Pendahuluan
Dalam sejarah Kekristenan, perdebatan tentang sumber otoritas iman selalu menjadi isu penting. Apakah Alkitab saja yang menjadi dasar kebenaran, ataukah tradisi gereja juga memiliki peran yang sama pentingnya? Berbagai aliran dalam Kekristenan, baik Katolik, Protestan, dan Ortodoks, memiliki pandangan yang berbeda.
Protestan mengusung Sola Scriptura, Katolik menekankan peran magisterium, sementara Gereja Ortodoks menawarkan pendekatan yang unik: Alkitab dalam tradisi.
Kelompok penentang Sola Scriptura sering mempertanyakan : “Mengapa hanya Alkitab? Bukankah tradisi gereja atau otoritas rohani juga memiliki kuasa yang setara?”
Bahkan kritik yang ekstrem menyamakan Sola Scriptura sebagai diabolical teaching. Istilah “diabolical” (setan) digunakan untuk menekankan bahwa ajaran ini dianggap merusak kesatuan gereja dan membuka pintu bagi bidah (ajaran sesat).
Tuduhan ini, datang dengan sejumlah alasan yang lahir dari perbedaan kerangka otoritas dan pemahaman teologis.
Pada dasarnya, hal ini mencerminkan kesalahpahaman mendasar terhadap konsep Sola Scriptura itu sendiri.
Keberadaan Sola Scriptura dianggap :
- Menolak Tradisi Gereja: Sola Scriptura hanya mengakui Alkitab sebagai otoritas tertinggi, menolak tradisi dan ajaran Gereja Katolik yang dianggap sama pentingnya.
- Berpotensi Interpretasi yang Beragam: Tanpa otoritas pusat, setiap orang bisa menafsirkan Alkitab secara berbeda, yang dianggap dapat menyebabkan kekacauan dan bidah.
- Ajaran yang Merusak Kesatuan: Kritikus berpendapat bahwa prinsip ini melemahkan otoritas Gereja yang didirikan Kristus, sehingga dianggap membahayakan kesatuan umat Kristen.
Bagi penganut Sola Scriptura, Alkitab diyakini sudah cukup sebagai pedoman iman dan hidup.
Oleh karena itu, istilah “diabolitical teaching” dipakai secara polemis dan retoris. Jadi, bukan sebagai pengakuan iman bahwa semua orang Kristen memandang Sola Scriptura demikian.
Tuduhan ini lebih bersifat retorik teologis dan mencerminkan perbedaan mendasar tentang sumber otoritas dalam iman Kristen .
Tapi apakah Alkitab benar-benar dapat dipahami tanpa konteks sejarah dan Tradisi Gereja? Inilah pertanyaan yang membedakan pandangan Protestan dengan aliran Kristen lainnya.
Pandangan Katolik: Alkitab, Tradisi, dan Magisterium
Gereja Katolik Roma memiliki pandangan yang berbeda. Mereka memiliki pandangan tersendiri mengenai sumber-sumber otoritas dalam iman Kristen dengan prinsip Sola Scriptura yang dianut oleh Protestan.
Dalam ajaran Katolik, Alkitab dan Tradisi Suci dianggap sebagai dua pilar kebenaran yang saling melengkapi dan memiliki otoritas yang setara. Kedua sumber ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Ini karena keduanya berasal dari wahyu Allah yang sama dan saling mendukung dalam membimbing umat beriman menuju pemahaman yang utuh tentang kebenaran ilahi.
Tradisi Suci merupakan warisan hidup dari pengajaran para rasul yang telah disampaikan secara lisan dan tertulis sejak awal berdirinya gereja.
Pengajaran ini tidak hanya mencakup teks-teks Kitab Suci, tetapi juga praktik-praktik liturgis, doktrin-doktrin yang diakui oleh gereja perdana, serta keputusan-keputusan konsili ekumenis yang dianggap sebagai bimbingan Roh Kudus.
Dalam pandangan Katolik, Alkitab tidak dapat dipahami atau diterapkan dengan benar tanpa tradisi suci. Hal ini karena Gerejalah yang menetapkan kanonisitas kitab suci melalui proses panjang yang melibatkan bimbingan Roh Kudus.
Misalnya, Konsili Kartago pada abad ke-4 mengukuhkan daftar kitab-kitab yang termasuk dalam Kanon Alkitab. Hal ini merupaka. proses yang tidak terjadi dalam kekosongan. Kanonisasi Alkitab justru berakar pada tradisi gereja perdana, yang telah mengakui otoritas kitab-kitab tertentu sejak zaman para rasul.
Dengan demikian, Alkitab dan tradisi bukanlah dua entitas yang terpisah, melainkan dua aliran dari satu sumber wahyu yang sama, yaitu Allah sendiri.
Selain Alkitab dan tradisi, Gereja Katolik juga mengakui peran magisterium sebagai otoritas mengajar yang memiliki tugas khusus untuk menjaga, menafsirkan, dan mengajarkan kebenaran iman.
Magisterium terdiri dari Paus, sebagai pengganti Santo Petrus, dan para uskup yang berada dalam persatuan dengannya. Mereka dianggap memiliki otoritas untuk menafsirkan Alkitab dan Tradisi secara otentik, terutama dalam hal-hal yang menyangkut iman dan moral.
Otoritas ini dalam pandangan Katolik merupakan mandat ilahi yang diberikan oleh Kristus kepada para rasul dan penerus mereka. Konsili Vatikan II, dalam dokumen Dei Verbum (Firman Allah), menegaskan bahwa:
“Alkitab dan Tradisi Suci saling terkait dengan erat dan mengalir dari sumber yang sama, yaitu wahyu Allah. Keduanya membentuk satu kesatuan suci yang tidak terpisahkan, karena keduanya berasal dari Allah dan menuju kepada Allah, demi keselamatan umat manusia.”
Magisterium berfungsi sebagai penjaga kebenaran yang memastikan bahwa pemahaman umat beriman tentang Alkitab dan Tradisi tetap sejalan dengan ajaran asli para rasul.
Tanpa magisterium, Alkitab beresiko dapat disalahartikan atau disalahgunakan untuk mendukung ajaran-ajaran yang menyimpang.
Sebagai contoh :
Konsili Nicea I (tahun 325 M) tidak hanya menetapkan doktrin tentang Trinitas, tetapi juga melindungi kebenaran iman dari bidah-bidah seperti Arianisme, yang menyangkal keallahan Kristus.
Dengan demikian, magisterium berperan sebagai suara gereja yang mengikat. Tujuannya untuk memastikan bahwa ajaran-ajaran Kristen tetap murni dan konsisten dari generasi ke generasi.
Bagi umat Katolik, keberadaan Magisterium bukanlah penambahan terhadap Alkitab, melainkan pelengkap yang diperlukan. Ini karena Alkitab sendiri tidak memberikan daftar lengkap tentang semua kebenaran iman.
Misalnya, dogma tentang Trinitas tidak dijelaskan secara eksplisit dalam satu ayat Alkitab, tetapi dikembangkan melalui tradisi dan konsili-konsili gereja.
Demikian pula, praktik-praktik seperti Ekaristi, baptis, dan doa kepada para kudus memiliki dasar dalam tradisi suci yang telah dipelihara sejak zaman para rasul.
Oleh karena itu, menolak tradisi atau magisterium dianggap memutus hubungan dengan pemahaman gereja perdana, yang justru melahirkan dan memelihara Alkitab selama berabad-abad.
Dengan demikian, pandangan Katolik tentang Alkitab, tradisi, dan magisterium mencerminkan keyakinan bahwa Allah tidak hanya menyampaikan wahyu-Nya melalui tulisan, tetapi juga melalui kehidupan dan pengajaran Gereja.
Ketiga elemen ini(Alkitab, tradisi, dan magisterium) saling mendukung dan melengkapi, membentuk fondasi yang kokoh bagi iman Kristen yang otentik dan utuh.
Gereja Ortodoks: Alkitab dalam Tradisi
Lalu bagaimana dengan Gereja Ortodoks? Di sinilah kita menemukan pendekatan yang berbeda, namun tetap menjaga kesatuan antara Alkitab dan tradisi.
Gereja Ortodoks, yang berakar pada gereja perdana, tidak menolak tradisi, tetapi juga tidak menempatkannya di atas Alkitab.
Sebaliknya, Ortodoks melihat Alkitab dan tradisi sebagai kesatuan organik yang tak terpisahkan.
1. Alkitab sebagai Bagian dari Tradisi
Bagi Gereja Ortodoks, Alkitab adalah inti dari tradisi suci, tetapi tradisi tidak terbatas pada teks tertulis. Tradisi suci mencakup:
- Pengakuan Iman (seperti Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel).
- Liturgi dan ibadah yang telah dipraktikkan sejak abad-abad awal.
- Keputusan konsili ekumenis (seperti Konsili Nicea I, yang menetapkan doktrin Trinitas dan kanonisitas Alkitab).
- Ajaran para Bapa Gereja, seperti Atanasius, Basilius Agung, dan Yohanes Krisostomus.
Contoh :
- Liturgi Ilahi St. Yohanes Krisostomus, yang masih digunakan hingga saat ini, adalah warisan tradisi yang sarat dengan doa-doa dan ajaran Alkitab.
- Penggunaan ikon dalam ibadah didasarkan pada tradisi gereja, yang melihatnya sebagai “Alkitab dalam gambar.”
2. Peran Konsili Ekumenis
Berbeda dengan Katolik yang mengakui otoritas Paus, gereja Ortodoks menempatkan otoritas tertinggi pada konsili ekumenis. Konsili-konsili ini, seperti Nicea (325 M) dan Khalsedon (451 M), dianggap sebagai suara gereja yang dibimbing Roh Kudus.
Namun, Ortodoks tidak mengklaim infallibility (keterbebasan dari kesalahan) secara individual seperti dalam ajaran Katolik.
3. Menolak Sola Scriptura, Tetapi Tidak Menolak Alkitab
Gereja Ortodoks menolak Sola Scriptura karena:
- Alkitab terbentuk melalui gereja: Tanpa tradisi, kita tidak akan memiliki Kanon Alkitab yang kita kenal sekarang.
- Tradisi menjaga pemahaman yang benar: Tanpa tradisi, Alkitab dapat disalahartikan, seperti yang terjadi pada bidah-bidah awal seperti Arianisme.
- Alkitab adalah produk gereja: Gereja ada terlebih dahulu sebelum Kanon Alkitab ditetapkan.
St. Basilius Agung pernah berkata:
St. Basilius Agung
“Di antara dogma-dogma dan khotbah-khotbah yang kita pelihara,
sebagian kita miliki dari ajaran tertulis,
sementara yang lainnya kita terima dari Tradisi para rasul
yang diwariskan secara rahasia.
Keduanya memiliki kekuatan yang sama untuk kesalehan.”
4. Keseimbangan Antara Alkitab dan Tradisi
Ortodoks tidak melihat Alkitab dan tradisi sebagai dua hal yang bertentangan, melainkan sebagai dua sisi mata uang yang sama. Alkitab adalah Firman Allah yang tertulis, sementara tradisi adalah Firman Allah yang hidup dalam gereja.
Keduanya saling melengkapi:
- Alkitab memberikan fondasi yang kuat.
- Tradisi memberikan konteks untuk memahaminya dengan benar.
Alkitab Dalam Pandangan Protestan
1. Mengapa Sola Scriptura Tidak Salah: Dasar Alkitabiahnya
Dalam pandangan Protestan, Sola Scriptura adalah prinsip yang benar karena Alkitab sendiri mengajarkan bahwa Firman Allah adalah satu-satunya otoritas tertinggi dalam iman dan kehidupan Kristen.
Alkitab menyatakan bahwa segala tulisan yang diilhamkan Allah bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3:16-17).
Ini berarti Alkitab sudah cukup untuk memandu kita dalam segala hal yang berkaitan dengan keselamatan dan kehidupan Kristen, tanpa memerlukan tambahan otoritas dari tradisi atau ajaran manusia.
Yesus dan para rasul selalu menggunakan kitab suci sebagai otoritas akhir. Misalnya, Yesus menanggapi pencobaan Iblis dengan Firman Allah:
Paulus juga memuji jemaat Berea karena mereka memeriksa ajarannya dengan kitab suci (Kisah Para Rasul 17:11). Ini menunjukkan bahwa Alkitab adalah standar obyektif untuk menguji segala ajaran, termasuk tradisi atau pengajaran gereja.
Yesus sendiri memperingatkan kita terhadap tradisi manusia yang dapat membatalkan Firman Allah (Matius 15:6-9). Dengan berpegang pada Sola Scriptura, umat Kristen dapat terhindar dari bidah dan kesesatan yang muncul ketika tradisi atau otoritas manusia ditempatkan setara atau bahkan di atas firman Allah.
Sola Scriptura juga memberikan kebebasan dan tanggung jawab kepada setiap orang percaya untuk membaca, mempelajari, dan hidup sesuai dengan Alkitab di bawah bimbingan Roh Kudus (Yohanes 16:13).
Ini tidak berarti menolak peran gereja atau komunitas Kristen, tetapi menempatkan Alkitab sebagai otoritas tertinggi yang harus menguji segala sesuatu.
Dengan demikian, Sola Scriptura bukan hanya prinsip teologis, tetapi praktik rohani yang memastikan bahwa iman hidup Kristen selalu berakar pada kebenaran Firman Allah. Sola Scriptura bukan sekadar doktrin. Ini adalah gaya hidup tunduk pada otoritas Allah yang berfirman.
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku
dan terang bagi jalanku.”Mazmur 119:105
II. Bukti Historis dari Gereja Awal
Bukti Historis dari Gereja Awal tentang Otoritas Kitab Suci
Berikut adalah kutipan dan pandangan dari para Bapa Gereja awal yang menunjukkan penekanan pada otoritas Kitab Suci sebagai dasar iman Kristen, serta hubungan antara Alkitab dan Tradisi:
1. Ireneus dari Lyon (130–202 M)
Dalam karyanya Against Heresies (III.1), Ireneus menegaskan:
“Kitab Suci adalah pilar dan dasar kebenaran. Tidak mungkin bagi kita untuk menemukan kebenaran di luar Alkitab, karena di dalamnya terkandung ajaran para rasul dan nabi, yang menjadi fondasi Gereja.”
Ireneus, Against Heresies III.1
Konteks:
Ireneus menolak ajaran Gnostik yang mengklaim memiliki “pengetahuan rahasia” di luar Alkitab. Ia menekankan bahwa Alkitab adalah standar kebenaran yang tidak dapat digantikan oleh tradisi atau wahyu pribadi.
2. Agustinus dari Hippo (354–430M)
Dalam On Christian Doctrine (II.9), Agustinus menulis:
“Dalam hal-hal yang diajarkan oleh Kitab Suci, kita harus menerima kebenaran yang tidak dapat diganggu gugat. Jika ada tradisi yang bertentangan dengan Alkitab, tradisi itu harus ditolak. Namun, jika tradisi mendukung atau menjelaskan Alkitab, maka tradisi itu berguna.”
Agustinus, On Christian Doctrine II.9
Konteks:
Agustinus bukan saja mengakui otoritas Alkitab sebagai sumber kebenaran utama, tetapi juga mengakui peran tradisi sepanjang tidak bertentangan dengan Kitab Suci. Ini menunjukkan keseimbangan antara Alkitab dan Tradisi dalam Gereja awal. Agustinus bukan anti-tradisi, tapi menempatkan tradisi di bawah otoritas Kitab Suci. Ini jauh dari tuduhan “sola scriptura modern”.
3. Tertulianus (160–225 M)
Dalam De Praescriptione Haereticorum (14), Tertulianus menyatakan:
“Kristus tidak berkata, ‘Aku adalah Tradisi,’ tetapi ‘Aku adalah Kebenaran.’ Kebenaran itu ditemukan dalam Kitab Suci, yang diakui oleh Gereja sejak awal.”
Tertulianus
De Praescriptione Haereticorum (14)
Konteks:
Tertulianus menekankan bahwa Alkitab adalah sumber kebenaran yang diakui oleh Gereja. Sementara itu, tradisi hanya berfungsi sebagai penjelas, bukan sebagai sumber kebenaran yang mandiri.
4. Atanasius (296–373 M) dari Alexandria
Dalam Surat Paskah ke-39, Atanasius menulis:
“Kitab Suci adalah cukup untuk mengajar kita tentang kehendak Allah. Tidak ada yang boleh ditambahkan atau dikurangi dari firman Allah.”
Atanasius, Surat Paskah ke-39
Konteks:
Atanasius, yang berperan penting dalam mempertahankan ortodoksi melawan bidah Arianisme, menekankan kecukupan Alkitab sebagai pedoman iman.
Jadi jelas bahwa Para Bapa Gereja awal tidak menolak tradisi, tetapi mereka selalu menempatkan Alkitab sebagai otoritas tertinggi. Tradisi diakui hanya jika sejalan dengan kitab suci dan tidak bertentangan dengannya.
Inilah yang menjadi dasar bagi prinsip Sola Scriptura dalam Reformasi Protestan.
III. Logika Teologis yang Kokoh
Logika teologis Sola Scriptura bertumpu pada kecukupan Alkitab itu sendiri. Jika Alkitab sungguh membekali umat untuk setiap perbuatan baik, maka penambahan otoritas lain justru berisiko mengaburkan standar kebenaran.
Hal ini ditegaskan oleh paulus dalam
2 Timotius 3:16–17
Yesus sendiri memperingatkan bahaya tradisi manusia ketika ia berkata bahwa manusia dapat mengabaikan perintah Allah demi adat istiadat buatan sendiri, sebagaimana tertulis dalam
Markus 7:8
Secara historis, penyimpangan ini tampak jelas dalam praktik indulgensi pada abad pertengahan. Ini terjadi ketika otoritas gereja melampaui kesaksian kitab suci.
Dalam konteks modern, pola serupa muncul dalam teologi kemakmuran dan penekanan berlebihan pada pengalaman rohani yang tidak diuji oleh Alkitab.

IV. Menjawab Kesalahpahaman Umum
- “Sola Scriptura menolak peran gereja”
Jawab : tidak benar. Gereja tetap penting sebagai sarana pengajaran, pemuridan, dan pembentukan tubuh Kristus. Namun gereja berada di bawah otoritas Alkitab, bukan di atasnya.
Efesus 4:11–13 - “Protestan menafsirkan Alkitab secara sembarangan”
Jawab : tidak benar. Sola Scriptura tidak mengajarkan tafsir bebas. Sebaliknya, mengajar dengan menggunakan prinsip analogi iman, yaitu Alkitab menafsirkan Alkitab secara konsisten
Roma 12:6 - “Alkitab tidak jelas sehingga harus dilengkapi tradisi”
Jawab : tidak benar. Alkitab sendiri menyatakan bahwa Firman Tuhan dapat dipahami dan memberi terang, bahkan kepada orang yang sederhana
Mazmur 119:130
Ketidakmengertian sering kali bukan berasal dari Alkitab, melainkan dari sikap hati manusia
1 Korintus 8:2 - “Sola Scriptura memecah gereja”
Jawab: dalam sidang Worms tahun 1521, Martin Luther menyatakan bahwa hati nuraninya terikat oleh Firman Allah. Reformasi tidak bertujuan memecah gereja, melainkan memanggil gereja kembali kepada otoritas Firman sebagai dasar iman dan kehidupan
Oleh karena itu, perdebatan tentang Sola Scriptura seharusnya tidak berhenti pada slogan atau tuduhan ekstrem.
Adalah lebih baik bila diarahkan pada pertanyaan yang lebih jujur seperti : apakah gereja mau terus diperbarui oleh Firman Allah, atau justru menempatkan Firman di bawah otoritas lain yang tak pernah kebal dari kekeliruan manusia.
Sola Scriptura bukan penolakan terhadap gereja, melainkan panggilan agar gereja terus rendah hati, diuji, dan ditata ulang oleh firman yang hidup.
V. Relevansi Sola Scriptura bagi Gereja Masa Kini
Sola Scriptura menjadi prinsip yang relevan bagi gereja hari ini. Hal ini dikarenakan keberadaannya yang menempatkan Alkitab sebagai otoritas tertinggi dalam menilai ajaran, praktik, dan arah iman Kristen.
Tantangan yang dihadapi gereja saat ini tidak hanya bersifat lokal, tetapi muncul dalam berbagai konteks kehidupan jemaat, antara lain:
- Ajaran yang tidak diuji secara Alkitabiah dan diterima hanya karena figur atau pengalaman rohani
- Penafsiran Firman yang dilepaskan dari konteks dan digunakan untuk membenarkan kepentingan tertentu
- Pergeseran otoritas dari Firman Allah kepada tradisi, opini pribadi, atau tekanan budaya
Dalam konteks inilah Sola Scriptura berfungsi sebagai alat uji yang menolong gereja tetap setia pada kebenaran firman.
Alkitab sendiri menegaskan bahwa setiap ajaran perlu diuji, bukan diterima begitu saja ;
1 Yohanes 4:1
Firman Allah tidak tunduk pada perubahan zaman atau keinginan manusia ;
Yesaya 40:8
Yesus sendiri menegaskan bahwa kebenaran yang menguduskan umat Allah bersumber dari firman ;
Yohanes 17:17
Baca juga artikel lainnya:
Penutup
“Kalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku.” (Yohanes 8:31)
Meskipun terdapat perbedaan dalam metode, struktur, dan penekanan, baik ketiganya (Katolik,Ortodox dan Protestan) memiliki tujuan yang sama: menjaga kemurnian ajaran Kristen dan membimbing umat menuju keselamatan dalam Kristus.
Perbedaan ini bukanlah alasan untuk saling menyerang, melainkan kesempatan untuk belajar, saling menghormati, dan memperkaya pemahaman kita tentang kebenaran Allah.
Yang terpenting, adalah mengakui bahwa Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan berusaha untuk hidup sesuai dengan firman-Nya.
Amin.


