Pendahuluan: Kristus sebagai Pusat Sejarah dan Iman
Kekristenan bukan lahir dari filsafat atau ideologi, melainkan dari pribadi dan peristiwa historis Yesus Kristus. Dialah pusat sejarah manusia: lahir, hidup, mati, dan bangkit. Dari Kristus kekristenan dimulai, oleh Kristus kekristenan bertahan, dan untuk Kristus segala sesuatu diarahkan (Roma 11:36).
Namun di sisi lain, banyak kritikus modern seperti Bart Ehrman¹ mencoba menafsirkan ulang akar kekristenan. Bart Ehrman dulu seorang evangelikal, tapi ia terguncang karena problem penderitaan (theodicy), lalu jadi agnostik. Fokusnya adalah : “Bagaimana teks ini sampai kepada kita?” bukan “Bagaimana Roh Kudus menjaga pewartaan Injil?”
Jadi, ketika ia membaca Alkitab, ia tidak menganggap ada “otoritas kerasulan” atau “jaminan Roh Kudus”. Ia hanya melihat manuskrip yang beragam.
Akibatnya, hubungan historis Yesus dengan 12 rasul dan gereja awal dilihatnya sebagai tradisi berkembang, bukan transmisi otoritatif.
Karena sudah kehilangan fondasi iman, ia kemudian tidak mengakui hal-hal seperti otoritas rasul atau jaminan Roh Kudus.
Dalam bukunya “Misquoting Jesus” (2005) dan “How Jesus Became God” (2014), ia berargumen bahwa Injil tidak ditulis oleh saksi mata, bukan oleh orang Yahudi, tetapi oleh penulis yang sangat lancar berbahasa Yunani, 50–60 tahun setelah peristiwa Yesus. Meskipun demikian, ia mengakui Yesus historis dan mengakui penyaliban, bahkan berkata:
“Jesus, of course, was not the only person crucified in the ancient world.”²
1. Hubungan Yesus dengan 12 Murid, 70 Murid, dan Rantai Kerasulan (Sanad)
Yesus memilih 12 murid inti (Matius 10:1-4) untuk menyertai-Nya, belajar langsung dari-Nya, dan menjadi saksi utama pelayanan-Nya. Selain itu, Yesus juga mengutus 70 murid lainnya (Lukas 10:1) untuk memberitakan Kerajaan Allah ke berbagai tempat.
Sistem ini membentuk rantai kesaksian yang kuat (sanad kerasulan):
Yesus → 12 murid → 70 murid → komunitas Kristen awal → penulisan Injil
Dalam rantai ini, kesaksian tidak terputus dan tetap dijaga oleh komunitas yang saling mengoreksi dan memverifikasi kebenaran.
Implikasi penting: Meski Injil ditulis beberapa dekade kemudian, isinya tidak lahir dari dongeng atau mitos, tetapi dari kesaksian komunitas saksi mata yang konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ehrman benar dalam satu hal karena mengakui kematian dan penyaliban Yesus adalah fakta sejarah yang solid. Semua sumber sejarah, baik Kristen maupun non Kristen (seperti Tacitus dan Josephus), mengakuinya tanpa perdebatan.
Seperti yang ditegaskan oleh apologet terkenal William Lane Craig: “The fact of Jesus’ crucifixion is one of the most certain facts of ancient history.”³
Ketika Ehrman menambahkan, “Yesus bukan satu-satunya yang disalib,” memang benar karena Romawi menyalib ribuan orang sebagai hukuman mati.
Tetapi, ada perbedaan fundamental yang sangat signifikan:
Orang lain yang disalib: Hilang dalam sejarah, terlupakan, tidak meninggalkan jejak berarti
Yesus yang disalib: Justru melahirkan gerakan global yang bertahan lebih dari 2000 tahun dan terus berkembang
Kesimpulan: Salib Yesus bukan sekadar eksekusi politik biasa, tetapi menjadi pusat iman yang mengubah dunia.
2. Salib: Fakta Historis yang Tak Terbantahkan
Ehrman benar dalam satu hal: penyaliban Yesus adalah fakta sejarah yang solid. Semua sumber sejarah, baik Kristen maupun non-Kristen (seperti Tacitus dan Josephus), mengakuinya tanpa perdebatan. Seperti yang ditegaskan oleh apologet terkenal William Lane Craig:
“The fact of Jesus’ crucifixion is one of the most certain facts of ancient history. Even the most skeptical New Testament critics acknowledge that Jesus was crucified.”³
Namun ketika Ehrman menambahkan, “Yesus bukan satu-satunya yang disalib,” memang benar. Romawi menyalib ribuan orang sebagai hukuman mati.
Tetapi, ada perbedaan fundamental yang sangat signifikan: Orang lain yang disalib: Hilang dalam sejarah, terlupakan, tidak meninggalkan jejak berarti Yesus yang disalib: Justru melahirkan gerakan global yang bertahan lebih dari 2000 tahun dan terus berkembang.
Kesimpulan: Salib Yesus bukan sekadar eksekusi politik biasa, tetapi menjadi pusat iman yang mengubah dunia.
3. Kebangkitan: Titik Balik yang Mengubah Murid-Murid
Jika Yesus hanya mati di kayu salib tanpa bangkit, logikanya murid-murid akan bubar, kembali ke pekerjaan lama mereka, dan nama Yesus akan lenyap dari sejarah seperti para pemimpin mesianis lainnya. Tetapi sejarah menunjukkan kebalikannya dengan transformasi yang luar biasa:
Transformasi Nyata Para Murid:
Petrus yang penakut → menjadi pemberita Injil yang berani sampai mati martir (Kisah Para Rasul 4:13)
Tomas yang skeptis → akhirnya berseru dengan yakin: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28)
Murid Emaus yang putus asa → justru berlari kembali ke Yerusalem dengan penuh sukacita setelah melihat Yesus bangkit (Lukas 24:33)
Paulus, penganiaya gereja → berbalik total menjadi rasul terbesar setelah berjumpa Kristus yang bangkit (Kisah Para Rasul 9)
Transformasi dramatis dan konsisten ini tidak dapat dijelaskan secara rasional kecuali dengan kebangkitan yang benar-benar terjadi. Sebagaimana dinyatakan N.T. Wright: “The only thing that explains the rise of early Christianity is the resurrection of Jesus from the dead.”⁴
4. Menanggapi Kritik Ehrman tentang Penulisan Injil
Ehrman mengajukan keberatan bahwa Injil ditulis lama setelah peristiwa oleh penulis berbahasa Yunani yang bukan orang Yahudi. Mari kita periksa faktanya:
Kekuatan Tradisi Lisan Yahudi:
Budaya Yahudi memiliki sistem transmisi lisan yang sangat kuat dan akurat
Para rabi melatih murid-murid untuk menghafal ajaran dengan presisi tinggi
Kesalahan dalam transmisi akan segera dideteksi dan dikoreksi
Kontrol Komunitas Saksi Mata:
Komunitas Kristen awal hidup berdampingan dengan para saksi mata
Mustahil Injil dapat dipalsukan tanpa mendapat bantahan keras dari saksi yang masih hidup
Sistem saling koreksi dalam komunitas menjaga akurasi kesaksian
Rantai Kerasulan (Sanad) yang Terjaga:
Paulus secara eksplisit menyatakan menerima Injil dari para rasul sebelumnya (1 Korintus 15:3-8)
Ada kontinuitas yang jelas dari Yesus ke rasul-rasul ke komunitas
Otoritas apostolik dijaga ketat dalam gereja awal
Sebagaimana dikemukakan Richard Bauckham: “The Gospels were written within the living memory of the events they narrate.”⁵
Kesimpulan: Meskipun ditulis beberapa dekade kemudian, Injil tetap lahir dari kesaksian historis yang nyata dan terverifikasi, bukan dari legenda atau mitologi.
5. Analogi: Listrik yang Nyambung vs Korslet
Ehrman dalam pendekatannya seperti sistem listrik yang mengalami korslet: ada arus historis (keberadaan Yesus dan penyaliban), tetapi kabelnya putus di titik kebangkitan. Hasilnya: lampu iman mati total.
Ia mengakui salib adalah benar secara fakta historis. Tapi di sisi lain, penolakan Ehrman atas kebangkitan Yesus adalah korslet secara logika.
Fakta sejarah + rantai kerasulan + kebangkitan → satu kesimpulan logis: Kristus sungguh bangkit, dan kekristenan berdiri di atas-Nya.
Sebaliknya, para murid seperti sistem kabel yang tersambung sempurna dengan aliran listrik yang tidak terputus:
Listrik iman ini terus menyala tanpa padam selama 2000 tahun dan terus menerangi dunia.
Gary Habermas, ahli kebangkitan terkemuka, menyatakan:
“Even the majority of critical scholars today acknowledge that the disciples had experiences they believed were appearances of the risen Jesus. The question is not whether they had these experiences, but how we should explain them.”
Prinsip teologis: Tanpa kebangkitan, iman hancur total (1 Korintus 15:14). Dengan kebangkitan, iman meledak dan menyebar ke seluruh dunia.
6. Penyebaran Injil: Dari Kristus, Oleh Kristus, Untuk Kristus
Yesus memberikan nubuatan yang kemudian menjadi misi: “Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kisah Para Rasul 1:8). Nubuatan ini digenapi secara luar biasa:
Penyebaran Geografis:
Dimulai dari Yerusalem sebagai pusat
Meluas ke Yudea dan Samaria
Mencapai Roma sebagai ibukota dunia kuno
Terus berkembang hingga ke ujung bumi
Komitmen Total Para Saksi:
Murid-murid rela mati martir demi kesaksian mereka tentang Kristus
Gereja bertahan dalam berbagai aniaya karena keyakinan bahwa Yesus benar-benar hidup
Tidak ada yang mau mati untuk kebohongan yang mereka tahu palsu
Kontinuitas Hingga Kini:
Hari ini, rantai kesaksian itu berlanjut hingga kepada kita. Kita adalah bagian dari sanad kesaksian yang dimulai dari Kristus sendiri, diteruskan melalui para rasul, gereja awal, dan tradisi iman selama dua milenia.
7. Injil: Bukan Kristenisasi, Melainkan Kesaksian Kebangkitan
Seringkali ada tuduhan kepada orang Kristen bahwa penyebaran Injil sama dengan “Yesus menyuruh pengkristenan”. Tuduhan ini kehilangan konteks. Yesus tidak pernah memerintahkan membuat “agama baru”. Ia justru berkata:
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah Para Rasul 1:8
Kata kuncinya adalah “menjadi saksi”, bukan “memaksa orang”. Apa yang mereka saksikan? Kebangkitan Kristus. Para murid tidak mengajak orang pindah agama Yahudi ke agama baru, melainkan mengumandangkan fakta bahwa Yesus yang disalib telah bangkit. Tujuannya bukan untuk memuliakan manusia, tapi supaya nama Allah Bapa dipermuliakan melalui karya Kristus:
Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan’, bagi kemuliaan Allah, Bapa!
“Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” 1 Korintus 15:14
Dengan demikian, pewartaan Injil adalah kesaksian historis dan teologis tentang kebangkitan. Ia bukan proyek kolonial, bukan kristenisasi paksa, melainkan kabar baik yang membebaskan.
Kesimpulan Apologetika
Setelah menganalisis kritik dan bukti-bukti historis, kita dapat menarik beberapa kesimpulan kuat:
Tentang Penyaliban: Benar, Yesus bukan satu-satunya yang disalib dalam sejarah. Tetapi hanya Dialah yang bangkit dari kematian dan mengubah jalannya sejarah dunia.
Tentang Penulisan Injil: Benar, Injil ditulis beberapa dekade setelah peristiwa. Tetapi melalui sistem sanad kerasulan yang ketat, kesaksian tetap asli dan dapat dipertanggungjawabkan.
Tentang Transformasi Murid: Benar, murid-murid awalnya lemah dan takut. Tetapi karena kebangkitan Yesus, hidup mereka berubah 180 derajat menjadi saksi-saksi yang berani.
Tentang Penyebaran: Gerakan Kristen tidak menyebar karena kekuatan politik atau militer, tetapi karena kekuatan kesaksian tentang Kristus yang bangkit.
Yesus Kristus adalah sumber, jalan, dan tujuan kekristenan. Tanpa Dia bangkit, iman Kristen tidak akan pernah ada. Tetapi karena Dia benar-benar hidup dan bangkit, gereja berdiri teguh selama dua milenia dan akan terus bertahan sampai akhir zaman.
Dari Kristus, oleh Kristus, untuk Kristus.
“Kristus telah bangkit! Ia benar-benar telah bangkit!” (Lukas 24:34)
Jangan biarkan iman kita korslet. Korslet iman bukan karena kurang listrik rohani, tapi karena sambungan pada Kristus longgar.
Supaya iman tetap kuat dan tidak korslet:
Rutin isi daya rohani → doa pribadi, membaca Firman, penyembahan. Bukan sekadar rutinitas, tapi membangun relasi hidup dengan Kristus (Yoh 15:5).
Kabel jangan bercabang sembarangan → jangan mencampur iman pada Kristus dengan ketergantungan pada kuasa lain, berhala modern, atau obsesi duniawi.
Periksa koneksi secara berkala → refleksi, introspeksi, dan koreksi lewat Roh Kudus. Sama seperti colokan listrik yang harus dicek, iman pun perlu diuji (2 Kor 13:5).
Hubungkan ke sumber utama, bukan colokan palsu → jangan bersandar pada figur manusia atau tradisi mati, tapi pada Kristus sendiri (Kol 2:6–7).
Kesimpulan:
Iman tidak korslet kalau selalu tersambung erat ke Sumber Aslinya, yaitu: Kristus!
Catatan Kaki
¹ Bart D. Ehrman, profesor Religious Studies di University of North Carolina, Chapel Hill, adalah salah satu kritikus terkemuka terhadap keandalan tekstual Perjanjian Baru.
² Ehrman, Bart D. How Jesus Became God: The Exaltation of a Jewish Preacher from Galilee. New York: HarperOne, 2014, hlm. 126.
³ Craig, William Lane. Reasonable Faith: Christian Truth and Apologetics. 3rd ed. Wheaton: Crossway, 2008, hlm. 389.
⁴ Wright, N.T. The Resurrection of the Son of God. Minneapolis: Fortress Press, 2003, hlm. 718.
⁵ Bauckham, Richard. Jesus and the Eyewitnesses: The Gospels as Eyewitness Testimony. Grand Rapids: Eerdmans, 2006, hlm. 7.
Catatan untuk Pembaca
Artikel ini ditulis sebagai respons apologetis terhadap kritik-kritik modern tentang kekristenan, khususnya yang diajukan oleh Bart Ehrman. Tujuannya adalah menjelaskan bahwa iman Kristen memiliki dasar historis yang kuat.
Artikel ini juga ditulis dengan harapan memperkuat iman orang percaya dan memberikan jawaban yang rasional bagi mereka yang mencari kebenaran tentang Yesus Kristus.