Skip to content
VeniSancteSpiritus  Blog Kristosentris VeniSancteSpiritus Blog Kristosentris

Ex • De • Pro Christo

  • Beranda
  • Apa Yang Baru?
  • Daftar Isi Semua Artikel
  • Renungan
  • Teologi
  • Apologetika
    • Seri Apologetika
  • Tokoh-Tokoh Alkitab
  • Kesaksian Hidup
  • Lagu Rohani
  • Inspirasi Bergambar
  • Tentang Penulis
  • Teologi Penulis
  • Kontak
VeniSancteSpiritus  Blog Kristosentris
VeniSancteSpiritus Blog Kristosentris

Ex • De • Pro Christo

Allah-Ku, Allah-Ku… Mengapa Engkau Meninggalkan Aku?

November 28, 2025December 19, 2025

Stan Telchin berbagi kisah mengharukan tentang perjalanan spiritualnya dari seorang pengusaha Yahudi yang awalnya bertekad untuk membuktikan bahwa Yesus bukanlah Mesias. Pada akhirnya, dirinya sendiri menerima Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan.

Saat ulang tahunnya yang ke-50, hidupnya tampak sempurna dengan pencapaian materi dan prestasi, namun segalanya berubah ketika putrinya Judy mengabarkan telah memeluk keyakinan Kristen yang mempercayai Yesus sebagai Mesias. Berbekal pengetahuan agama Yahudi dan pengalaman pahit anti-Semitisme, awalnya Stan menolak dan merasa dikhianati.

Namun setelah membaca Injil dan kitab suci secara mendalam, serta melihat nubuat-nubuat yang berkaitan dengan Mesias terpenuhi dalam diri Yesus, ia mulai merasakan perubahan dalam hatinya. Melalui berbagai studi dan diskusi, ia menemukan bahwa iman kepada Yesus bukan berarti kehilangan jati diri Yahudi, melainkan suatu pemenuhan janji Allah kepada bangsa Yahudi.

Stan mulai membaca Mazmur 22 dari Alkitab miliknya. Matanya berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, ia bisa membayangkan Yesus tergantung di kayu salib. Ini sesuatu yang tidak pernah terlintas sebelumnya.

Lalu ia membuka Yesaya 53, pasal yang tidak pernah dibaca di sinagoga tempat ia beribadah selama lima puluh tahun. Air matanya mengalir. Ia akhirnya mengerti: Yesus disalibkan sebagai hukuman untuk dosa-dosa mereka. Ia merasa terpukul. Mengapa mazmur dan nubuat sepenting ini tidak pernah dibahas?

Stan terus membaca Yeremia 31:31 yang berbicara tentang perjanjian baru yang Tuhan buat dengan Israel dan Yehuda. Selama ini, ia diajarkan bahwa perjanjian baru hanya untuk orang non-Yahudi. Kemudian Daniel 9 menyebut kehancuran Yerusalem dan Bait Suci oleh seorang pangeran, yang terjadi setelah Mesias dipenggal. Sejarah mencatat Yerusalem hancur tahun 70 M oleh Titus, pangeran Romawi.

Dari sini, kesimpulannya jelas: jika kitab-kitab ini benar, Mesias sudah datang sebelum tahun 70 M. Dan Stan sampai pada keyakinan bahwa Yesus adalah Mesias mereka.

Perjalanan spiritual ini membawa dia kepada sukacita dan damai yang luar biasa, serta mendorongnya untuk berbagi kasih dan kebenaran akan Yesus dengan komunitasnya.

Dalam artikel ini, kita akan menelusuri empat nubuat besar yang mengubah keyakinan Stan Telchin .

Dimulai dari Mazmur 22 yang menubuatkan detail penyaliban seribu tahun sebelumnya. Kemudian Yesaya 53 yang menjelaskan alasan kematian Mesias. Berlanjut dengan Yeremia 31 yang berbicara tentang perjanjian baru yang disahkan dengan darah. Terakhir, Daniel 9 yang memberikan batas waktu yang membuktikan Mesias sudah datang.

“I set out to prove that Jesus was not the Messiah. Instead, I discovered that He is.”

Saya berniat membuktikan bahwa Yesus bukanlah Mesias. Sebaliknya, saya menemukan bahwa Dia adalah Mesias

Stan Telchin

Sore yang Gelap di Golgota

Cerita dimulai pada suatu sore. Saat itu, langit Yerusalem tiba-tiba gelap padahal baru pukul tiga. Angin dingin berhembus di bukit Golgota yang disebut orang sebagai bukit tengkorak.

Di sana, di antara dua penyamun, seorang pria dalam kondisi memilukan tergantung di antara langit dan bumi. Tubuh-Nya sudah tidak utuh lagi. Cambukan Romawi yang kejam merobek punggung-Nya hingga daging menggantung.

Mahkota duri dipaksa masuk ke kulit kepala, membuat darah mengalir ke mata, hidung, dan mulut-Nya. Paku-paku besar menembus pergelangan tangan dan kaki-Nya, menahan tubuh yang kini tinggal tulang dibalut kulit robek. Setiap tarikan napas seperti pisau yang menusuk lagi.

Orang-orang berdiri di bawah salib. Ada yang menangis, ada yang mengejek, ada yang hanya terpaku.

Tiba-tiba, dengan sisa kekuatan yang hampir habis, Ia menengadah ke langit yang gelap dan berseru dengan suara yang mengguncang:

“Eli… Eli… lama sabakhtani?”

“Allah-Ku… Allah-Ku… mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Seketika itu, beberapa orang Yahudi yang berdiri paling dekat saling pandang. Wajah mereka berubah. Mereka langsung mengenal kalimat itu. Bukan jeritan putus asa biasa. Itu adalah baris pertama Mazmur 22 yang merupakan mazmur yang ditulis Daud seribu tahun sebelum ada cara eksekusi bernama penyaliban.

Dalam tradisi Yahudi, kalau seseorang mengucapkan baris pertama sebuah mazmur di saat krisis, artinya ia sedang berkata kepada semua orang: “Ingat seluruh mazmur ini. Semua yang tertulis di sana sedang terjadi padaku sekarang.”

Dan saat itu juga, ingatan mereka berlari cepat ke gulungan Kitab Suci yang mereka hafal sejak kecil. Kata demi kata dari Mazmur 22 mulai hidup kembali, dan mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana setiap detail sedang digenapi tepat di depan mereka.


Detail yang Mengerikan dan Tepat

“Mereka menusuk tangan dan kaki-Ku.” (Mazmur 22:17)

Lihat, paku sudah tertancap dalam-dalam.

“Aku dapat menghitung segala tulang-Ku; mereka memandang dan melihat aku.” (Mazmur 22:18)

Tubuh-Nya tergantung berjam-jam hingga tulang-tulangnya terlihat jelas, namun tidak satu pun dipatahkan. Ini berbeda dengan kebiasaan tentara Romawi yang biasa mematahkan tulang korban salib agar cepat mati.

“Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka, dan membuang undi bagi jubah-Ku.” (Mazmur 22:19)

Di bawah salib, empat prajurit Romawi sedang membagi empat potong pakaian luar-Nya, lalu mereka duduk dan bermain undi untuk merebut jubah dalam yang masih utuh. Mereka menganggapnya jubah yang mahal, yang tidak ingin mereka sobek.

Orang-orang lewat menggeleng-gelengkan kepala sambil berteriak mengejek: “Hai, Engkau yang mau merobohkan Bait Allah dan mendirikannya dalam tiga hari, turunlah dari salib itu! Kalau Engkau Anak Allah, selamatkan diri-Mu sendiri!”

Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat ikut mengejek: “Orang lain Ia selamatkan, diri-Nya sendiri Ia tidak dapat selamatkan! Biarlah Allah menyelamatkan Dia kalau Ia berkenan kepada-Nya!”

Kata-kata itu… hampir persis sama dengan yang tertulis dalam Mazmur 22:9: “Ia percaya kepada TUHAN, biarlah TUHAN meluputkannya, biarlah Dia melepaskannya, kalau Ia berkenan kepadanya!”

Semuanya terjadi. Satu per satu. Tanpa ada yang terlewat. Seolah Daud tidak sedang menulis doa pribadi di gua Adulam seribu tahun silam, melainkan sedang melaporkan langsung dari Golgota seribu tahun sebelum Golgota itu ada.


Nyanyian Duka yang Ditulis Tujuh Ratus Tahun Sebelumnya

Tujuh ratus tahun sebelum Yesus dilahirkan di palungan Betlehem, nabi Yesaya sudah melihat pemandangan yang sama dengan mata rohaninya. Ia menuliskan sesuatu yang terlalu berat untuk diucapkan. Sesuatu yang membuat dadanya sesak hingga ia harus menuliskannya dalam bentuk nyanyian duka yang paling indah sekaligus paling menyakitkan dalam seluruh Kitab Suci.

Ia melihat seorang Hamba TUHAN yang “tidak ada bentuk atau keindahan yang kita inginkan.” Ia melihat-Nya “dihina dan dibuang manusia, orang yang penuh kesengsaraan dan biasa menderita sakit.” Ia melihat wajah-Nya dirusak hingga “lebih buruk daripada manusia lain.” Ia melihat-Nya “memikul kelemahan kita dan menanggung kesengsaraan kita.” Ia mendengar orang-orang berkata, “Ia kena tulah, dipukul Allah dan ditindas.” (Yesaya 53:2-4)

Lalu Yesaya menulis kalimat yang sampai hari ini masih membuat hati berhenti berdetak:

“Sesungguhnya, Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, diremukkan oleh karena kesalahan kita. Hukuman yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kesalahan kita sekalian.” (Yesaya 53:5-6)

Yesaya melihat-Nya “dianiaya, namun Ia tidak membuka mulut-Nya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian.” Ia melihat-Nya “dihabisi nyawa-Nya dari negeri orang-orang hidup,” disalibkan bersama penjahat, namun “ditempatkan kubur-Nya di antara orang fasik, dan bersama-sama orang kaya pada kematian-Nya.” (Yesaya 53:7-9)

Dan di akhir nyanyian itu, Yesaya mendengar suara TUHAN sendiri berkata:

“Apabila Ia menyerahkan nyawa-Nya sebagai korban penebus salah, Ia akan melihat keturunan-Nya, Ia akan lanjut umurnya, dan kehendak TUHAN akan terlaksana oleh-Nya.” (Yesaya 53:10)

Ketika kita membaca Yesaya 53 sambil mengingat Yesus, kita tidak lagi membaca nubuat. Kita sedang membaca detik demi detik yang terjadi di kayu salib itu. Adegan mulai dari cambukan hingga tikaman tombak, dari ejekan hingga kubur Yusuf Arimatea.


Perjanjian Baru yang Dijanjikan Yeremia

Enam ratus tahun sebelum Yesus duduk dengan murid-murid-Nya di ruang atas pada malam terakhir, nabi Yeremia sudah mendengar rencana Allah yang mengejutkan. Di tengah kehancuran dan pembuangan bangsa Israel, Allah berbicara tentang sesuatu yang baru yang berbeda dari apa yang pernah ada sebelumnya.

“Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN.” (Yeremia 31:31-32)

Perjanjian lama yang diberikan di Gunung Sinai dengan loh batu dan hukum Taurat sudah gagal. Bukan karena hukumnya buruk, tapi karena hati manusia tidak mampu menaatinya. Berulang kali Israel jatuh, berulang kali mereka melanggar, berulang kali mereka harus membawa korban binatang ke Bait Suci.

Tapi Allah berjanji akan ada cara yang berbeda:

“Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.” (Yeremia 31:33-34)

Perjanjian baru ini tidak akan ditulis di atas batu, tapi di dalam hati. Tidak akan butuh ribuan ekor domba untuk kurban, karena akan ada satu Korban yang sempurna. Dan pengampunan dosa akan menjadi permanen, tidak lagi harus diulang setiap tahun.

Ketika Yesus mengangkat cawan di malam Paskah terakhir-Nya, Ia tahu persis apa yang akan Ia katakan. Di hadapan murid-murid yang masih belum mengerti, Ia mengucapkan kata-kata yang membuat seluruh nubuat Yeremia menjadi nyata:

“Dan sesudah makan Ia mengambil cawan dan berkata: ‘Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.'” (Lukas 22:20)

Perjanjian baru yang dijanjikan Yeremia tidak untuk orang non-Yahudi saja. Ini adalah perjanjian yang Allah buat dengan Israel dan Yehuda, tapi pintunya terbuka bagi semua bangsa. Dan perjanjian itu disahkan dengan darah Anak Domba Allah di kayu salib Golgota.


Batas Waktu dari Daniel: Mesias Harus Datang Sebelum Kehancuran

Kalau Mazmur 22 dan Yesaya 53 menjelaskan bagaimana Mesias akan mati, dan Yeremia 31 menjelaskan mengapa Ia harus mati, maka Daniel 9 memberikan sesuatu yang lebih mengejutkan lagi: kapan Mesias harus datang dan apa yang akan terjadi setelah Ia dipenggal.

Sekitar enam ratus tahun sebelum Yesus lahir, nabi Daniel sedang berdoa dan berpuasa di pembuangan Babel. Ia membaca kitab Yeremia dan menghitung waktu. Tiba-tiba malaikat Gabriel datang kepadanya dengan pesan yang sangat spesifik. Saking spesifiknya sampai membuat banyak rabi Yahudi kemudian menghindari pasal ini.

Gabriel berbicara tentang “tujuh puluh kali tujuh masa” yang ditentukan atas bangsa Yahudi dan Yerusalem. Dalam hitungan itu, ada timeline yang jelas: setelah ada perintah untuk membangun kembali Yerusalem, akan ada jangka waktu tertentu hingga “seorang yang diurapi, seorang raja” akan datang. Tapi yang membuat Joel Berry terkejut adalah bagian selanjutnya:

“Sesudah keenam puluh dua kali tujuh masa itu seorang yang diurapi akan dipenggal, padahal tidak ada salahnya apa-apa. Maka datanglah rakyat seorang raja memusnahkan kota dengan tempat kudusnya, tetapi raja itu akan menemui ajalnya dalam air bah; dan sampai pada akhirnya akan ada peperangan dan pemusnahan, seperti yang telah ditetapkan.” (Daniel 9:26)

Perhatikan urutannya dengan seksama:

  1. Mesias yang diurapi akan “dipenggal” (kata Ibrani: karath : dipotong, dimusnahkan, dibunuh)
  2. Padahal Dia tidak bersalah apa-apa
  3. Setelah Mesias dipenggal, rakyat dari seorang pangeran akan datang
  4. Mereka akan menghancurkan kota (Yerusalem) dan tempat kudus (Bait Suci)

Inilah yang membuat Stan Telchin tidak bisa tidur malam itu. Sejarah mencatat dengan sangat jelas: pada tahun 70 M, Titus seorang pangeran dari Kekaisaran Romawi, memimpin pasukannya menghancurkan Yerusalem dan membakar Bait Suci hingga rata dengan tanah. Bait Suci itu tidak pernah dibangun lagi sampai hari ini.

Kalau nubuat Daniel benar, itu artinya Mesias sudah harus datang dan dipenggal sebelum tahun 70 M. Tidak ada pilihan lain. Tidak bisa nanti. Kalau tidak, nubuat Daniel salah atau Mesias sudah lewat dan bangsa Yahudi tidak mengenali-Nya.

Dan saat Stan membuka catatan sejarah tentang Yesus dari Nazaret, semuanya cocok. Yesus disalibkan (dipenggal) sekitar tahun 30-33 M. Tidak bersalah. Tiga puluh tujuh tahun kemudian, tepat seperti yang dinubuatkan Daniel, tentara Romawi datang dan menghancurkan Yerusalem.

Batas waktu sudah lewat. Mesias sudah datang. Dan Ia sudah dipenggal, persis seperti yang tertulis.


Malam Ketika Semuanya Menjadi Jelas

Malam setelah Ia bangkit dari kubur, Yesus muncul di tengah murid-murid-Nya yang masih ketakutan dan bersembunyi di balik pintu terkunci. Dengan suara yang lembut namun penuh kuasa, Ia berkata: “Damai sejahtera bagi kamu.”

Lalu Ia menunjukkan tangan dan lambung-Nya yang masih berbekas paku dan tombak. Setelah itu Ia duduk di tengah mereka dan berkata:

“Inilah yang sudah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama kamu: segala sesuatu yang tertulis tentang Aku dalam Kitab Taurat Musa, dalam Kitab Para Nabi, dan dalam Kitab Mazmur, harus digenapi.” (Lukas 24:44)

Lalu Ia membuka pikiran mereka supaya mereka mengerti Kitab Suci. Ia menjelaskan bagaimana:

  • Mazmur 22 : adalah jeritan-Nya di kayu salib
  • Yesaya 53 : adalah alasan Ia rela mati
  • Yeremia 31 : adalah perjanjian baru yang disahkan dengan darah-Nya
  • Daniel 9 : adalah batas waktu yang membuktikan Ia datang tepat waktu sebelum Bait Suci hancur dan kesempatan itu hilang selamanya

Saat itu hati mereka menjadi panas seperti terbakar, air mata mengalir tanpa suara. Mereka mengerti: Ia bukan korban kekalahan. Ia adalah Mesias yang sengaja datang pertama kali sebagai Hamba yang menderita supaya kita tidak perlu menderita selamanya.

Baca juga artikel lainnya:
• Salib Kristus: Sidang Ilegal & Rencana Allah
• Darah adalah Nyawa: Perspektif Biblis tentang Kehidupan & Penebusan

Pintu Neraka Ditutup dengan Tubuh-Nya

Di kayu salib itu, bukan hanya seorang manusia yang mati. Dosa kita ikut mati di sana. Rasa ditinggalkan yang seharusnya menjadi milik kita selama-lamanya, Ia tanggung sendirian dalam kegelapan itu.

Dan ketika Ia berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Ia sedang menutup pintu neraka bagi kita dengan tubuh-Nya sendiri.

Empat nubuat besar ini : Mazmur 22, Yesaya 53, Yeremia 31, dan Daniel 9, bukan lagi tulisan kuno yang berdebu. Semuanya adalah surat cinta dari Allah yang ditulis dengan darah Anak-Nya, ditandatangani di kayu salib dengan satu kalimat penutup yang mengguncang abadi:

“Sudah selesai.” (Yohanes 19:30)

Allah-Ku, Allah-Ku… Mengapa Engkau Meninggalkan Aku?

Bila artikel ini menjadi berkat bagi Anda, silakan bagikan agar lebih banyak orang turut diberkati.

Kesaksian Hidup Teologi

Post navigation

Previous post
Next post

  • Dari Tirza ke Maria: Janji Digenapi Dalam Kristus
  • 40 Tahun Tanpa Pengampunan Dosa
  • Bait Allah dan Shalom dalam Kisah Alkitab (Bagian 3)
  • Mempertahankan Ketaatan
  • Bait Allah dan Shalom dalam Kisah Alkitab (Bagian 2)

©2026 VeniSancteSpiritus Blog Kristosentris | WordPress Theme by SuperbThemes