“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Yohanes 1:1
Pendahuluan: Di Awal Mula Ada Firman
Kita sering membaca ayat ini dengan cepat, tanpa menyadari kedalaman teologis yang terkandung di dalamnya. Jika kita membukanya dengan hati yang tunduk dan pikiran yang terbuka, kita akan menemukan sesuatu yang sangat luar biasa.
Yesus adalah Firman Allah yang kekal, bukan hanya seseorang yang mengajar Firman, tetapi Firman itu sendiri yang menjadi daging.
Dalam tradisi Yahudi sendiri, ada benih-benih pemahaman ini, meskipun tidak sepenuhnya dinyatakan sampai Yesus datang ke dunia.
Pemahaman ini penting untuk menjawab keraguan banyak pihak yang menolak keilahian Yesus. Ini mulai dari Yahudi, Islam, hingga kelompok pseudo-Kristen yang menyangkal natur-Nya.
1. “Yomer” dalam Ibrani: Apa Artinya?
Kata yomer (יֹאמֶר)berasal dari akar kata ’amar (אָמַר) yang berarti berkata, berfirman, atau mengatakan.
Namun ketika digunakan untuk Allah, kata ini tidak hanya menunjuk pada komunikasi verbal, tetapi penyingkapan kehendak ilahi yang langsung menciptakan realitas.
Dalam kisah penciptaan, Kejadian menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi bukan melalui proses alami, tetapi melalui firman Allah:
“Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah terang.’ Maka jadilah terang.” Kejadian 1:3
Poin Teologis Penting
1. Firman ilahi bukan sekadar kata atau suara. Ia bukan informasi pasif, melainkan ekspresi kehendak Allah yang tidak bisa gagal.
2. Firman Allah memiliki kuasa kreatif yang aktif dan hidup.
3. Setiap frasa “Vayomer Elohim” (“Dan Allah berfirman”) dalam Kejadian 1 menunjukkan tindakan penciptaan langsung apa yang difirmankan, itulah yang terjadi.
4. Firman itu bersumber dari Pribadi Allah sendiri. Inilah sebabnya Perjanjian Baru memandang Firman sebagai pribadi ilahi yang berinkarnasi dalam Kristus (Yohanes 1:1–3). Apa yang terjadi di Kejadian 1 menemukan kepenuhannya dalam Dia.
2. Davar: Firman dalam Bahasa Ibrani
Dalam tradisi Ibrani, istilah dāvar (דָּבָר) tidak sekadar berarti kata, perkataan, atau ucapan. Kata ini merangkum gagasan yang jauh lebih luas: firman yang hidup, efektif, dan membawa tindakan Allah ke dalam realitas.
Bagi orang Ibrani, sebuah davar bukan hanya rangkaian bunyi. Ia adalah peristiwa. Firman yang diucapkan Allah melakukan sesuatu, bukan hanya mengatakan sesuatu.
Karena itu, ketika Allah “berfirman”, yang terjadi bukan komunikasi pasif, tetapi tindakan ilahi yang langsung bekerja dalam sejarah, alam, dan manusia.
Dāvar adalah firman yang mencipta, mengarahkan, menghakimi, menyembuhkan, dan menyingkapkan kehendak Allah.
Dalam Bahasa Aram
Dalam tradisi Aram, padanan terdekat dari konsep ini adalah “Memra” (מֵימְרָא) : sebuah istilah yang digunakan dalam Targum untuk menggambarkan tindakan dan kehadiran Allah yang bekerja di dunia.
Para ahli mencatat bahwa “Memra” dalam Aram berkembang seperti konsep Davar dalam Ibrani:
✅️ bukan sekadar kata,
✅️ tetapi pernyataan kuasa Allah,
✅️ dan sering dipersonifikasikan sebagai agen tindakan ilahi.
Inilah salah satu alasan mengapa, ketika Yohanes menulis:
Pada mulanya adalah Firman (Logos)… segala sesuatu dijadikan oleh Dia. Ia berbicara kepada dunia yang sudah akrab dengan konsep Firman sebagai pribadi yang bertindak, bukan sekadar suara.
Namun semua istilah itu, baik Yomer, Davar, maupun Memra bukan kategori abstrak atau konsep impersonal. Semuanya menunjuk pada satu pusat makna yang sama: Pribadi yang menjadi wujud final dari firman Allah.
👉 Yesus Kristus, Sang Firman yang menjadi manusia (Yohanes 1:14)
Dalam diri-Nya, firman yang dulu mencipta kini hadir sebagai manusia yang dapat disentuh, didengar, dan diikuti. Apa yang dalam Perjanjian Lama hanya berupa kuasa ilahi yang bekerja melalui kata, kini menjelma dalam pribadi yang berjalan di antara manusia.
Firman itu bukan lagi sekadar tindakan Allah, tetapi adalah Allah sendiri yang datang mendekat.
3. “Memra” dalam Targum Aramaik: Firman sebagai Kehadiran Allah
Dalam Targum Aramaik, terjemahan dan parafrase Taurat ke dalam bahasa Aram, istilah Memra (מֵימְרָא) sering digunakan sebagai pengganti kehadiran langsung Allah dalam tindakan-Nya.
Bagi tradisi Yahudi berbahasa Aram, Memra bukan sekadar kata yang diucapkan, tetapi mode kehadiran Allah yang bekerja dalam sejarah, mencipta, menuntun, dan menyatakan diri.
Karena itu, ketika Yohanes menggunakan istilah Logos dalam Yohanes 1:1, ia berbicara kepada dunia yang sudah mengenal konsep Firman sebagai pribadi ilahi yang aktif.
Penafsiran klasik seperti Matthew Henry Commentary juga mengarahkan perhatian pada hubungan ini.
Contoh Penggunaan dalam Targum :
1) Targum Neofiti : Kejadian 1:1
“Pada mulanya, dengan Memra-Nya, Allah mencipta langit dan bumi.”
Kejadian 1:1 (TB)
2) Targum Onkelos : Kejadian 3:8
“Mereka mendengar suara Memra Allah berjalan di taman…”
Kejadian 3:8 (TB)
3) Targum Jonathan : Kejadian 15:6
“Dan Abraham percaya kepada Memra TUHAN…”
Kejadian 15:6 (TB)
Makna Teologis
1️⃣ Memra adalah perantara ilahi: Ia menjaga jarak antara Allah yang transenden dan dunia yang terbatas, tetapi sekaligus menghadirkan Allah secara aktif dalam sejarah.
2️⃣ Firman tidak pernah dipahami sebagai konsep impersonal: Ia adalah manifestasi kuasa, kehendak, dan kehadiran Allah.
3️⃣ Dalam konteks pra-Kristen, Memra menjadi jembatan bagi pemahaman bahwa Allah dapat bekerja secara personal tanpa kehilangan kemuliaan-Nya yang tak terjangkau.
4. “Firman” dalam Pemikiran Yahudi Kuno: Bukan Hanya Kata
Firman dalam Pemikiran Yahudi Kuno: Lebih dari Sekadar Kata
Referensi Alkitabiah:
- Mazmur 33:6 : “Dengan firman TUHAN langit dibuat; dengan nafas dari mulut-Nya segala tentara langit.” → Firman tampil sebagai kuasa pencipta yang membangun kosmos.
- Mazmur 147:15 : “Dia menyampaikan titah-Nya ke bumi; firman-Nya berlari dengan cepat.” → Firman digambarkan sebagai agen yang bertindak dan bergerak.
“Firman” dalam pemikiran Yahudi Kuno memiliki makna lebih dari aekadar kata
Dalam Literatur Yahudi
1️⃣ Mishneh Torah (Maimonides)
Firman dipahami sebagai sarana wahyu, cara Allah menyingkapkan kehendak-Nya kepada manusia.
2️⃣ Midrash Bereshit Rabbah. “Dengan sepuluh firman Allah mencipta dunia.”→ Penciptaan dipahami sebagai tindakan Allah melalui firman yang berulang.
3️⃣ Sefer Yetzirah
Firman dipresentasikan sebagai huruf-huruf kosmik yang membentuk struktur realitas.
→ Huruf Ibrani bukan sekadar simbol, melainkan instrumen kreatif.
Makna Teologis
1️⃣ Firman adalah prinsip aktif kehadiran Allah di dunia.
Ia menghubungkan Allah yang transenden dengan ciptaan yang terbatas.
2️⃣ Firman membawa kuasa penciptaan dan penyataan.
Apa yang Allah katakan bukan hanya disampaikan, itu terjadi.
3️⃣ Dalam mistisisme Yahudi, firman berkaitan dengan Chokhmah (Hikmat) dan Shekhinah (Kehadiran Allah), menunjukkan bahwa firman dipandang sebagai jembatan antara hikmat ilahi dan kehadiran Allah di tengah umat-Nya
5. Philo dari Alexandria: Filosof Yahudi dan Konsep Logos
Philo dari Alexandria (±20 SM – 50 M), seorang filosof Yahudi Helenistik yang hidup sezaman dengan Yesus, menggunakan istilah Logos (λόγος) untuk mengartikulasikan bagaimana Allah yang transenden berhubungan dengan dunia. Dalam tulisannya, Logos digambarkan sebagai:
1️⃣ Gambar Allah (ikon)
Representasi Allah yang dapat dikenal oleh ciptaan.
2️⃣ Perantara antara Allah dan dunia
Jembatan antara yang tak terjangkau dan yang terbatas.
3️⃣ Hikmat ilahi yang melaluinya penciptaan terjadi
Mekanisme intelektual dan rohani di balik penciptaan.
4️⃣ “Anak Sulung” Allah (dalam pengertian metaforis, bukan biologis)
Menunjukkan keutamaan Logos dalam segala karya Allah.
Signifikansi bagi Pemahaman Kekristenan
Injil Yohanes mengambil istilah Logos yang sudah dikenal dalam dunia Yahudi dan Yunani, tetapi memberikan puncak makna yang tidak pernah dibayangkan para filosof:
Logos itu bukan prinsip. Logos itu Pribadi.
“Firman itu menjadi manusia, lalu diam di antara kita…”
➡️ Yohanes 1:14
Bagi Yohanes, Logos bukan sekadar konsep metafisik, bukan sekadar “hikmat ilahi”, bukan sekadar perantara abstrak, tetapi Yesus Kristus sendiri, yang masuk ke dalam sejarah dan hidup sebagai manusia.
Meluruskan Kesalahpahaman Populer
Sering muncul tuduhan bahwa konsep Logos dalam Kekristenan hanya mengadopsi filsafat Yunani. Tuduhan ini dangkal dan mengabaikan akar Ibrani-Aram yang jauh lebih tua (Davar, Memra, Hikmat Allah).
Pernyataannya jelas:
“Bukan filsafat Yunani yang melahirkan konsep Logos, melainkan rencana Allah yang sejak kekal hadir dalam Firman-Nya.”
Yohanes tidak meniru filsafat. Ia menggenapi seluruh tradisi Firman dalam Ibrani, Aram, dan hikmat Yahudi, lalu menegaskan bahwa Firman itu kini menyatakan diri dalam Yesus Kristus.
6. Yesus: Firman yang Menjadi Manusia
“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan dengan perantaraan-Nya dan tanpa Dia tidak ada yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”
Analisis Teologis
1️⃣ En archē ēn ho Logos – Firman ada sejak permulaan (kekal)
2️⃣ Kai ho Logos ēn pros ton Theon – Firman dalam relasi dengan Allah
3️⃣ Kai Theos ēn ho Logos – Firman adalah Allah dalam esensi
Konfirmasi Alkitabiah:
Kolose 2:9 “Sebab dalam Dialah diam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keilahian.”
Ibrani 1:3 “Ia adalah cahaya kemuliaan dan gambar wujud Allah…”
Filipi 2:6 “Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.”
Pernyataan ini mematahkan pandangan bahwa Yesus hanyalah ciptaan.
Mengapa Ini Penting untuk Kita Pahami Hari Ini ?
Ketika kita mengatakan Yesus adalah Firman Allah, kita tidak hanya bicara tentang seseorang yang mengajarkann Firman Allah. Kita bicara tentang Allah sendiri yang datang ke dunia dalam rupa manusia.
1️⃣ Dia adalah penggenapan dari semua firman Allah dalam Taurat dan Nabi.
2️⃣ Dia adalah penyataan Allah yang sempurna, bukan hanya ajaran, tapi kehadiran Allah yang hidup dan nyata.
3️⃣ Dia adalah jalan satu-satunya untuk mengenal Allah ➡️ Yohanes 14:6
7. Logika Teologis: Jika Firman Melekat pada Allah, Maka Ia adalah Allah
Firman Allah bukan sesuatu yang terpisah dari diri-Nya. Firman itu adalah ekspresi dari esensi-Nya yang kekal. Firman itu adalah kekuatan, kehendak, dan penyataan Allah yang aktif di dunia.
Dan jika Firman itu datang ke dunia, maka Allah sendiri datang.
Kolose 2:9
Sebab dalam Dialah diam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keilahian.
Yesus bukan hanya membawa firman Allah. Ia adalah Firman itu sendiri. Bukan hanya mengajar tentang Allah, tapi Allah yang datang menyatakan diri-Nya.
“Keluar dari Allah” : Bukankah Itu Allah Juga?
Allah adalah kekal, tidak berawal dan tidak berakhir. Ia adalah Alfa dan Omega (Wahyu 1:8). Ia tidak diciptakan, tidak terbatas, dan tidak berubah.
Ketika Firman itu datang dari Allah, apakah Firman itu bisa terpisah dari Allah? Tidak. Firman itu adalah bagian dari Allah sendiri.
Yohanes 1:18
Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.
Yesus adalah penyataan Allah yang sempurna. Ia tidak datang dari luar Allah. Ia keluar dari Allah sendiri.
Yohanes 16:27-28
Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.
Jika sesuatu datang dari Allah dan kembali kepada Allah, dan tidak pernah terpisah dari-Nya, maka bukankah itu Allah itu sendiri?
Premis teologis:
1️⃣ Allah adalah Esa dan tidak terbagi
2️⃣ Firman adalah ekspresi esensi Allah, bukan ciptaan-Nya
3️⃣ Yang melekat pada Allah dalam esensi adalah Allah
Implikasi:
Jika Yesus adalah Firman yang kekal, maka tidak ada alternatif selain mengakui keilahian-Nya. Firman bukan atribut terpisah, tetapi manifestasi personal dari Allah itu sendiri.
“Bukan filsafat Yunani yang melahirkan konsep Logos, melainkan rencana Allah yang sejak kekal hadir dalam Firman-Nya.”
➡️ Kontra argumen kepada kaum skeptis dan penyederhana sejarah teologi.

Konfirmasi dari Yesus:
Yohanes 10:30 ➡️ “Aku dan Bapa adalah satu.”
Yohanes 14:9 ➡️ “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.”
✅ Jika Firman adalah Allah, maka penyembahan kepada Yesus bukan penyimpangan, melainkan kebenaran ilahi.
8. Firman yang Datang dan Kembali: Kesatuan Ilahi
“Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.”
➡️ Yohanes 16:27–28
Makna teologis:
1️⃣ Inkarnasi bukan penciptaan, tetapi manifestasi
2️⃣ Yesus tidak “menjadi” ilahi, tetapi menyatakan keilahian-Nya
3️⃣ Kesatuan dengan Bapa tidak pernah terputus
9. Dimensi Trinitaris: Elohim, Ruah Elohim, dan Yomer Elohim
Kejadian 1:26:
“Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…'”

Struktur Trinitaris dalam teks Kejadian:
1️⃣ Elohim : Allah sebagai Pencipta
2️⃣ Ruah Elohim : Roh Allah yang melayang-layang
3️⃣ Yomer Elohim : Allah berfirman (Firman Allah)
Penutup: Firman yang Datang untuk Tinggal di Tengah Kita
Yesus adalah Yomer Elohim, Firman Allah yang menjadi manusia. Ia adalah:
1️⃣ Allah yang berbicara dalam penciptaan
2️⃣ Allah yang menyatakan diri dalam wahyu
3️⃣ Allah yang menyelamatkan dalam inkarnasi
4️⃣ Allah yang tinggal di tengah kita dalam Roh
"Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Immanuel" ➡️ yang berarti: Allah menyertai kita.
➡️ Matius 1:23
Artikel ini membuktikan keilahian-Nya dari Kejadian hingga Injil Yohanes, sebagaimana ditegaskan juga dalam Mazmur 110, Yesaya 53, dan Lukas 24:44–46.
Rasul Paulus tidak ragu menyebut Yesus sebagai Tuhan, bahkan menempatkan-Nya sebagai pusat keselamatan dalam surat-suratnya.
Refleksi Akhir
Kita tidak hanya mengikuti ajaran-Nya atau meneladani teladan-Nya. Kita percaya kepada Dia yang adalah Firman itu sendiri ➡️ Logos yang kekal, Memra yang berinkarnasi, Yomer Elohim yang menjadi Yeshua ha-Mashiach.
Dalam dunia yang penuh keraguan, relativisme, dan penyesatan tentang identitas Yesus, iman kepada-Nya bukan nostalgia agama, melainkan keputusan ilahi yang menyelamatkan kekal.

Bacaan Singkat: Yesus Sang Firman Sejak Semula
Dalam tradisi Ibrani, kata Davar (דָּבָר) berarti “firman, ucapan, atau pernyataan kuasa”. Dalam bahasa Aram, istilah ini diterjemahkan sebagai Memra, dan dalam bahasa Yunani disebut Logos. Ketiganya menunjuk kepada satu realitas yang sama: Firman Allah yang hidup yang dinyatakan secara penuh dalam Pribadi Yesus Kristus.
-
Targum Neofiti : Kejadian 1:1
Dalam terjemahan bahasa Aram ini, kalimat “Pada mulanya Tuhan menciptakan…” ditulis:
Melalui Memra (Firman)-Nya Tuhan menciptakan langit dan bumi.
Lihat teks kunonya -
Midrash Bereshit Rabbah 3:7
Para rabi Yahudi mengajarkan bahwa Tuhan menciptakan dunia lewat Firman-Nya, bukan langsung dengan tangan-Nya.
Baca kutipan Midrash di Sefaria -
Maimonides Mishneh Torah 2:10
Filsuf Yahudi besar ini berkata: Tuhan tidak bisa dilihat langsung, tetapi menyatakan diri-Nya melalui perantara, salah satunya Firman.
Buka sumbernya di Sefaria

