Renungan dari Mikha, Gibea, dan Perang Saudara dalam Hakim-Hakim 19–21
Ada kisah dalam Alkitab yang merupakan sejarah kelam yang mungkin saja sebagian pembaca lebih memilih untuk melewatinya. Bahkan para pengkhotbah jarang menyentuhnya dalam mimbar gereja.
Namun justru di balik kegelapannya, tersembunyi cermin yang tajam yang dapat menyingkap kondisi manusia, bahkan umat Tuhan, ketika menjauh dari firman-Nya.
Cermin yang memperlihatkan betapa rapuhnya moral sebuah bangsa ketika fondasi imannya retak.
Kisah itu adalah tragedi Mikha dan patung berhalanya, gundik seorang Lewi, kota Gibea yang berperilaku seperti Sodom, dan perang saudara yang hampir memusnahkan suku Benyamin.
Renungan ini mengajak kita melihat gambaran dari rangkaian peristiwa itu. Bagaimana satu dosa kecil yang dibiarkan berubah menjadi kehancuran nasional.
Dalam hal ini Tuhan memakai kasus yang tampaknya sepele untuk mempermalukan seluruh Israel. Yang lebih mengejutkan lagi: bagaimana dosa yang dimulai di ruang ibadah pribadi berakhir dengan pembantaian massal antar saudara.
1. Awalnya Tampak Kecil:
Hakim-Hakim 17 Baca di sini
Kisah dimulai dengan seorang pria bernama Mikha. Ia mencuri uang ibunya sebanyak 1.100 syikal perak. Jumlah yang sangat besar pada zaman itu. Ketika ia mengembalikannya, ibunya berkata akan mempersembahkannya kepada TUHAN.
Namun yang terjadi justru ironis. Mereka bersama-sama membuat patung pahatan dan patung tuangan berhala yang jelas-jelas dilarang dalam Keluaran 20:4-5.
Mereka menyebut nama TUHAN, tapi melanggar perintah-Nya yang paling mendasar.
Lalu Mikha melakukan sesuatu yang lebih berbahaya lagi, meskipun terlihat tidak mengancam. Ia membuat “rumah allah” pribadi lengkap dengan efod dan terafim.
Bahkan ia mengangkat salah satu anaknya menjadi imam, padahal ia bukan dari keturunan Lewi.
Kemudian ia menemukan seorang Lewi pengembara dari Betlehem Yehuda. Orang Lewi ini seharusnya melayani di Bait Allah.
Seharusnya ia menjadi pengajar Taurat bagi umat. Tapi ia malah berkelana mencari nafkah.
Mikha berkata kepadanya:
“Tinggallah padaku, jadilah bapa dan imam bagiku, maka aku akan memberikan kepadamu sepuluh syikal perak setahun, sepotong pakaian dan makananmu.” (Hakim-Hakim 17:10)
Imam itu setuju. Dia menjual imamatnya demi upah bulanan dan jaminan hidup.
Mikha senang sekali. Ia berkata: “Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN akan berbuat baik kepadaku, sebab aku mempunyai seorang orang Lewi menjadi imam.” (Hakim-Hakim 17:13)
Di sini, dosa belum terlihat mengerikan. Tidak ada pembunuhan. Tidak ada kekerasan. Tidak ada perang. Yang ada hanya penyimpangan ibadah, campuran keagamaan, dan imam yang kehilangan integritas.
Namun justru inilah akar dari kehancuran yang akan datang ketika :
- Penyembahan yang benar diselewengkan, moral bangsa akan menyimpang
- Para pemimpin rohani kehilangan keberanian dan ketegasan, bangsa mulai kehilangan arah.
- Imam lebih mencari keuntungan daripada kebenaran, umat akan kehilangan kompas moral mereka.
2. Suku Dan Mencuri Imam dan Patung Mikha
Hakim-Hakim 18 Baca di sini
Suku Dan sedang mencari tanah baru. Mereka seharusnya menaklukkan wilayah yang dijanjikan Tuhan. Tapi mereka gagal. Sekarang mereka berkelana mencari tempat yang lebih mudah untuk ditaklukkan.
Dalam perjalanan itu, lima pengintai suku Dan singgah di rumah Mikha. Mereka mengenali suara imam muda itu, sang Lewi yang dulu dari Betlehem. Mereka bertanya apa yang ia lakukan di sana.
Setelah pengintaian berhasil, 600 orang bersenjata dari Dan datang kembali. Kali ini mereka tidak hanya lewat. Mereka masuk dan mencuri:
- Patung pahatan
- Patung tuangan
- Efod
- Terafim
- Dan yang paling parah: imamnya sekalian
Ketika imam itu protes, mereka membujuknya:
“Lebih baik mana bagimu, menjadi imam bagi satu rumah atau menjadi imam bagi suku dan kaum di Israel?” (Hakim-Hakim 18:19)
Dan imam itu? Dengan senang hati ia mengikuti mereka. Tidak ada penolakan. Tidak ada perlawanan. Ia bahkan membawa semua perlengkapan berhala itu dengan riang.
Mikha mengejar mereka dengan tetangganya, tapi sia-sia. Orang-orang Dan mengancam akan membunuh dia dan keluarganya jika terus mengejar.
Akhirnya, suku Dan mendirikan pusat penyembahan berhala resmi di kota Lais (yang mereka namakan Dan). Patung yang dicuri dari Mikha itu berdiri di sana sepanjang masa, bahkan sampai masa pembuangan.
Inilah yang terjadi ketika dosa ibadah tidak ditegur. Ia tidak berhenti. Ia menyebar.
Lihat polanya:
→ Dosa ibadah menjadi dosa budaya
→ Dosa budaya menjadi dosa moral
→ Dosa moral menjadi kehancuran sosial
→ Kehancuran sosial menjadi bencana nasional
Dan benar saja, bab berikutnya menunjukkan bagaimana kejatuhan moral itu meledak dengan cara yang paling mengerikan.
3. Kota Gibea Meniru Sodom
Hakim-Hakim 19 Baca di sini
Seorang Lewi, bukan imam yang sama dengan kisah Mikha, tinggal di daerah pegunungan Efraim. Gundiknya meninggalkan dia dan pulang ke rumah ayahnya di Betlehem. Setelah empat bulan, sang Lewi menyusul untuk membujuknya kembali.
Dalam perjalanan pulang, mereka melewati Yebus (Yerusalem). Pelayannya menyarankan bermalam di sana, tapi sang Lewi menolak karena itu kota orang asing. Ia lebih memilih Gibea, kota Israel dari suku Benyamin.
Keputusan itu adalah kesalahan fatal.
Mereka duduk di lapangan kota, tapi tidak ada yang mau menampung mereka. Akhirnya seorang kakek tua yang seorang pendatang dari Efraim, melihat mereka dan membawa mereka ke rumahnya. Ia memperingatkan: “Jangan bermalam di lapangan!”
Di tengah malam, terjadi sesuatu yang mengerikan.
Orang-orang Gibea, yaitu: laki-laki bejat, mengepung rumah dan menggedor pintu dengan keras. Mereka berteriak kepada tuan rumah:
“Bawalah laki-laki itu ke luar, supaya kami bersetubuh dengan dia.” (Hakim-Hakim 19:22)
Ini adalah pengulangan persis dari Sodom dalam Kejadian 19. Kalimat yang sama. Kejahatan yang sama. Hanya bedanya: Sodom adalah bangsa kafir; Gibea adalah Israel umat pilihan Tuhan.
Tuan rumah keluar dan memohon: “Janganlah berbuat jahat!” Ia bahkan menawarkan anak perempuannya yang masih perawan dan gundik sang Lewi. Betapa putus asanya ia.
Namun mereka menolak. Mereka ingin laki-laki itu.
Akhirnya sang Lewi dalam tindakan yang menunjukkan betapa rendahnya nilai perempuan pada masa itu, mendorong gundiknya keluar.
Mereka memperkosa perempuan itu sepanjang malam. Bergantian. Tanpa henti. Sampai fajar menyingsing.
Ketika pagi tiba, sang gundik merangkak kembali ke pintu rumah tempat tuannya bermalam. Ia jatuh di sana. Tangannya menyentuh ambang pintu seakan mencoba masuk, mencari perlindungan yang tidak pernah ia dapatkan.
Sang Lewi membuka pintu untuk melanjutkan perjalanan. Ia berkata dengan dingin: “Bangunlah, kita pergi!”
Tidak ada jawaban. Perempuan itu sudah mati.
Lewi itu membawa tubuhnya pulang. Lalu ia melakukan sesuatu yang mengejutkan: ia memotong tubuh perempuan itu menjadi dua belas bagian dan mengirimkannya ke seluruh Israel, satu bagian untuk setiap suku.
Tindakannya ekstrem. Brutal. Tapi dalam konteks zaman itu, itu adalah tanda darurat nasional seperti membunyikan alarm kebakaran di seluruh negeri.
Ia ingin berkata:
“Lihatlah! Inilah kebobrokan kita! Sodom sudah lahir di tengah-tengah Israel! Ini bukan lagi dosa individu, tapi ini penyakit bangsa!”
Dan Israel pun gemetar. Mereka berkata:
“Belum pernah terjadi dan belum pernah dilihat yang seperti ini, sejak orang Israel keluar dari tanah Mesir sampai hari ini.” (Hakim-Hakim 19:30)
Seluruh bangsa berkumpul, mulai dari Dan sampai Bersyeba, untuk menuntut keadilan.

4. Perang Saudara Pun Pecah
Hakim-Hakim 20 Baca di sini
Sebanyak 400.000 orang Israel berkumpul di Mizpa. Mereka mendengar kesaksian sang Lewi. Lalu mereka mengutus utusan ke seluruh wilayah Benyamin dengan tuntutan:
“Serahkan orang-orang dursila itu, supaya kami menghukum mati mereka dan membuang kejahatan itu dari Israel.” (Hakim-Hakim 20:13)
Tuntutan yang adil. Tuntutan yang sesuai dengan hukum Taurat.
Namun inilah titik paling kelam dari seluruh kisah: Benyamin menolak.
Mereka tidak menyesal. Mereka tidak menyerahkan para pelaku. Bahkan mereka bersiap untuk berperang melawan saudara mereka sendiri.
Sebanyak 26.000 orang Benyamin berkumpul untuk membela kota Gibea yang berdosa. Mereka memilih solidaritas kesukuan di atas kebenaran. Mereka memilih membela kejahatan daripada bertobat.
Ini bukan sekadar persoalan politik. Ini adalah pilihan moral yang fatal.
Israel bertanya kepada Tuhan: “Siapakah yang harus maju lebih dahulu?”
Tuhan menjawab: “Yehuda.” (Hakim-Hakim 20:18)
Perang dimulai. Dan hasilnya mengejutkan: Israel kalah. Dalam hitungan 22.000 orang mati di hari pertama.
Mereka menangis di hadapan Tuhan dan bertanya lagi: “Apakah kami harus maju lagi?”
Tuhan berkata: “Majulah!”
Mereka maju lagi di hari kedua. Dan mereka kalah lagi. Sejumlah 18.000 orang mati.
Mengapa Tuhan mengizinkan mereka kalah dua kali?
Karena seluruh Israel juga berdosa. Mereka membiarkan penyembahan berhala tumbuh. Mereka membiarkan Gibea menjadi seperti Sodom. Mereka dulu tidak peduli, tapi sekarang mereka harus belajar bahwa dosa itu serius.
Di hari ketiga, setelah berpuasa dan mempersembahkan korban, mereka maju lagi. Kali ini dengan strategi penyergapan. Dan kali ini mereka menang.
Bila dihitung maka sebanyak 25.000 prajurit Benyamin tewas. Hanya menyisakan 600 orang yang selamat dan melarikan diri ke batu Rimon.
Seluruh kota Benyamin : baik pria, wanita, anak-anak, hewan ternak, dimusnahkan dengan api.
Perang saudara yang pahit. Brutal. Merobek tubuh bangsa Israel.
Benyamin hampir punah dari muka bumi.

