius 5:21-22). “Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum.” Pembunuhan dimulai dari kebencian yang dipelihara, dari amarah yang dibiarkan mengakar, dari penghinaan yang diucapkan bukan dari tindakan membunuh itu sendiri.
Ketika membahas perzinahan, Yesus masuk ke akar masalahnya: hasrat hati yang tidak terkendali (Matius 5:27-28). “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” Perzinahan dimulai dari cara seseorang memandang orang lain apakah sebagai subjek dengan martabat atau sebagai objek untuk kepuasan.

Ketika membahas sumpah, Yesus masuk ke akar masalahnya: kejujuran sikap yang harus menjadi fondasi komunikasi (Matius 5:33-37). “Hendaklah kamu berkata: Ya, jika ya; tidak, jika tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Orang yang jujur tidak membutuhkan sumpah untuk dipercaya kata-katanya sendiri sudah cukup karena hidupnya konsisten.
Ketika membahas kasih, Yesus masuk ke ujian terberatnya: cara memperlakukan musuh (Matius 5:43-48). “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Kasih sejati diuji bukan pada orang yang mudah dikasihi, tetapi pada orang yang menyakiti kita apakah kita mampu melihat mereka dengan mata Allah dan berdoa untuk kebaikan mereka.
Semua ini menunjukkan bahwa ketaatan diukur dari arah hidup.
- Tidak membunuh secara fisik, tetapi menyakiti orang lain dengan perkataan tajam dan menusuk, jelas tidak sejalan dengan perintah Allah.
- Menjauhi perzinahan secara lahiriah, tetapi memandang orang lain sebagai objek, juga menunjukkan arah yang menyimpang.
Yang diperhatikan Allah adalah ke mana hidup seseorang bergerak selanjutnya. Apakah menuju kasih, kebenaran, dan belas kasihan, atau mungkin menjauh darinya?
Dalam Matius 5:20, Yesus mengatakan sesuatu yang mengejutkan: “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”
Ahli Taurat dan orang Farisi adalah orang-orang yang sangat teliti dalam menjalankan hukum Taurat. Mereka membayar persepuluhan sampai detail mint dan adas. Mereka berpuasa dua kali seminggu. Mereka mencuci tangan dengan ritual khusus sebelum makan.
Namun, Yesus mengatakan bahwa kebenaran mereka belum cukup. Mengapa? Karena Taurat berfungsi untuk membentuk karakter yang mencerminkan Allah bukan untuk mengumpulkan poin ketaatan. Orang bisa sempurna dalam ritual tetapi kejam dalam tindakan. Orang bisa ketat dalam aturan tetapi kosong dalam kasih.
Manusia sebagai Subjek, Bukan Objek
Pengajaran Yesus mengungkapkan sesuatu yang sangat penting tentang bagaimana Allah memandang manusia. Allah memandang manusia sebagai subjek yang diajak berproses bukan sebagai produk jadi yang tinggal dinilai. Allah mengundang manusia ke dalam relasi yang dinamis bukan ke dalam sistem penilaian yang statis. Allah membentuk manusia seperti pemahat membentuk tanah liat dengan sentuhan yang terus-menerus, perlahan, dengan kesabaran yang luar biasa.
Yohanes 1:18 mengatakan, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” Tanpa Yesus, manusia tidak mengenal Allah dengan benar. Namun, pengenalan ini bukan titik akhir. Ini adalah titik awal dari sebuah perjalanan.
Yesus menggunakan gambaran yang sangat organik untuk menjelaskan relasi antara Dia dengan pengikut-Nya. Dalam Yohanes 15:4-5, Ia berkata, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
Perhatikan kata “tinggallah” dalam perikop ini. Ini adalah kata kerja yang menyiratkan proses berkelanjutan. Ini bukan tentang satu momen keputusan yang menentukan segala-galanya. Ini tentang hidup dalam relasi yang terus berkembang, hari demi hari.
Ranting tidak berbuah dengan sekali jadi. Ranting berbuah karena terus-menerus terhubung dengan pokok anggur, menerima nutrisi, dan bertumbuh seiring waktu. Ada musim berbunga, ada musim berbuah, ada musim di mana buah menjadi matang. Semua ini adalah proses.

Selama proses ini berlangsung, pertobatan tetap mungkin dan perubahan tetap terbuka. Seseorang yang hari ini keras hati bisa besok melunak. Seseorang yang hari ini jauh dari Allah bisa besok kembali. Seseorang yang hari ini dalam kegelapan bisa besok melihat terang. Perjalanan iman adalah rangkaian momen-momen di mana seseorang memilih untuk mendekat atau menjauh dan setiap momen membuka kemungkinan baru.
Perumpamaan Anak yang Hilang dalam Lukas 15:11-32 menggambarkan ini dengan indah. Anak yang pergi meninggalkan rumah dan menghabiskan semua hartanya dalam hidup yang sia-sia tidak langsung dihakimi sebagai “anak yang binasa selamanya”. Ketika ia sadar dan kembali, bapa menyambutnya dengan penuh sukacita.
Yang menarik adalah respons sang bapa. Ia tidak berkata, “Kamu sudah melewati batas. Terlambat untuk kembali.” Sebaliknya, ia berkata dalam Lukas 15:24, “Anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”
Perubahan status dari mati menjadi hidup, dari hilang menjadi didapat kembali, menunjukkan bahwa Allah tidak mengunci manusia pada satu vonis. Selama hidup masih ada, pintu pertobatan tetap terbuka. Proses pembentukan terus berlangsung.
Karena itu, kesimpulan akhir tentang seseorang tidak berada dalam wewenang manusia lain. Hanya Allah yang melihat seluruh perjalanan hidup seseorang, dari awal hingga akhir. Hanya Allah yang tahu apakah seseorang telah sampai pada titik akhir prosesnya atau masih dalam perjalanan.
Mengikuti, Bukan Menghakimi
Yesus memanggil murid-murid-Nya untuk mengikuti-Nya, bukan untuk menjadi hakim atas orang lain. Perbedaan ini sangat penting dan sering diabaikan.
Dalam Matius 7:1-5, Yesus berkata dengan tegas, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
Larangan untuk menghakimi ini bukan berarti kita tidak boleh membedakan yang baik dan yang jahat. Ini bukan ajakan untuk menjadi relativis yang menganggap semua hal sama saja. Yang dilarang adalah sikap menempatkan diri sebagai hakim final atas nasib kekal orang lain.
Kisah perempuan yang kedapatan berzina dalam Yohanes 8:1-11 menggambarkan sikap Yesus dengan jelas. Ketika orang-orang Farisi membawa perempuan itu untuk dihakimi, Yesus tidak langsung menghakimi atau membebaskannya. Ia justru menantang mereka yang ingin menghakimi.
Yohanes 8:7 mencatat, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Satu per satu, mereka yang ingin menghakimi pergi, mulai dari yang tertua.
Setelah semua orang pergi, Yesus berkata kepada perempuan itu dalam Yohanes 8:10-11, “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau? Jawabnya: Tidak ada, Tuhan. Lalu kata Yesus: Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.”
Perhatikan respons Yesus. Ia tidak mengatakan bahwa dosa perempuan itu tidak masalah. Ia juga tidak mengatakan bahwa dosa itu bisa diabaikan. Namun, Ia juga tidak menjatuhkan vonis final. Sebaliknya, Yesus memberikan kesempatan untuk berubah: “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.”
Ini adalah undangan untuk masuk ke dalam proses. Ini adalah panggilan untuk berubah, untuk bertumbuh, untuk menjadi berbeda. Bukan vonis yang mengunci, tetapi harapan yang membuka.
Dalam Roma 14:10-12, Paulus menulis, “Sebab itu mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. Karena ada tertulis: Demi Aku hidup, demikianlah firman Tuhan, semua orang akan bertelut di hadapan-Ku, dan semua orang akan memuji Allah. Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.”
Setiap orang akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah. Bukan kepada manusia lain. Bukan kepada pemimpin gereja. Bukan kepada kelompok yang mengklaim memiliki kebenaran mutlak. Kepada Allah.
Ketika kita sibuk menghakimi orang lain, kita mengambil peran yang tidak diberikan kepada kita. Kita menempatkan diri di posisi Allah. Kita melupakan bahwa kita sendiri masih dalam proses, masih perlu bertumbuh, masih memiliki banyak kekurangan.
Yakobus 4:12 mengingatkan, “Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Jadi siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi sesamamu?”
Ketika Gereja Menjadi Pengadilan
Sayangnya, sejarah gereja menunjukkan betapa sering ajaran Yesus tentang proses telah diganti dengan sistem vonis. Ketika proses diganti dengan klasifikasi, dan ketika ketaatan diganti dengan kesimpulan, Yesus dipakai sebagai alat vonis, bukan diikuti sebagai Guru.
Pada abad-abad pertengahan, gereja mengembangkan sistem yang sangat rinci tentang siapa yang diselamatkan dan siapa yang binasa. Ada kategori untuk berbagai jenis dosa. Ada perhitungan untuk berbagai jenis hukuman. Ada bahkan sistem jual-beli pengampunan melalui indulgensi.
Ini semua adalah upaya untuk mengontrol anugerah Allah, untuk membuat keselamatan menjadi sesuatu yang dapat diukur dan diprediksi kesudahannya.
Reformasi Protestan dimulai sebagai protes terhadap sistem ini. Martin Luther menekankan pembenaran oleh iman, bukan oleh perbuatan. Namun, ironisnya, banyak gereja Protestan kemudian mengembangkan sistem vonis mereka sendiri.
Ada gereja yang menyatakan bahwa hanya anggota mereka yang diselamatkan. Juga ada gereja yang mengklaim bisa tahu siapa yang dipilih Allah dan siapa yang tidak.
Semua ini adalah penyimpangan dari ajaran Yesus sebagai upaya untuk mengambil peran yang hanya milik Allah.
1 Korintus 4:5 mengingatkan, “Karena itu janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.”
Kita tidak tahu apa yang ada di dalam hati orang lain. Mungkin mereka sedang mengalami pergumulan, luka, atau perjalanan hidup yang tidak mudah. Kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan mereka. Karena itu, kita tidak berhak untuk menjatuhkan vonis final kesudahan mereka.
Hidup di Bawah Pemerintahan Allah Hari Ini
Jika Yesus mengajarkan iman sebagai proses, bukan vonis, apa artinya bagi kita yang hidup di abad ke-21 ini?
Pertama, ini berarti kita perlu mengubah fokus kita. Alih-alih terobsesi dengan pertanyaan “Apakah saya diselamatkan?” atau “Apakah orang itu diselamatkan?”, kita perlu bertanya, “Bagaimana saya bisa hidup lebih setia kepada kehendak Allah hari ini?”
Mikha 6:8 sudah merangkum apa yang dituntut Allah dari kita: “Telah diberitahukan kepadamu, hai manusia, apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”
Berlaku adil berarti memperlakukan orang lain dengan benar, tidak memihak pada yang kuat dan menindas yang lemah. Mencintai kesetiaan berarti menghargai relasi, komitmen, dan integritas. Hidup dengan rendah hati di hadapan Allah berarti menyadari bahwa kita bukan pusat dunia, bahwa kita bergantung pada Allah, bahwa kita masih perlu terus belajar dan bertumbuh.
Kedua, ini berarti kita perlu berhenti menjadi hakim atas orang lain. Kita tidak tahu perjalanan iman mereka. Kita tidak tahu apa yang Allah sedang kerjakan dalam hidup mereka. Yang kita bisa lakukan adalah menjadi saksi tentang bagaimana Allah bekerja dalam hidup kita sendiri.
1 Petrus 3:15 mengajarkan, “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.”
Kita dipanggil untuk memberi pertanggungan jawab tentang pengharapan yang ada pada kita, bukan untuk menghakimi pengharapan atau ketiadaan pengharapan yang ada pada orang lain.
Ketiga, ini berarti kita perlu menerima bahwa iman adalah perjalanan, bukan tujuan yang sudah dicapai. Kita semua masih dalam proses. Kita semua masih perlu bertumbuh. Kita semua masih membuat kesalahan dan perlu pertobatan.
Filipi 3:12-14 mengungkapkan sikap Paulus yang jujur, “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.
Paulus, seorang rasul besar yang menulis sebagian besar Perjanjian Baru, mengakui bahwa ia belum sempurna dan masih berlari menuju tujuan. Jika Paulus saja masih dalam proses, siapakah kita untuk mengklaim sudah sampai?
“Kerajaan Allah bukan hanya harapan masa depan;
ia adalah realitas kini.
Allah memerintah di tengah sejarah,
membebaskan manusia dari kuasa jahat,
dan menghadirkan berkat pemerintahan-Nya.”
George Eldon Ladd
Profesor Perjanjian Baru, Fuller Theological Seminary
Kerajaan Allah Hadir Sekarang
Yesus tidak mengajarkan kita untuk menunggu sampai mati untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Ia mengajarkan bahwa Kerajaan Allah hadir sekarang ketika kita hidup di bawah pemerintahan-Nya.
Dalam Lukas 17:20-21, ketika orang Farisi bertanya kapan Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, “Kerajaan Allah datang tanpa dapat diamati orang. Orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.”
“Kerajaan Allah bukan tentang
orang pergi ke surga setelah mati.
Ia adalah pemerintahan Allah
yang datang ke bumi,
menghadirkan keadilan,
damai,
dan pembaruan ciptaan.”
N. T. Wright
Bishop of Durham & Profesor Penelitian Perjanjian Baru,
University of St Andrews
Kerajaan Allah ada di antara kita ketika kita hidup sesuai nilai-nilai Kerajaan Allah. Ketika kita mengasihi musuh. memberi makan yang lapar. Juga ketika kita mengampuni yang bersalah, berlaku adil kepada yang lemah dan kita mau hidup dengan rendah hati di hadapan Allah.
Matius 6:33 mengajarkan, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Mencari Kerajaan Allah bukan tentang memastikan tempat di surga nanti. Ini tentang hidup dalam kehendak Allah sekarang.
Doa Bapa Kami dalam Matius 6:9-10 mengajarkan kita untuk berdoa, “Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”
Perhatikan doa ini. “Datanglah Kerajaan-Mu” dan “jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” adalah paralel. Kerajaan Allah datang ketika kehendak Allah terjadi di bumi. Bukan nanti di surga, tetapi sekarang di bumi.
Jika refleksi ini menolong Anda melihat kembali inti pengajaran Yesus, beberapa tulisan berikut dapat dibaca sebagai kelanjutan perenungan.
Baca juga artikel lainnya:
Kesimpulan: Mengikuti, Bukan Mengkalkulasi
Orang yang menjalani proses hidup bersama Allah tidak sibuk menentukan di mana ia atau orang lain akan berakhir. Ia menjalani ketaatan hari ini dengan merespons panggilan Allah sekarang. Baginya adalah jauh lebih penting bertumbuh dalam kasih dan pengenalan akan Allah dari waktu ke waktu sebagai bentuk tanggung jawab
2 Petrus 3:18 mengingatkan, “Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.”
Bertumbuh adalah kata kerja yang menyiratkan proses berkelanjutan. Tentu kita tidak langsung menjadi sempurna dan dapat langsung mengenal Allah sepenuhnya. Semua ini adalah perjalanan seumur hidup.
Yesus tidak memanggil manusia untuk menghakimi, melainkan untuk mengikuti dan dibentuk oleh-Nya.
Yohanes 10:27 mencatat kata-kata Yesus, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.” Mengikut adalah relasi yang hidup, bukan status yang statis.
Kerajaan Allah hadir ketika manusia hidup di bawah pemerintahan Allah sekarang. Kesimpulan akhir tentang setiap orang berada di tangan Allah, bukan di tangan manusia.
Panggilan kita bukan menyimpulkan hasil akhir, melainkan hidup setia hari ini, bertumbuh dalam kasih, dan menghadirkan berkat sebagai saksi kasih karunia Allah. Dalam semua itu, kita mempercayakan hasil akhir kepada Allah yang adil, yang penuh kasih, dan yang melihat segala sesuatu termasuk apa yang tersembunyi dalam kegelapan hati manusia.
Amsal 3:5-6 merangkum sikap yang tepat: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”
Inilah iman sebagai proses yang mempercayai Tuhan, mengakui Dia dalam segala perbuatan dan membiarkan Dia meluruskan jalan kita. Jadi bukan kita yang mencoba mengkalkulasi hasil akhir atau menghakimi orang lain.


