Teks Alkitab: “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan… Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Matius 6:24 (TB)
Pendahuluan: Dua Tuan, Satu Hati
Kebanyakan orang tidak pernah berniat meninggalkan Tuhan. Mereka tetap berdoa, beribadah, memberi, dan sekaligus melayani. Namun pada saat yang bersamaan, mereka juga menyandarkan rasa aman, harapan, dan kepercayaan diri kepada hal-hal lainnya.
Hal semacam itu bisa terjadi pada kita yang tetap berdoa, tetapi juga memiliki rencana cadangan seandainya doa itu tidak berhasil. Kita tetap memberi persepuluhan, tetapi dengan perasaan was-was yang sulit dijelaskan. Kita melayani di gereja, tetapi di sudut hati ada pertanyaan kecil: apa yang saya dapatkan dari semua ini?
Yang terjadi sebenarnya kita tidak pernah benar-benar menolak Tuhan. Kita hanya ingin ada ruang sedikit untuk hal-hal lain juga.
Itulah yang Yesus sebut sebagai melayani dua tuan. Dalam Matius 6:24 (TB), Yesus tidak berkata bahwa hal itu sulit atau tidak disarankan. Lebih daripada itu, Yesus berkata bahwa hal itu tidak mungkin. Kata Yunani yang dipakai adalah ou dynasthe: mustahil secara hakiki, bukan sekadar berat untuk dicoba.
Mengapa mustahil? Karena hati manusia tidak bisa mengikuti dua arah yang berlawanan sekaligus. Pada akhirnya, kita harus memilih salah satu dan itulah yang menunjukkan siapa tuan kita yang sesungguhnya. Jadi, bukan sebatas pengakuan saja.
Tragedi Israel Utara: Ketika Sinkretisme Terasa Masuk Akal
Kisah Kerajaan Israel Utara adalah salah satu kisah paling menyedihkan dalam Perjanjian Lama. Ini bukan karena mereka meninggalkan Tuhan secara terang-terangan, tetapi justru karena mereka merasa tidak pernah meninggalkan Tuhan sama sekali.
Yerobeam dan Kompromi yang “Logis”
Setelah Kerajaan Israel pecah pasca pemerintahan Salomo, Yerobeam I menjadi raja atas sepuluh suku di Utara. Masalah segera muncul ketika pusat ibadah resmi ada di Yerusalem, yang kini berada di wilayah musuh politiknya.
Adapun wilayah musuh politik yang dimaksud adalah Kerajaan Selatan (Yehuda) yang dipimpin oleh Rehabeam (anak Salomo), dengan ibu kota Yerusalem.
Secara geografis, wilayah ini berada persis di bawah kekuasaan Yerobeam (Kerajaan Utara). Yerobeam takut karena Bait Allah ada di Yerusalem. Jika rakyatnya terus menyeberang perbatasan ke wilayah musuh untuk beribadah, mereka bisa kembali setia kepada keturunan Daud dan mengudeta dirinya.
Yerobeam merasa takut. Berawal dari ketakutan itu lahirlah sebuah keputusan yang terdengar masuk akal secara politik, namun fatal secara rohani.
“Kemudian Yerobeam berpikir dalam hatinya: Kerajaan ini mungkin akan kembali kepada keluarga Daud, jika bangsa ini masih mau mempersembahkan korban di rumah TUHAN di Yerusalem…”
1 Raja-raja 12:26-27 (TB)
Ia membuat dua anak lembu emas, satu di Betel, satu di Dan, lalu berkata kepada rakyatnya:
“Sudah cukup lamanya kamu pergi ke Yerusalem. Lihatlah sekarang allah-allahmu, hai Israel, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.”
1 Raja-raja 12:28 (TB)
Perhatikan di sini: Yerobeam tidak mengajak Israel menyembah dewa asing. Ia masih memakai nama TUHAN. Ia masih merujuk pada peristiwa Keluaran, yang merupakan sejarah suci yang paling sakral bagi bangsa itu. Yerobeam hanya mengubah bentuknya sedikit, menyesuaikannya dengan kepentingan politik, dan mengemasnya agar terasa lebih nyaman dan lebih dekat secara geografis.
Inilah yang disebut sinkretisme: mencampur iman yang benar dengan sesuatu yang lain, sampai keduanya terasa seperti satu hal yang sama. Akibatnya mereka tidak lagi bisa membedakan mana Tuhan yang sesungguhnya, dan mana yang sudah mereka rekayasa agar cocok dengan keinginan mereka.

Agama sebagai Alat
Adapun fungsi agama sudah berubah di Kerajaan Israel Utara. Agama bukan lagi bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang berdaulat, melainkan beralih menjadi alat politik untuk mempertahankan kekuasaan, serta cara instan demi memastikan hasil panen sukses dan ekonomi tetap aman.
Mereka masih beribadah, berkorban dan juga masih menyebut nama Tuhan. Namun, di balik semua itu, pertanyaan yang sesungguhnya adalah: apa yang mereka dapatkan dari semua ini?
Akibatnya tidak datang seketika, tetapi pasti akan datang. Sejak dari 19 raja yang memerintah Israel Utara, tidak ada satu pun yang dinilai baik oleh penulis Kitab Raja-raja. Setiap raja menerima vonis yang nyaris seragam:
“Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, dan ia hidup menurut tingkah laku Yerobeam…”
Kerajaan itu akhirnya runtuh di tangan Asyur pada 722 SM. Sepuluh suku lenyap dari panggung sejarah.
Tantangan Elia di Gunung Karmel
Di tengah kemerosotan itu, Elia berdiri di Gunung Karmel dan menantang seluruh bangsa dengan pertanyaan yang menusuk:
“Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia!”
1 Raja-raja 18:21 (TB).
Kata “timpang” dalam ayat ini menggunakan bahasa Ibrani פָּסַח (Pasaḥ) yang arti harfiahnya adalah pincang, goyah, atau melompat-lompat seperti burung di atas dahan. Secara makna, Nabi Elia menggunakan istilah ini sebagai sindiran tajam bagi bangsa Israel yang mendua hati dan tidak punya pendirian dalam iman. Mereka hidup terombang-ambing karena mencoba berpijak di dua tempat sekaligus, yaitu menyembah Tuhan sekaligus menyembah Baal.
Jadi kata “timpang” di sini menggambarkan orang yang pincang karena mencoba berdiri di dua tempat sekaligus sehingga tidak bisa berjalan ke mana pun dengan benar.
Israel Utara tidak hancur karena mereka berhenti menyebut nama Tuhan. Mereka hancur karena mereka tidak pernah sepenuhnya memilih Allah sebagai yang terutama dalam kehidupan mereka.
Siapa “Mamon” Itu?
Ketika Yesus memilih kata Mamon sebagai lawan dari Allah, pilihan itu bukan kebetulan.
Kata ini berasal dari bahasa Aram māmōnā, yang berarti kekayaan atau harta yang ditimbun. Namun akar katanya dalam bahasa Ibrani berhubungan dengan aman, yaitu: percaya, mengandalkan. Dari kata yang sama kita mendapatkan kata Amin yang berasal dari Bahasa Ibrani (אמן), yang berarti “pasti”, “sungguh benar”, atau “Jadilah demikian”.
Hubungan jelasnya adalah tentang di mana kita menaruh rasa percaya kita:
- Ketika kita mengucapkan Amin, kita sedang menyatakan bahwa kita percaya dan mengandalkan Tuhan.
- Sebaliknya, uang disebut Mamon justru karena manusia punya kecenderungan untuk percaya dan mengandalkan harta sebagai pelindung mereka.
Jadi, hubungannya sangat kontras: Amin adalah saat kita bersandar kepada Tuhan, sedangkan Mamon adalah ketika kita memindahkan rasa aman dan sandaran hidup itu kepada harta yang kita miliki.
Dalam pengertian yang lebih dalam lagi, Mamon adalah sesuatu yang kita andalkan untuk merasa aman. Hal ini bukan sekadar tentang uang saja, melainkan sebuah sistem kepercayaan yang dibangun di sekitarnya. Melalui sistem ini, kita merasa masa depan bisa dijamin, misalnya jika kita memiliki banyak uang.
Kita juga merasa tidak perlu terlalu bergantung pada Tuhan jika mempunyai banyak tabungan, karena menganggap kekayaan adalah bentuk perlindungan yang paling nyata dan paling bisa dipegang.
Hal ini persis seperti yang disadari oleh Agur bin Yake dalam doanya:
“Jauhkanlah daripadaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.
Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: ‘Siapa TUHAN itu?’
atau, kalau aku miskin, aku mencuri dan mencemarkan nama Allahku.”
Amsal 30:8–9
Doa Agur ini adalah permohonan perlindungan spiritual agar hidupnya tetap seimbang. Ia sadar bahwa kekayaan melimpah bisa membuat manusia sombong dan merasa tidak butuh Tuhan lagi, sementara kemiskinan bisa menjerumuskannya pada dosa.
Yesus menulis Mamon dengan huruf kapital, layaknya sebuah nama pribadi. Seperti seorang tuan yang punya tuntutan, daya tarik, dan kemampuan untuk mengikat.
Uang yang Berubah Menjadi Tuan
Alkitab tidak pernah berkata memiliki uang adalah dosa. Bahkan banyak tokoh Alkitab yang diceritakan kaya. Contohnya Abraham dan Ayub. Tuhan sendiri yang memberkati mereka. Yang berbahaya bukan uangnya, melainkan apa yang terjadi di dalam hati kita terhadap uang itu.
“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang.”
1 Timotius 6:10 (TB)
Uang mulai menjadi tuan ketika saldo rekening yang tipis berhasil merenggut kedamaian sampai kita tidak bisa tidur nyenyak. Rasa takut kehilangan uang inilah yang kemudian mendikte setiap keputusan besar dalam hidup kita seperti karier, pelayanan, bahkan kejujuran. Semua akhirnya disaring berdasarkan untung rugi.
Pada akhirnya, kendali uang yang begitu kuat akan mengubah mentalitas kita sepenuhnya, sehingga memberi terasa menyakitkan dan menimbun justru menjadi satu-satunya cara untuk merasa aman.
Pada titik itu, uang sudah berganti posisi. Ia bukan lagi alat, tapi sudah menjadi tuan atas hidup seseorang.

Mengapa Dua Tuan Itu Mustahil?
Yesus menjelaskan dinamikanya dengan jelas dalam Matius 6:24 (TB):
“Karena jika tidak, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain.”
Kata-kata yang Yesus pakai sangat kuat: membenci, mengasihi, setia, meremehkan. Jelaslsh ini bukan merupakan bahasa negosiasi, tetapi bahasa pilihan yang mutlak.
Mengapa sampai seekstrem itu? Karena Allah dan Mamon menuntut hal yang berlawanan arah.
Allah menuntut kepercayaan penuh, bahkan ketika situasi terasa tidak memberi jaminan. Ia meminta kita ketika:
- memberi terasa mahal
- kejujuran terasa merugikan.
- melepaskan kendali atas masa depan dan mempercayakan semuanya kepada-Nya saat semua ini menjadi sandaran hidup kita.
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”
Matius 16:24 (TB)
Mamon menuntut hal yang sebaliknya: kumpulkan sebanyak mungkin, lindungi dirimu, jangan ambil risiko yang tidak bisa dikalkulasi, utamakan keamananmu sendiri.
Dua tuntutan ini tidak bisa dipenuhi secara bersamaan. Ketika keduanya bertabrakan dalam satu keputusan nyata, misalnya: apakah kita akan tetap jujur meski rugi? Atau apakah kita akan memberi meski tidak ada sisa? Kita pasti memilih salah satu dan pilihan itulah yang merupakan tuan kita.
Berhala yang Tidak Kelihatan
Zaman sudah berubah dan sekarang orang Kristen tidak lagi menyembah berhala berbentuk patung-patung. Sekarang berhala modern bentuknya berbeda dan justru karena itu lebih sulit dikenali.
Berhala modern bisa berupa pekerjaan atau hobi manakala hal-hal tersebut lebih banyak menguasai hati dan pikiran kita daripada Tuhan. Kita selalu punya waktu untuk mengejar dan melakukannya, tapi merasa berat menyediakan waktu untuk berdoa, membaca firman, atau bersekutu dengan-Nya. Sedikit demi sedikit, Tuhan tidak lagi menjadi yang terutama, melainkan hanya menjadi bagian kecil di sela-sela kesibukan.
Kita masih mengingat-Nya, tetapi hanya ketika ada waktu luang atau saat sedang membutuhkan pertolongan. Tanpa sadar, apa yang seharusnya menjadi sarana telah mengambil tempat yang seharusnya hanya dimiliki oleh Tuhan.
Yang paling berbahaya: bahkan pelayanan bisa menjadi berhala tanpa kita sadari. Kita bisa sangat aktif di gereja, tetapi hati kita sedang melayani kepuasan diri, kebutuhan diakui, atau rasa aman karena merasa cukup “rohani.” Kita menyebut nama Tuhan, tetapi yang kita layani tujuannya adalah untuk kepuasan diri sendiri.
“You become what you worship. When you worship the true God, you reflect His image. When you worship that which is not God, you disintegrate.”
N.T. Wright (Teolog, Mantan Uskup Anglikan, dan Ahli Sejarah Kekristenan)
Refleksi: Siapa Tuan Kita Sesungguhnya?
Cara termudah untuk mengetahui siapa tuan kita yang sesungguhnya bukan dengan melihat apa yang kita akui dengan mulut, melainkan dengan melihat apa yang kita lakukan ketika dua kepentingan bertabrakan.
Pertanyaannya bukan, “Apakah saya masih percaya kepada Tuhan?” Orang-orang Israel di Betel dan Dan juga percaya kepada TUHAN yang membawa mereka keluar dari Mesir sambil menyembah lembu emas di depan mereka.
Pertanyaan yang lebih jujur adalah: ketika harus memilih, siapa yang selalu menjadi pemenangnya?
“No man falls into a pit who is watching where he walks. The danger is not in knowing we are weak, but in thinking we are strong.”
Charles Spurgeon (Pengkhotbah dan Teolog Legendaris Abad ke-19)
Meruntuhkan Takhta Mamon
Salah satu cara paling nyata untuk menguji dan melatih hati kita adalah dengan memberi. Bukan karena memberi adalah kewajiban ritual, tetapi karena memberi secara langsung melawan logika Mamon.
Mamon berkata: simpan, amankan, jaga. Ketika kita memberi dengan rela, kita sedang mengatakan: Tuhan lebih bisa dipercaya daripada saldo rekeningku.
Kedamaian hati kita juga bisa menjadi indikator. Jika ketenangan batin kita naik-turun mengikuti kondisi keuangan, itu tanda bahwa Mamon masih memegang terlalu banyak ruang. Damai sejahtera yang Tuhan janjikan seharusnya tidak bergantung pada angka di rekening bank.
“Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”
Ulangan 6:5 (TB)
Kata “segenap” tidak menyisakan ruang untuk negosiasi. Tidak ada bagian hati yang boleh disimpan untuk tuan lain.
Baca juga artikel lainnya:

Penutup: Tuan yang Membebaskan
Ada ironi besar dalam ajaran Yesus ini. Mamon menjanjikan kebebasan. Dengan memiliki banyak uang, kita bisa menentukan hidup kita sendiri. Namun seringkali kenyataannya, orang yang paling terikat oleh ketakutan dan kecemasan justru mereka yang paling keras mengejar jaminan finansial. Semakin banyak yang dikumpulkan untuk merasa aman, semakin besar pula ketakutan kehilangannya.
Melayani Allah menuntut kita menyerahkan kendali, dan justru di situlah kemerdekaan yang sesungguhnya dimulai. Tuhan yang kita layani bukan tiran yang memeras. Dia adalah Bapa yang mengasihi, yang sudah membuktikan kasih-Nya dengan cara yang paling tuntas:
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Yohanes 3:16 (TB)
Sejarah Israel Utara sudah memberikan kita pelajaran yang sangat mahal. Mereka merasa tidak pernah merasa meninggalkan Tuhan, sampai semuanya sudah terlambat.
Hari ini, pertanyaannya kembali kepada kita masing-masing. Patung lembu emas di rumah kita sudah tidak ada lagi saat ini. Tetapi ada hal-hal lain yang diam-diam sudah menduduki takhta di dalam hati, seperti: ambisi yang menjadi kaya raya dengan segala cara, mencari rasa aman yang diletakkan pada tempat yang salah, atau kehidupan rohani sekedar rutinitas yang berjalan selama ini.
Ingatlah. Tuhan tidak tertarik pada kesetiaan yang setengah hati. Ia menginginkan hati kita sepenuhnya.
Periksalah hati kita masing-masing dengan jujur dan kembali menempatkan Allah sebagai satu-satunya tuan yang kita layani. Itulah yang akan memerdekakan kita sepenuhnya.
Amin.


