Skip to content
VeniSancteSpiritus  Blog Kristosentris VeniSancteSpiritus Blog Kristosentris

Ex • De • Pro Christo

  • Beranda
  • Apa Yang Baru?
  • Daftar Isi Semua Artikel
  • Renungan
  • Teologi
  • Apologetika
    • Seri Apologetika
  • Tokoh-Tokoh Alkitab
  • Kesaksian Hidup
  • Lagu Rohani
  • Inspirasi Bergambar
  • Tentang Penulis
  • Teologi Penulis
  • Kontak
VeniSancteSpiritus  Blog Kristosentris
VeniSancteSpiritus Blog Kristosentris

Ex • De • Pro Christo

Mengapa Yesus Berbicara dalam Bahasa Simbolis?

July 21, 2025November 27, 2025

(Dan Mengapa Ini Bukan Cara Mengaburkan, Tapi Cara Menyatakan Kebenaran dengan Bijak)

Kita sering bertanya: kenapa Yesus tidak langsung berkata, “Akulah Tuhan dan sembahlah Aku”?
Kenapa Ia berbicara dalam simbol-simbol seperti “roti”, “terang”, “pintu”?
Apakah Ia ingin menyembunyikan sesuatu?
Apakah Ia ragu pada siapa diri-Nya?

❌ Tidak.

Jawabannya bukan karena keraguan.
Tapi karena Yesus tahu konteks budaya, hukum Yahudi, dan risiko mengatakan “Aku Tuhan” secara langsung.
Ia tidak ingin menimbulkan penolakan dini terhadap-Nya, tetapi ingin menyatakan identitas-Nya dengan cara yang bijak, tepat, dan penuh hikmat.

1. Karena Ia Tahu Risiko Mengatakan “Aku Tuhan”

📖 “Barangsiapa mengucapkan sumpah serapah terhadap nama TUHAN, ia harus dihukum mati; segenap jemaah harus melemparinya dengan batu (Imamat 24:16).

1️⃣ Ketika Yesus berkata, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30), orang-orang Yahudi langsung mengambil batu untuk melempar-Nya (Yohanes 10:31).
2️⃣ Ketika Ia berkata, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yohanes 8:58), mereka bersiap melempar Dia dengan batu, karena Ia menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang kekal. Kalau zaman sekarang bisa dikatakan Yesus melakukan penistaan terhadap Allah yang disembah mereka.

Yesus tidak takut pada kematian.
Ia tahu waktunya belum tiba.
Karena itu, Ia berbicara dalam simbol.
Bukan untuk menyembunyikan kebenaran,
Tapi untuk menyatakannya dengan cara yang tidak langsung memicu penolakan,
Agar orang punya waktu untuk merenung, mencari, dan percaya.


2. Karena Ia Berbicara dalam Bahasa yang Dimengerti Orang Yahudi

Yesus tidak hidup dalam ruang hampa.
Ia muncul dalam konteks budaya dan iman Yahudi, sebuah bangsa yang memiliki simbol-simbol rohani yang kaya.

Ia tahu makna roti dalam budaya mereka sebagai simbol pemeliharaan Allah.
Ia tahu makna terang sebagai simbol kehadiran Allah.
Ia tahu makna gembala sebagai simbol kepemimpinan yang penuh kasih.

Karena itu, Ia tidak menciptakan simbol baru.
Ia mengambil simbol-simbol yang sudah ada, dan memberi makna baru untuk menjelaskan keilahian-Nya.


Contoh Konkret: Simbol “Gembala” dalam Budaya Yahudi

📖 “Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku dan Aku akan membiarkan mereka berbaring, demikianlah firman Tuhan Allah.” (Yehezkiel 34:15)

Bandingkan dengan:

📖 Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yohanes 10:11)

Yesus menyatakan diri-Nya sebagai “gembala yang baik” untuk menggambarkan bahwa Ia adalah gembala yang sempurna , yang rela mati untuk domba-domba-Nya, yang tidak memperkaya diri, dan yang tidak membiarkan domba-domba-Nya tersesat.

Ahli teologi Timur Tengah Kenneth E. Bailey dalam bukunya “Jesus Through Middle Eastern Eyes” menulis:

“Di Timur Tengah kuno, gembala adalah simbol kasih yang tidak terbatas. Seorang gembala yang baik dikenal karena rela mati untuk dombanya. Ketika Yesus berkata, ‘Aku adalah gembala yang baik’, Ia menyatakan bahwa Ia adalah pemimpin yang sempurna, bukan hanya guru, bukan hanya Mesias, tetapi Allah yang menyatakan diri-Nya dalam kerendahan.”

Ini adalah klaim ilahi yang disampaikan dalam bahasa yang bisa dimengerti oleh orang Yahudi tanpa langsung memicu penolakan.


3. Simbol Bukan untuk Menyembunyikan, Tapi untuk Mengundang

Baca Juga:

  • Yesus Mengaku sebagai Tuhan: Penegasan Keilahian dalam Injil Yohanes
  • Mazmur 110, Yesaya 53, dan Lukas 24:44–46: Gambaran Utama Mesias dalam Rencana Keselamatan Allah

Yesus tidak menggunakan simbol karena Ia takut atau ragu.
Ia menggunakan simbol karena Ia ingin mengajak orang untuk mencari, merenung, dan percaya.

Ketika Ia berkata, “Akulah pintu”, Ia tidak hanya menyatakan siapa Dia.
Ia membuka pertanyaan: “Apa maksud-Nya dengan pintu?”, “Bagaimana mungkin seseorang menjadi pintu?”, “Apa artinya masuk melalui Dia?”

Simbolis adalah bahasa yang digunakan Yesus untuk mengajak dialog rohani.
Ia tidak menutup pintu dengan klaim mentah, tetapi membuka jalan bagi orang untuk mencari kebenaran lebih dalam.

Ahli Perjanjian Baru Joachim Jeremias dalam bukunya “New Testament Theology” menulis:

“Bahasa simbolis Yesus bukanlah retorika kosong, tetapi cara yang bijak untuk menyatakan kebenaran ilahi dalam konteks budaya yang sangat peka terhadap penghujatan. Simbol itu adalah jembatan antara Allah dan manusia bukan penghalang.”

4. Simbol: Jalan Bijak Menyatakan Identitas Ilahi

Kata “Aku adalah” (Ego Eimi) bukan hanya klaim identitas biasa.
Kata ini mengacu pada Keluaran 3:14, ketika Allah menyatakan nama-Nya kepada Musa:

“Aku adalah Aku.”

Dalam terjemahan Yunani dari Perjanjian Lama (LXX), ini dinyatakan sebagai “Ego eimi ho ōn” adalah “Aku adalah Dia yang ada.”
Dengan menggunakan frasa ini, Yesus menyatakan bahwa Dialah Allah yang kekal, yang datang dalam rupa manusia.

Tapi Ia tidak mengatakannya secara langsung. Ia menyatakannya dalam simbol agar tidak langsung ditolak.

📖 “Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” (Lukas 7:23)

Kesimpulan

Yesus menggunakan bahasa simbolis karena Ia tahu risiko mengatakan “Aku Tuhan”, Ia tahu konteks budaya dan iman Yahudi, dan Ia tahu cara terbaik menyatakan identitas-Nya tanpa langsung ditolak.

Tapi di balik setiap simbol itu, ada klaim ilahi yang tidak bisa diabaikan.
Simbol bukan penghalang kebenaran.
Simbol adalah jembatan menuju kebenaran yang lebih dalam.


Penutup

Jika Anda ingin melanjutkan membaca, di artikel berikutnya kita akan melihat tujuh kali Yesus berkata, “Aku adalah…”, dan mengapa setiap kata itu adalah pintu menuju identitas-Nya sebagai Allah yang menyatakan diri.

Anda akan menemukan:

  • Makna simbol dalam konteks budaya Yahudi,
  • Ayat-ayat Perjanjian Lama yang digenapi,
  • Makna teologis yang jarang dibahas tapi penting,
  • Mengapa angka tujuh tidak kebetulan tapi penuh makna ilahi.
Yesus dan Bahasa Simbolis dalam Injil Yohanes

Tafsiran dan Studi Bahasa Asli:

  1. Ego Eimi dalam Alkitab (BibleHub)
  2. BibleGateway.com
  3. Blue Letter Bible – Greek Word Study

Apologetika Seri Apologetika

Post navigation

Previous post
Next post

  • Dari Tirza ke Maria: Janji Digenapi Dalam Kristus
  • 40 Tahun Tanpa Pengampunan Dosa
  • Bait Allah dan Shalom dalam Kisah Alkitab (Bagian 3)
  • Mempertahankan Ketaatan
  • Bait Allah dan Shalom dalam Kisah Alkitab (Bagian 2)

©2026 VeniSancteSpiritus Blog Kristosentris | WordPress Theme by SuperbThemes