Skip to content
VeniSancteSpiritus  Blog Kristosentris VeniSancteSpiritus Blog Kristosentris

Ex • De • Pro Christo

  • Beranda
  • Apa Yang Baru?
  • Daftar Isi Semua Artikel
  • Renungan
  • Teologi
  • Apologetika
    • Seri Apologetika
  • Tokoh-Tokoh Alkitab
  • Kesaksian Hidup
  • Lagu Rohani
  • Inspirasi Bergambar
  • Tentang Penulis
  • Teologi Penulis
  • Kontak
VeniSancteSpiritus  Blog Kristosentris
VeniSancteSpiritus Blog Kristosentris

Ex • De • Pro Christo

Membela Iman dengan Akal Sehat, Bukan Emosi

January 11, 2026January 12, 2026

Diskusi tentang iman seringkali memicu reaksi yang beragam. Ada yang tenang dan terbuka, ada pula yang defensif dan penuh emosi. Dalam dunia apologetika Kristen, kita tidak jarang menghadapi tantangan untuk membela iman sambil menjawab berbagai keberatan yang datang dari lawan bicara.

Pertanyaan pentingnya: apakah setiap bantahan yang kita hadapi layak untuk ditanggapi dengan serius? Ternyata tidak. Banyak bantahan yang muncul bukan dari keingintahuan yang tulus, melainkan dari emosi, prasangka, atau penolakan terhadap fakta yang sudah jelas.

Artikel ini akan mengajak kita memahami perbedaan antara bantahan kosong dan sikap rasional berbasis fakta. Kita juga akan melihat bagaimana seorang pengikut Kristus dapat menerapkan pendekatan apologetika yang sehat, efektif, dan penuh kasih.

Mengapa Rasionalitas Penting dalam Membela Iman?

Apologetika sering disalahpahami sebagai arena debat untuk membuktikan siapa yang lebih pintar. Padahal, esensi apologetika adalah bentuk kasih yang menjawab keraguan dengan pengertian, bukan dengan amarah atau arogansi.

Rasul Petrus memberikan panduan yang sangat jelas tentang hal ini dalam suratnya:

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan. Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada setiap orang yang meminta pertanggungjawaban dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi harus dengan lemah lembut dan hormat.”

1 Petrus 3:15

Ayat ini mengandung dua dimensi penting yang harus kita pegang:

Pertama, kesiapan memberi jawaban. Ini berarti kita harus memahami fakta, argumen, dan dasar-dasar iman dengan baik. Kita tidak bisa hanya mengandalkan perasaan atau pengalaman pribadi semata. Pengetahuan yang solid tentang Alkitab, sejarah gereja, dan argumen filosofis sangat diperlukan.

Kedua, sikap lemah lembut dan hormat. Artinya, cara kita menyampaikan kebenaran sama pentingnya dengan kebenaran itu sendiri. Kita tidak perlu membantah dengan emosi yang meluap, menyerang pribadi lawan bicara, atau merendahkan pendapat mereka.

Rasionalitas dalam apologetika bukanlah sikap dingin yang tanpa perasaan. Justru sebaliknya, rasionalitas adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap lawan bicara dan terhadap kebenaran itu sendiri. Ketika kita bersikap rasional, kita menunjukkan bahwa kita menghargai akal budi yang Tuhan berikan dan menghormati martabat orang yang berbicara dengan kita.

Apa Bedanya Bantahan Kosong dengan Sikap Rasional?

Tidak semua bantahan diciptakan setara. Ada bantahan yang didasarkan pada keinginan tulus untuk memahami, dan ada pula yang hanya ingin memenangkan pertengkaran. Mari kita lihat perbedaan mendasar antara keduanya:

Dari Segi Tujuan

Bantahan kosong bertujuan untuk memenangkan debat dengan cara apa pun. Yang penting menang, bukan menemukan kebenaran. Orang yang melakukan bantahan kosong seringkali sudah memiliki kesimpulan sejak awal dan tidak tertarik untuk mengubahnya.

Sebaliknya, sikap rasional memiliki tujuan mulia: menemukan kebenaran bersama-sama. Bahkan jika itu berarti kita harus mengakui kesalahan atau mengubah pandangan kita, itu tidak masalah. Yang terpenting adalah kebenaran ditemukan.

Dari Segi Dasar Argumen

Bantahan kosong biasanya didasarkan pada emosi, asumsi yang tidak teruji, atau bahkan rumor. Jarang sekali ada data konkret atau sumber yang kredibel. Kalimat seperti “Semua orang tahu itu!” atau “Jelas-jelas begitu!” sering muncul tanpa ada bukti nyata.

Sikap rasional berbeda. Setiap klaim didukung dengan fakta yang bisa diverifikasi, logika yang jelas, dan sumber yang kredibel. Jika ada kesalahan dalam logika atau data, orang dengan sikap rasional akan dengan senang hati memperbaikinya.

Dari Segi Respons terhadap Koreksi

Ketika dikritik atau dikoreksi, orang dengan bantahan kosong cenderung defensif. Mereka menolak koreksi, bahkan ketika bukti sangat jelas. Ego mereka lebih penting daripada kebenaran.

Orang dengan sikap rasional? Mereka terbuka terhadap kritik. Mereka bahkan berterima kasih ketika kesalahan mereka ditunjukkan, karena itu berarti mereka bisa belajar sesuatu yang baru. Mengakui kesalahan bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kematangan intelektual.

Dari Segi Gaya Komunikasi

Bantahan kosong seringkali agresif. Orang yang melakukannya cenderung menyerang pribadi, menggunakan kata-kata kasar, atau menutup diri dari dialog. Mereka ingin menyudutkan lawan bicara, bukan memahami sudut pandangnya.

Sikap rasional justru terbuka dan analitis. Komunikasi dilakukan dengan transparan, pertanyaan diajukan dengan tulus, dan argumen dijelaskan dengan jelas. Tidak ada agenda tersembunyi atau serangan pribadi.

Dari Segi Hasil Akhir

Bantahan kosong biasanya berakhir dengan kebuntuan. Kedua pihak tetap pada pendiriannya masing-masing, hubungan jadi rusak, dan frustrasi meningkat. Tidak ada yang mendapatkan manfaat dari diskusi tersebut.

Sikap rasional menghasilkan sesuatu yang berbeda. Bahkan jika tidak ada kesepakatan penuh, setidaknya ada pemahaman yang lebih dalam tentang posisi masing-masing. Kepercayaan meningkat, dan pintu dialog tetap terbuka untuk diskusi di masa depan.

Dalam konteks Kristen, sikap rasional bukan sekadar strategi debat yang efektif. Ia adalah cerminan karakter Kristus yang penuh kasih, sabar, dan bijaksana. Paulus mengingatkan kita dalam Kolose 4:6:

“Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.”

Kolose 4:6

AspekBantahan KosongRasional Fakta
TujuanMenang debat, gengsiKebenaran, integritas
Dasar ArgumenEmosi, opini, tanpa buktiFakta, sumber kredibel, logika
Respons KoreksiMembantah, defensifTerima kesalahan, perbaiki

Bagaimana Proses Berpindah dari Emosi ke Rasionalitas?

Tidak ada yang langsung sempurna dalam berapologetika. Kita semua pernah terjebak dalam bantahan kosong, entah karena kita merasa diserang atau karena kita belum cukup dewasa dalam cara berdiskusi. Namun, ada proses yang bisa membantu kita bertransformasi dari pembantah kosong menjadi apologet yang rasional.

Tahap 1: Mulai dengan Diskusi Biasa

Setiap percakapan dimulai dari titik yang netral. Biasanya ada pertanyaan, keberatan, atau keingintahuan tentang iman Kristen. Ini adalah momen yang sangat berharga karena seseorang membuka diri untuk berdialog.

Tahap 2: Muncul Bantahan Kosong

Pada tahap ini, emosi mulai mendominasi. Klaim-klaim dilontarkan tanpa bukti. Argumen didasarkan pada “kata orang” atau “saya rasa”. Diskusi mulai memanas dan fokusnya bergeser dari mencari kebenaran menjadi memenangkan pertengkaran.

Tahap 3: Titik Kesadaran

Di sinilah momen penting terjadi. Salah satu atau kedua pihak menyadari bahwa diskusi sudah tidak produktif. Muncul pertanyaan dalam hati: “Apakah yang saya katakan ini benar-benar fakta, atau hanya asumsi saya?” Kesadaran ini adalah titik balik yang sangat krusial.

Tahap 4: Verifikasi Fakta

Setelah sadar, langkah selanjutnya adalah mengecek kembali semua klaim yang sudah disampaikan. Apakah ada bukti yang mendukung? Apakah sumbernya kredibel? Dalam konteks Kristen, kita bisa merujuk ke Alkitab, sejarah gereja, dokumen-dokumen kuno, atau penelitian ilmiah yang relevan.

Amsal memberikan nasihat bijak tentang pentingnya verifikasi:

“Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.”

Amsal 18:13

Tahap 5: Pengakuan Kesalahan

Ini adalah tahap yang paling sulit bagi banyak orang. Ketika fakta menunjukkan bahwa kita salah, apakah kita berani mengakuinya? Orang yang memiliki bantahan kosong akan terus membantah meskipun bukti sudah jelas. Tapi orang yang rasional akan dengan rendah hati berkata, “Saya salah. Terima kasih sudah mengoreksi saya.”

Pengakuan kesalahan bukanlah tanda kelemahan. Justru sebaliknya, ini adalah tanda kekuatan karakter dan kejujuran intelektual.

Tahap 6: Mengembangkan Sikap Rasional

Setelah melewati pengalaman mengakui kesalahan, kita mulai mengembangkan kebiasaan baru: menempatkan fakta di atas emosi, bersikap terbuka dalam diskusi, dan transparan dalam menyampaikan argumen.

Tahap 7: Hasil yang Sehat

Akhirnya, diskusi menghasilkan buah yang baik. Pemahaman menjadi lebih dalam, kepercayaan antarindividu meningkat, dan pintu untuk percakapan selanjutnya tetap terbuka. Bahkan jika tidak ada kesepakatan, setidaknya ada rasa hormat yang tumbuh.

Bukan semua orang yang bersuara keras itu benar, dan bukan semua orang yang tenang itu lemah.

Kebenaran bertumbuh bukan dari emosi, tetapi dari kerendahan hati untuk belajar.

TahapUraian
Mulai DiskusiMemulai percakapan dengan tujuan memahami klaim.
Bantahan KosongEmosi dominan, klaim tanpa bukti.
Titik KesadaranMenyadari kebuntuan, muncul pertanyaan “Apakah ini fakta?”.
Verifikasi FaktaCek sumber kredibel, bandingkan lintas media.
Pengakuan KesalahanBerhenti membantah, mengakui perubahan fakta.
Sikap RasionalFakta di atas emosi, diskusi terbuka & transparan.
Hasil SehatPemahaman lebih dalam, kepercayaan meningkat.

Studi Kasus: Menghadapi Keberatan tentang Kebangkitan Yesus

Mari kita lihat contoh praktis bagaimana sikap rasional diterapkan dalam apologetika. Bayangkan kita sedang berdiskusi dengan seseorang yang skeptis tentang kebangkitan Yesus. Dia berkata dengan nada yakin, “Kebangkitan Yesus itu hoaks! Tidak ada bukti sejarah yang mendukungnya. Semua itu hanya dongeng yang dibuat-buat oleh para pengikutnya.”

Respons dengan Bantahan Kosong

Jika kita merespons dengan emosi dan bantahan kosong, kita mungkin akan berkata:

  1. “Kamu menghina iman saya! Itu sangat menyakitkan!”
  2. “Kamu tidak tahu apa-apa tentang kekristenan!”
  3. “Semua orang yang pintar tahu kebangkitan Yesus itu nyata!”

Respons seperti ini tidak membantu sama sekali. Justru memperburuk situasi dan menutup pintu dialog.

Respons dengan Sikap Rasional

Sebaliknya, pendekatan rasional akan terlihat seperti ini:

1️⃣ “Terima kasih sudah berbagi pendapat Anda. Saya mengerti keraguan Anda. Mari kita lihat bukti-bukti sejarah yang ada.”

2️⃣ “Apakah Anda sudah membaca catatan dari sejarawan Romawi seperti Tacitus dan Josephus? Mereka mencatat tentang Yesus dan pengikut-pengikutnya meskipun mereka bukan orang Kristen.”

3️⃣ “Ada dokumen-dokumen dari gereja awal, seperti surat-surat Paulus yang ditulis hanya sekitar 20 tahun setelah peristiwa kebangkitan. Ini sangat dekat secara historis.”

4️⃣ “Peneliti seperti Gary Habermas telah mengumpulkan konsensus dari ratusan sarjana, termasuk yang skeptis, tentang fakta-fakta minimal seputar kebangkitan. Apakah Anda tertarik untuk membahas itu?”

5️⃣ “Saya tidak tersinggung dengan pertanyaan Anda. Justru saya senang kita bisa memeriksa fakta bersama-sama.”

Pendekatan ini tidak hanya membela iman, tetapi juga membuka pintu untuk dialog yang konstruktif. Kita menunjukkan bahwa iman Kristen memiliki dasar historis yang kuat, dan kita bersedia membahasnya dengan cara yang terbuka.

Alkitab sendiri mendorong kita untuk bersikap bijak dalam menghadapi orang lain:

“Orang bebal tidak suka kepada pengertian, hanya suka menyatakan isi hatinya.”

Amsal 18:2

Kita dipanggil untuk bukan menjadi “orang bebal” yang hanya ingin bicara tanpa mendengar, tetapi menjadi orang bijak yang mau berpikir dan berdialog.

“Historians employ a number of common-sense principles in assessing the strength of a testimony. Testimony attested to by multiple independent witnesses is usually considered stronger than the testimony of one witness.”

Gary Habermas

Habermas menekankan bahwa kebenaran menjadi lebih kuat bila didukung oleh banyak bukti dan saksi yang independen. Prinsip ini sejalan dengan pesan Alkitab tentang memberi jawaban dengan kasih: jawaban yang sehat bukan hanya lembut dalam sikap, tetapi juga kokoh dalam fakta.

Mengelola Tantangan Emosional dalam Apologetika

Sebagai manusia, kita tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari emosi. Ketika iman kita diserang, keyakinan kita dipertanyakan, atau Tuhan yang kita kasihi dihina, wajar jika kita merasa marah, sedih, atau tersinggung. Emosi adalah bagian dari kemanusiaan kita.

Namun, dalam praktik apologetika, kita diajak untuk mengendalikan emosi dan mengutamakan kebenaran. Ini bukan berarti kita menjadi robot tanpa perasaan, melainkan kita belajar untuk tidak dikuasai oleh emosi.

Teladan Yesus

Yesus adalah contoh terbaik dalam hal ini. Ketika diserang oleh orang-orang Farisi yang ingin menjebak-Nya, Yesus tidak membalas dengan kemarahan atau cacian. Sebaliknya, Dia merespons dengan pertanyaan yang menggugah dan jawaban yang penuh hikmat.

Ketika ditanya tentang pajak kepada Kaisar dalam Matius 22:17-21, Yesus tidak langsung membela diri atau marah. Dia bertanya balik, “Gambar siapa ini?” lalu memberikan jawaban yang bijak: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Yesus menunjukkan bahwa kebenaran tidak perlu berteriak.
Ia cukup berdiri tegak dengan sendirinya.

Prinsip Pengendalian Emosi

Berikut beberapa prinsip praktis untuk mengelola emosi dalam apologetika:

Berhenti sejenak. Ketika merasa terprovokasi, ambil napas dalam-dalam dan berhenti sejenak sebelum merespons. Jangan langsung bereaksi.

Ingat tujuan Anda. Tujuan apologetika adalah membawa orang pada kebenaran dan pada Kristus, bukan memenangkan pertengkaran. Ingatkan diri Anda tentang hal ini.

Doakan lawan bicara. Sebelum atau bahkan selama diskusi, doakan orang yang berbicara dengan Anda. Ini akan melembutkan hati Anda dan membantu Anda melihat mereka sebagai pribadi yang Tuhan kasihi.

Pisahkan serangan terhadap iman dari serangan pribadi. Seringkali, kritik terhadap kekristenan bukanlah serangan terhadap Anda secara pribadi. Jangan mengambilnya terlalu pribadi.

Prinsip-Prinsip Praktis Rasionalitas dalam Apologetika Kristen

Untuk membantu kita menerapkan sikap rasional, berikut adalah lima prinsip yang bisa dipegang dalam praktik apologetika sehari-hari:

1. Verifikasi Sebelum Menyimpulkan

Jangan langsung menyebut sesuatu sebagai hoaks, kesalahan, atau kebenaran tanpa bukti yang cukup. Lakukan riset terlebih dahulu. Cek sumber-sumber yang kredibel. Bandingkan informasi dari berbagai perspektif.

Alkitab mengajarkan kita untuk menjadi orang yang bijaksana dalam mencari kebenaran:Amsal 12:15

“Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi orang yang mendengarkan nasihat adalah bijak.”

Amsal 12:15

2. Pisahkan Fakta dari Opini

Fakta adalah sesuatu yang bisa diverifikasi dan dibuktikan. Opini adalah pandangan pribadi yang bisa berbeda-beda antarindividu. Jangan mencampuradukkan keduanya.

Ketika berapologetika, pastikan kita jelas mana yang fakta dan mana yang opini. Jika kita menyampaikan opini, akui bahwa itu adalah perspektif pribadi, bukan kebenaran absolut.

3. Berani Mengakui Kesalahan

Ini adalah salah satu prinsip yang paling sulit, tetapi juga paling penting. Ketika kita salah, akui dengan jujur. Jangan mencoba menutupi atau mencari pembenaran. Pengakuan kesalahan adalah tanda kematangan dan integritas.

Yakobus mengingatkan kita :
Yakobus 5:16

“Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”

Yakobus 5:16

Meskipun ayat ini berbicara tentang dosa, prinsip pengakuan kesalahan juga berlaku dalam konteks intelektual dan apologetika.

4. Utamakan Kasih dalam Setiap Debat

Ingatlah bahwa tujuan akhir kita adalah kasih, bukan kemenangan. Paulus mengingatkan kita dalam 1 Korintus 13:1:

“Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.”

1 Korintus 13:1

Betapa pun pintarnya argumen kita, jika tidak disampaikan dengan kasih, itu hanya akan menjadi bunyi yang mengganggu.

5. Gunakan Sumber yang Kredibel

Dalam era informasi yang melimpah ini, kita harus selektif dalam memilih sumber. Gunakan Alkitab sebagai fondasi utama, tetapi juga manfaatkan sumber-sumber lain yang kredibel seperti:

  • Tulisan para bapa gereja awal
  • Penelitian akademis dari sarjana teologi dan sejarah
  • Dokumen-dokumen historis yang sudah diverifikasi
  • Media dan publikasi yang terpercaya

Hindari sumber-sumber yang tidak jelas asal-usulnya atau yang memiliki agenda tertentu tanpa dasar faktual.

Apologetika sebagai Cermin Karakter Kristus

Pada akhirnya, apologetika bukan hanya soal menyusun argumen yang kuat atau memenangkan debat. Apologetika adalah cermin dari karakter Kristus dalam diri kita. Ketika kita membela iman dengan sikap rasional, penuh kasih, dan rendah hati, kita menunjukkan kepada dunia bahwa iman Kristen bukan sekadar dogma yang kaku.

Kekristenan adalah kebenaran yang bisa diuji, dipertanggungjawabkan, dan dijelaskan dengan cara yang masuk akal. Lebih dari itu, kebenaran ini disampaikan dengan kasih yang tulus, bukan dengan arogansi atau kekerasan.

Yesus berkata dalam Yohanes 13:35:

“Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”

Yohanes 13:35

Kasih adalah tanda pengenal utama seorang murid Kristus. Jika apologetika kita tidak disertai kasih, maka sia-sialah semua argumen kita.

Menjadi Suara yang Tenang di Tengah Kebisingan

Dunia saat ini penuh dengan kebisingan. Banyak orang berbicara, tetapi sedikit yang benar-benar mendengarkan. Banyak yang membantah, tetapi sedikit yang mencari kebenaran. Di tengah hiruk-pikuk ini, kita sebagai pengikut Kristus dipanggil untuk menjadi suara yang berbeda.

Kita dipanggil untuk menjadi suara yang tenang, jernih, dan penuh hikmat. Kita tidak perlu berteriak untuk didengar. Kita tidak perlu menyerang untuk membela iman. Yang kita butuhkan adalah sikap rasional yang didasarkan pada kebenaran, disampaikan dengan kasih, dan dibungkus dengan kerendahan hati.

Ketika kita melakukan ini, kita tidak hanya membela iman kita, tetapi kita juga menjadi saksi hidup tentang kuasa transformatif Injil. Kita menunjukkan bahwa mengikuti Kristus membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bijaksana, dan lebih penuh kasih.

Baca juga artikel lainnya:

  • Kasih Kristus Melampaui Ruang dan Waktu
  • Ketika Hati Mengalahkan Penampilan

Penutup: Kerendahan Hati dan Ketelitian Berjalan Bersama

Pepatah yang mengatakan, “Kebenaran tidak perlu berteriak, ia hanya perlu berdiri tegak,” sudah dicontohkan langsung oleh Yesus. Ini sangat relevan dalam konteks apologetika. Kita tidak perlu memaksakan iman kita kepada orang lain dengan cara yang agresif atau merendahkan.

Cukuplah kita menyajikan kebenaran dengan jelas, mendukungnya dengan fakta yang solid, dan menyampaikannya dengan sikap yang penuh hormat dan kasih. Setelah itu, biarkan Roh Kudus yang bekerja dalam hati setiap orang.

Tugas kita adalah menjadi saksi yang setia, bukan menjadi hakim yang memaksakan kehendak. Mari kita terus belajar untuk menjadi apologet yang rasional, tetapi juga penuh kasih. Mari kita belajar untuk membedakan antara bantahan kosong dan dialog yang bermakna.

Di tengah arus informasi yang berkembang cepat, kerendahan hati dan ketelitian harus selalu berjalan bersama. Apologetika Kristen bukan sekadar soal menyusun argumen yang kuat, melainkan tentang sikap intelektual yang tegas, konsisten, dan adil terhadap semua pihak.

Dengan kerendahan hati, kita berani mengakui kesalahan ketika fakta membuktikan kita keliru. Dengan ketelitian, kita menjaga agar kebenaran tidak tergelincir oleh emosi atau kepentingan pribadi. Ketika keduanya berjalan beriringan, maka apologetika menjadi cermin sejati dari karakter Kristus. Ini yang dimaksudkan dengan membela iman dengan kasih yang tulus, membangun dialog yang sehat dan bermakna, serta menegakkan kebenaran di atas gengsi atau ego kita.

Dan yang terpenting, mari kita selalu ingat bahwa di balik setiap diskusi, ada pribadi yang berharga di mata Tuhan. Orang yang berbicara dengan kita adalah seseorang yang Tuhan kasihi dan untuk siapa Kristus mati. Karena itu, kita harus memperlakukan mereka dengan martabat dan hormat yang layak mereka terima.

Dalam dunia yang penuh perpecahan dan konflik, biarlah kita menjadi agen rekonsiliasi yang membawa terang Kristus melalui apologetika yang rasional dan penuh kasih Galatia 6:2

“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”

Galatia 6:2

Membela Iman dengan Akal Sehat, Bukan Emosi

Apologetika

Post navigation

Previous post
Next post

  • Bertolak ke Tempat yang Lebih Dalam
  • Bukan Upah Melainkan Karunia
  • Mefiboset: Ketika Hidup Tidak Sempurna
  • Firman, Kebenaran, dan Keselamatan (Bagian 1 dari 3)
  • Membela Iman dengan Akal Sehat, Bukan Emosi

©2026 VeniSancteSpiritus Blog Kristosentris | WordPress Theme by SuperbThemes