Yesus Gembala yang Baik
Klaim Yesus sebagai “Gembala yang Baik” (Yohanes 10:11) sering kali disalahpahami sebagai sekadar ungkapan kasih sayang yang lembut dan pasif. Padahal, bagi pendengar-Nya di abad pertama Masehi, gelar ini adalah pernyataan revolusioner tentang tanggung jawab yang radikal.
Masyarakat Yahudi kala itu hidup di bawah penjajahan Kekaisaran Romawi dengan segala tekanan politik, ekonomi, dan agama yang menghimpit. Yesus tidak sekadar meminjam metafora indah dari puisi. Adapun yang dilakukan-Nya adalah mengambil profesi yang paling rendah, paling kotor, paling berbahaya, namun paling intim dalam budaya Yudea kuno.
Gembala bukanlah pekerjaan bergengsi seperti ahli Taurat atau imam Bait Suci. Mereka adalah pejuang yang hidup di padang gurun, tidur di antara batu-batu kasar, dan mempertaruhkan nyawa setiap hari demi kawanan yang dipercayakan kepadanya. Dalam konteks inilah Yesus menyatakan identitas Mesias-Nya dengan cara yang sangat dekat dengan realitas sehari-hari pendengar-Nya.
1. Gembala dalam Tradisi Yudaisme Kuno
Guna memahami kedalaman klaim Yesus, kita harus menelusuri akar metafora ini jauh ke dalam sejarah dan budaya Yudaisme. Dalam tradisi Yudaisme, gembala bukanlah profesi sembarangan, melainkan panggilan suci yang membentuk karakter para bapa leluhur bangsa Israel.
- Abraham, bapa orang beriman, adalah seorang gembala kaya yang menggembalakan kawanan besar di tanah Kanaan yang gersang (Kejadian 13:5-7).
- Ishak melanjutkan pola yang sama.
- Yakub yang menghabiskan puluhan tahun menggembalakan domba Laban di Mesopotamia. Ini merupakan tempat di mana ia belajar ketekunan, kecerdasan, dan kesetiaan melalui pengalaman langsung bersama hewan-hewan yang rapuh (Kejadian 30:29-43).
- Musa, pemimpin besar yang membebaskan Israel dari Mesir, juga menjalani masa persiapan selama empat puluh tahun sebagai gembala di padang gurun Midian (Keluaran 3:1). Dalam situasi terik matahari dan dingin malam gurun, Musa belajar kerendahan hati dan kepekaan terhadap suara Tuhan.
- Daud, raja Israel yang termasyhur sebagai “manusia yang berkenan kepada hati Allah”, memulai karirnya sebagai gembala muda di bukit-bukit Betlehem. Kisahnya melawan singa dan beruang yang mencoba merampas domba dari kawanan ayahnya (1 Samuel 17:34-36) menjadi fondasi keberaniannya kelak ketika menghadapi Goliat.
Pengalaman Daud itu tertulis dalam Mazmur 23 yang paling terkenal sepanjang sejarah: “TUHAN adalah gembalaku, aku tidak akan kekurangan. Ia membaringkan aku di padang yang hijau, Ia membawa aku ke air yang tenang.”
Nabi-nabi Perjanjian Lama kemudian memperdalam gambaran gembala ini menjadi nubuat Mesianik yang kuat. Dalam Yehezkiel 34, Tuhan memberikan kritik pedas terhadap “gembala-gembala Israel” yang jahat, yaitu: para raja, imam, dan pemimpin agama yang hanya mementingkan diri sendiri. Mereka memakan lemak domba-domba, membiarkan yang lemah, mengabaikan yang sakit, dan membiarkan yang tersesat (Yehezkiel 34:2-4).
Sebaliknya, Allah berjanji dengan tegas: “Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku… Aku akan mencari yang hilang dan yang tersesat akan Kubawa pulang” (Yehezkiel 34:15-16). Lebih lanjut Tuhan menyatakan: “Aku akan membangkitkan seorang gembala yang satu atas mereka, yaitu hamba-Ku Daud; ia akan menggembalakan mereka dan ia akan menjadi gembala mereka” (Yehezkiel 34:23).
Yesus, sebagai keturunan Daud berdiri di tengah orang-orang Yahudi abad pertama dan dengan berani menyatakan: “Akulah gembala yang baik.”
Melalui satu kalimat itu, Yesus bukan hanya memenuhi nubuat Yehezkiel, melainkan juga merealisasikan seluruh harapan Yudaisme tentang Mesias. Pengharapan akan Mesias yang akan menggembalakan umat dengan keadilan, kasih, dan kesetiaan yang sempurna. Ini adalah klaim yang sangat berani dan provokatif.
2. Dasar Hubungan Pribadi yang Intim
Semuanya bermula dari suara. Padang gurun Yudea yang luas, sunyi, dan penuh bahaya, suara adalah satu-satunya jembatan antara keamanan dan maut. Setiap gembala memiliki panggilan khas yang unik, yaitu: sebuah nada, irama, atau kata panggilan yang dikenali domba-domba mereka sejak kecil.
Penelitian etnografi tentang gembala-gembala tradisional di Timur Tengah menunjukkan bahwa domba benar-benar mengenal nama masing-masing. Gembala kemudian memanggil mereka satu per satu saat pagi tiba untuk keluar dari kandang batu.
Yesus mengambil realitas budaya ini dan menyatakannya dengan tegas: “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” (Yohanes 10:27). Bagi pendengar Yahudi, pernyataan ini langsung mengingatkan pada Mazmur 95:7, “sebab Dialah Allah kita, dan kita adalah umat gembalaan-Nya, domba-domba yang digembalakan-Nya.”
Pengenalan suara bukanlah metafora semata, tetapi soal hidup dan mati. Tanpa suara gembala, kawanan akan tersesat dalam hitungan menit di antara jurang-jurang batu kapur yang tajam, semak duri, dan lereng-lereng curam.
Manusia pun demikian tanpa suara Tuhan. Dalam kebisingan dunia modern dimana ada politik yang memecah belah, ekonomi yang menekan, media sosial yang membingungkan, dan budaya yang menyesatkan, kita bisa kehilangan arah dalam egosentrisme dan kecemasan kita sendiri.
3. Pemimpin yang Memahami
Pengenalan suara hanyalah pintu masuk menuju pelayanan yang jauh lebih berat dan mendalam. Kondisi tanah yang gersang di Yudea, sang gembala harus menjadi ahli strategi bagi makhluk yang penuh kecemasan dan mudah panik. Domba memiliki ketakutan terhadap air yang bergolak deras. Bulu mereka yang tebal dan menyerap air akan membuat tubuh mereka berat dan tenggelam seketika jika terjun ke sungai yang deras. Karena itu, gembala yang baik akan menggunakan tangannya sendiri untuk membendung aliran air, menciptakan kolam kecil yang tenang, sehingga domba dapat minum dengan aman.
Yesus memposisikan diri-Nya persis seperti itu dalam kehidupan kita sebagai pemimpin yang peka dan memahami batas kekuatan manusia. Ia tahu kapan jiwa kita perlu “diteduhkan di padang yang hijau” dan dibawa “ke air yang tenang” (Mazmur 23:2), agar tidak tenggelam oleh derasnya tekanan hidup, trauma masa lalu, kegagalan, atau badai emosi.
Dalam dunia yang serba cepat dan menuntut seperti hari ini, Yesus masih menjadi Gembala yang dengan sabar membendung arus deras agar kita bisa minum dari sumber kehidupan tanpa rasa takut.

4. Gada dan Tongkat: Kekuatan dan Kelembutan
Sebelum sampai di tempat di mana domba merumput di area baru, gembala akan berjalan berkeliling terlebih dahulu untuk memeriksa lubang-lubang ular di tanah. Lubang-lubang itu kemudian diolesi minyak di sekitarnya agar ular tidak bisa keluar dan menggigit hidung domba yang sedang makan. Gembala juga akan mencabut tanaman beracun sebelum domba-dombanya merumput.
Tidak jarang domba terkena serangan larva lalat hidung(oestrus ovis). Domba yang terserang akan membenturkan kepalanya ke batu atau benda keras karena rasa sakit luar biasa yang disebabkan oleh larva lalat yang masuk ke saluran hidung dan sinus mereka. Gangguan ini menimbulkan iritasi dan tekanan yang tak tertahankan di dalam kepala domba, sehingga domba mencoba mencari kelegaan dengan cara yang ekstrem.
Mengatasi ini, seorang gembala akan melakukan pengurapan minyak. Dia akan mengoleskan campuran minyak zaitun dan rempah-rempah pada hidung serta kepala domba. Minyak ini berfungsi sebagai penghalang agar lalat tidak bisa hinggap, sekaligus bertindak sebagai antiseptik yang menenangkan kulit dan mencegah parasit masuk, sehingga domba dapat merumput dengan tenang tanpa gangguan.
Setiap langkah yang dipilih sang gembala adalah hasil perhitungan yang matang demi kenyamanan kawanannya, bukan demi kemudahan dirinya sendiri.
Dalam perjalanan sepanjang perjalanan berbahaya melintasi bukit-bukit batu dan lembah kering, gembala tidak pernah lepas dari dua alat utamanya: gada (rod) dan tongkat (staff).

1. Gada adalah senjata ofensif yang kuat berupa sebatang kayu berat, sering dilapisi besi di ujungnya. Alat ini digunakan untuk memukul serigala, hyena, atau pencuri yang mengintai di balik semak belukar.
2. Tongkat dengan ujung melengkung adalah alat bimbingan yang penuh kasih sayang. Alat ini digunakan untuk menarik domba yang terperosok ke lubang duri atau jurang, tanpa melukai bulu atau kulit mereka. Daud pernah menggunakan kedua alat ini dengan sangat efektif.
Yesus menyatukan kedua sisi kontras alat ini dalam diri-Nya untuk melawan musuh kita yang adalah: maut, dosa, Iblis, dan kegelapan rohani (Yohanes 10:10) dan dengan kasih-Nya yang lembut menyentuh luka-luka kita yang paling dalam. Kekuatan dan kelembutan bukanlah dua hal yang berlawanan dalam karakter Yesus.
Keduanya adalah satu kesatuan kasih yang memastikan “tidak ada satu pun yang hilang” dari kawanan-Nya (Yohanes 10:28).

5. Membalikkan yang Terpuruk
Puncak dari pelayanan Sang Gembala terlihat pada saat domba mengalami kondisi paling tragis yang dikenal dalam budaya gembala kuno: “cast” atau terjatuh telentang. Domba yang gemuk, berbulu tebal, dan makan terlalu banyak dapat terguling ke punggungnya di tanah yang miring.
Kaki-kakinya mengayun tidak berdaya di udara, gas dalam perutnya menekan paru-paru dan jantung, dan dalam waktu singkat, biasanya beberapa jam saja, domba tersebut akan mati karena sesak napas dan kegagalan organ. Domba tidak mampu membalikkan badannya sendiri, ia benar-benar pasrah pada maut.
Di sinilah kebaikan Yesus yang sesungguhnya bersinar, bukan sekadar kebaikan biasa, melainkan kebaikan yang dalam bahasa Yunani disebut kalos: mulia, indah, dan sempurna dalam segala aspek. Ia tidak menunggu domba “berusaha lebih keras” atau “bangun sendiri. Ia datang mencari dan proaktif, membalikkan tubuh yang terpuruk, memijat kaki-kaki yang kaku dan bengkak, serta menunggu dengan sabar sampai sirkulasi kehidupan kembali mengalir.
Kisah ini sangat selaras dengan nubuat Yehezkiel 34:16: “Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kusembuhkan, yang sakit akan Kukuatkan.” Yesus bersedia mengotori tangan-Nya, bahkan mencucurkannya dengan darah-Nya sendiri di kayu salib untuk membangkitkan kita dari titik yang paling terpuruk, paling memalukan, dan paling putus asa sekalipun.

6. Jalur Musiman yang Penuh Bahaya
Salah satu realitas paling dramatis dalam kehidupan gembala di Israel dan Timur Tengah adalah perjalanan musiman menuju dataran tinggi yang rumputnya subur di musim panas. Guna mencapai tempat ini, gembala sering kali harus melewati lembah-lembah dalam yang sempit dan gelap, ngarai-ngarai curam yang disebut dalam Mazmur 23:4 sebagai “lembah kekelaman” atau “valley of the shadow of death”.
Sinar matahari sulit masuk ke lembah-lembah ini sehingga suasananya selalu gelap dan dingin. Dinding batu yang tinggi menjadi tempat persembunyian favorit bagi serigala, hyena, pencuri, dan perampok. Udara yang lembab dan suara gema yang aneh semakin menambah suasana mencekam, sementara domba-domba yang mudah panik bisa langsung berhamburan atau membeku ketakutan di tempat.
Di jalur yang menyeramkan ini, peran gembala menjadi sangat krusial. Ia tidak berjalan di belakang kawanan, melainkan di depan atau di tengah-tengah mereka. Ia akan lebih sering bersuara, memanggil nama domba-domba atau bernyanyi pelan, dan memukulkan tongkatnya ke batu-batu agar kawanan terus mendengar kehadirannya.
Suara itu menjadi jaminan yang tak tergoyahkan: “Aku ada di sini. Jangan takut.” Meskipun lembah gelap dan bahaya mengintai di setiap tikungan, domba merasa aman karena mereka mengenal suara gembalanya.
Bagi kita hari ini, “lembah kekelaman” adalah gambaran yang sangat nyata, berupa: masa-masa krisis, penyakit, kegagalan, kesedihan mendalam, atau situasi yang gelap dan tidak pasti. Yesus tidak berjanji bahwa kita tidak akan pernah melewati lembah itu. Ia berjanji bahwa Ia akan berjalan bersama kita di dalamnya.
Tongkat dan gada-Nya menghibur kita (Mazmur 23:4), dan suara-Nya yang terus memanggil menjadi sumber kekuatan ketika segala sesuatu terasa gelap dan menakutkan.
“The awareness of the Shepherd’s presence is the most reassuring and calming influence on the sheep. The consciousness of the Owner, the Master, and the Protector being there, provides a sense of security and peace that nothing else can equal day or night.”
Philip Keller, A Shepherd Looks at Psalm 23

7. Mencari Domba yang Tersesat
Ketika seekor domba tersesat, entah karena terpancing rumput yang lebih hijau, tersesat di lembah, atau terpisah dari kawanan saat panik, maka dia sedang berada dalam bahaya yang besar. Domba tidak memiliki sistem navigasi internal dan tidak punya pertahanan diri sama sekali. Inilah yang dilakukan Gembala yang Baik untuk menyelamatkannya:
1. Kesadaran Seketika
Seorang gembala yang baik tidak menunggu sampai malam untuk menghitung kawanan. Ia melakukan “cek visual” secara berkala sehingga ia akan segera tahu jika ada satu yang hilang. Ini bukan karena menghitung nomor, tetapi karena ia mengenali wajah dan kehadiran masing-masing domba secara pribadi. Jika ada satu yang hilang, ia merasakan ada “lubang” dalam kawanannya. Yesus berkata, “Jika seorang mempunyai seratus domba dan seekor di antaranya tersesat…” (Lukas 15:4). Ia tahu dan Ia peduli seketika.
2. Meninggalkan yang Lain demi yang Satu
Gembala akan menitipkan sembilan puluh sembilan domba lainnya di tempat yang aman. Biasanya dalam kandang atau di bawah pengawasan rekan gembala, lalu segera pergi mencari yang satu itu. Ia tahu bahwa domba yang tersesat biasanya sedang dalam kondisi panik atau terjepit, dan ia rela meninggalkan yang aman demi yang hilang.
3. Mencari dengan Suara
Gembala mulai memanggil nama domba tersebut atau mengeluarkan teriakan khasnya. Domba yang tersesat biasanya akan diam membeku karena trauma dan ketakutan. Namun begitu ia mendengar suara gembalanya, ia akan mulai mengembik sebagai balasan. Gembala kemudian mengikuti arah suara embikan yang lemah itu, dan seringkali harus memanjat tebing atau masuk ke semak berduri yang berbahaya.
4. Kondisi Saat Ditemukan
Seringkali domba yang tersesat ditemukan dalam keadaan “terpaku”. Dia terjepit di antara celah batu atau tersangkut di semak duri, dengan tubuh yang sudah terlalu lemas untuk berdiri karena kelelahan atau ketakutan yang luar biasa.
5. Memikul di Atas Bahu
Inilah bagian paling mengharukan dalam tradisi Timur Tengah. Gembala tidak akan mencambuk domba yang tersesat agar berjalan pulang sendiri. Sebaliknya, ia mengangkat domba yang ketakutan itu ke atas bahunya, melingkarkan kaki domba di lehernya agar domba merasa hangat dan aman karena bersentuhan langsung dengan tubuh sang gembala. Gembala memikul beban itu sepanjang jalan pulang, meskipun medannya berat.
6. Pemulihan Hubungan
Setelah sampai di rumah, gembala memberikan perhatian ekstra. Domba yang pernah tersesat seringkali justru menjadi domba yang paling setia. Biasanya domba tersebut tidak mau jauh-jauh lagi dari kaki gembalanya karena telah merasakan langsung bagaimana rasanya diselamatkan.
Ada pula perayaan kecil di mana gembala memberi tahu para tetangganya, “Aku telah menemukan dombaku yang hilang” (Lukas 15:6). Ini menunjukkan bahwa nilai satu ekor domba sangat berarti bagi hatinya.

8. Tubuh yang Menjadi Pintu
Semua pengabdian itu mencapai puncaknya pada malam hari di pintu kandang batu. Kandang gembala tradisional di Yudea biasanya berupa lingkaran batu kering tanpa pintu kayu yang bisa dikunci. Guna melindungi kawanan dari serigala, pencuri, dan binatang buas lainnya, sang gembala akan merebahkan tubuhnya sendiri melintang di celah masuk, menjadikan dirinya sebagai “pintu”. Tidak ada serigala yang bisa masuk tanpa melewati tubuhnya terlebih dahulu, dan tidak ada domba yang bisa keluar tanpa seizinnya.
Yesus mengklaim dengan tegas: “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan boleh keluar masuk dan menemukan padang rumput” (Yohanes 10:9). Ini bukan sekadar puisi indah, tapi ini adalah realitas budaya yang ditransformasikan menjadi teologi yang mendalam. Gembala yang baik menjadi tameng hidup, pengorbanan total, dan pintu keselamatan bagi seluruh kawanan-Nya.
“The good shepherd lays down his life for his sheep, whereas the hireling, who does not love the sheep, flees when he sees the wolf coming. The true shepherd seeks not his own advantage, but the salvation of his sheep.”
St. Augustine of Hippo

9. Dipanggil dengan Nama
Kesetiaan yang berdarah-darah ini tidak berhenti pada penyelamatan fisik semata. Ia menyentuh aspek emosional dan eksistensial yang paling dalam, yaitu: kepastian identitas di tengah dunia yang penuh ketidakjelasan.
Dalam masyarakat kuno, domba sering hanya dianggap sebagai komoditas berupa sekumpulan angka dalam inventaris kekayaan seorang tuan tanah. Namun Yesus meruntuhkan tembok itu dengan pernyataan yang revolusioner: “Ia memanggil domba-domba-Nya masing-masing dengan namanya” (Yohanes 10:3).
Dalam tradisi Yudaisme, nama bukan sekadar label, tetapi identitas, panggilan, dan takdir. Allah sendiri memberi nama baru kepada Abram menjadi Abraham, dan kepada Yakub menjadi Israel. Yesus melakukan hal yang sama bagi kita.
Dalam lautan manusia yang lebih dari delapan miliar jumlahnya di bumi ini, Yesus mengenali setiap detail luka hati kita, setiap getaran ketakutan kita, dan setiap potensi unik yang kita miliki. Pengenalan yang sepribadi itu memberikan rasa aman yang luar biasa: kita dipimpin oleh Gembala yang tidak akan pernah tertukar mengenai siapa kita sebenarnya.
10. Menjaga yang Lemah
Dedikasi Sang Gembala juga terlihat jelas dalam cara Ia mengelola anggota kawanan yang paling rentan. Dalam perjalanan panjang melintasi bukit-bukit batu tajam dan lembah kering, selalu ada anak domba yang baru lahir, domba yang sakit, atau domba tua yang mulai kehilangan kekuatan.
Gembala yang baik tidak akan meninggalkan yang lemah demi mengejar kecepatan kawanan yang kuat. Sebaliknya, ia menyesuaikan langkah seluruh kawanan mengikuti yang paling lambat. Bahkan kadang-kadang ia bahkan memanggul anak domba di bahunya (seperti yang digambarkan Yesus dalam perumpamaan domba yang hilang, Lukas 15:5).
Ini selaras dengan janji Tuhan dalam Yehezkiel 34:16: “Yang lemah akan Kukuatkan.” Kerajaan Yesus tidak dijalankan dengan prinsip “siapa yang kuat akan bertahan”, melainkan dengan hukum kasih yang rela memangkas kecepatan, berhenti sejenak, dan memikul yang lemah agar tidak ada satu pun yang terabaikan di sepanjang perjalanan.
11. Harga yang Harus Dibayar Sang Gembala
Pengabdian total ini menuntut harga yang sangat mahal dari Sang Gembala sendiri. Kehidupan di padang gurun adalah kehidupan yang sunyi dan terisolasi, penuh paparan bahaya yang tak pernah berhenti, dan pengorbanan yang tidak mengenal akhir. Ia harus terjaga saat semua orang tidur. Ia harus merasa lapar agar dombanya kenyang. Ia harus terluka agar dombanya tetap utuh.
Yesus dengan tegas membedakan diri-Nya dari “orang upahan” (Yohanes 10:12-13). Orang upahan bekerja hanya untuk gaji dan lari ketika serigala datang. Sedangkan Gembala yang Baik bekerja untuk domba itu sendiri dan domba bukan alat, melainkan tujuan hidupnya. Perkataan Yesus ini mengarah langsung pada salib: “Akulah gembala yang baik dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba” (Yohanes 10:11). Pengorbanan Daud melawan singa dan beruang hanyalah bayangan kecil dari pengorbanan Mesias yang rela menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib demi keselamatan seluruh kawanan-Nya.
12. Lingkaran Perlindungan
Seluruh rangkaian pengabdian ini, mulai dari:
- Suara yang memanggil di pagi hari,
- Tangan yang membendung sungai dan mencabut rumput beracun di siang hari,
- Menutup lubang-lubang ular
- Gada yang menghancurkan musuh,
- Tongkat yang menarik yang tersesat, pembalikan domba yang cast,
- Urapan minyak di kepala untuk menyembuhkan luka dan menghalau parasit,
- Tubuh yang menjadi pintu pelindung di malam hari,
- Perjalanan melalui lembah kekelaman,
- Pencarian domba yang tersesat,
Maka semua ini membentuk sebuah lingkaran perlindungan yang sempurna dan tak tertembus. Dalam pengawasan Yesus, tidak ada kegelapan yang cukup pekat untuk menyembunyikan kita dari pandangan-Nya, dan tidak ada jurang yang cukup dalam untuk melepaskan kita dari jangkauan tongkat kasih-Nya.
Menjadi domba dari Gembala yang Baik berarti kita telah menyerahkan kendali hidup kita sepenuhnya kepada satu-satunya Pribadi yang bukan hanya tahu jalan ke depan, tetapi juga bersedia menjadi Jalan itu sendiri bagi kita (Yohanes 14:6).
Baca juga artikel lainnya:
➡️ Ketika Hati Mengalahkan Penampilan
➡️ Perjalanan Musa: Dari Kejayaan ke Kehancuran hingga Alat Tuhan
Kesimpulan: Kehadiran yang Mengubah
Inilah esensi dari seluruh narasi yang indah ini: Yesus memilih metafora gembala karena profesi itu menuntut kehadiran total, pengorbanan total, dan kesetiaan total. Yesus tidak memimpin dari singgasana yang jauh atau dari balik meja kekuasaan. Ia memimpin dari tanah yang berdebu, di samping kita, merasakan setiap kepedihan kita dan memastikan bahwa di ujung perjalanan kehidupan ini, seluruh kawanan yang dipercayakan kepada-Nya akan sampai di padang rumput kekal dengan selamat, lengkap, tidak ada yang hilang, dan tanpa kekurangan satu pun.
Dalam dunia modern yang penuh dengan “gembala-gembala upahan”, pemimpin yang mementingkan diri, sistem yang mengeksploitasi, dan budaya yang meninggalkan yang lemah, maka suara Yesus yang lembut namun tegas masih memanggil nama kita hari ini. Ia masih siap membalikkan kita yang terpuruk, memikul kita yang lemah di bahu-Nya, berjalan bersama kita di lembah kekelaman, dan menjadi pintu keselamatan kita.
Mari kita mendengarkan suara-Nya, mengikuti langkah-Nya, dan percaya sepenuh hati kepada Gembala yang Baik.


