Rahasia yang Tidak Pernah Dibicarakan Para Rabi
Pendahuluan
Ada catatan menarik dalam tradisi Yahudi, yaitu: sekitar empat puluh tahun sebelum Bait Suci dihancurkan, tanda-tanda bahwa korban pada Hari Pendamaian benar-benar diterima oleh Tuhan mulai tidak muncul seperti sebelumnya. Seperti biasa, ritual rutin tetap dilakukan, imam tetap melayani, dan semuanya terlihat berjalan seperti biasa.
Namun tanda-tanda penerimaan itu tidak lagi terlihat: benang merah tidak berubah menjadi putih, undian tidak lagi jatuh seperti sebelumnya, pelita tidak bertahan, bahkan pintu Bait terbuka dengan sendirinya. Seolah-olah, apa yang terus dilakukan tidak lagi menunjukkan respons yang sama dari Tuhan.
Perlu diketahui, catatan ini tidak berasal dari Alkitab, melainkan dari tradisi rabinik Yahudi. Namun justru karena itu menjadi lebih menarik karena menunjukkan dari dalam bahwa ada sesuatu yang berubah, bahkan sebelum Bait Suci dihancurkan.
Jika waktu itu ditelusuri, kita akan tiba pada masa ketika Yesus disalibkan. Masa ini bukan karena Tuhan berhenti mengampuni, tetapi karena pengampunan itu sendiri sedang digenapi dalam cara yang berbeda dan bukan lagi melalui ritual yang berulang. Semua digenapi melalui satu pengorbanan yang sempurna.
Bermula dari sinilah kita mulai melihat bahwa manusia cenderung bertahan pada apa yang bisa dilihat, dipegang, dan diulang. Sementara Tuhan bekerja melampaui itu, membawa kita dari yang sementara menuju kepada yang sejati. Sekarang pertanyaannya adalah: apakah kita masih sibuk menjalani “ritual” dalam hidup, sementara hati kita belum benar-benar datang kepada sumber pengampunan yang hidup?
Cuci Tangan Tanpa Bercermin
Pada dasarnya, manusia mempunyai kecenderungan untuk terlihat bersih di permukaan saja tanpa harus terlihat sampai ke bagian paling dalamnya. Kita rela membersihkan yang kelihatan, yang bisa dinilai orang lain, tapi enggan ketika Tuhan mau menyentuh bagian paling kotor dari diri kita. Ritual mencuci tangan dalam Yudaisme dan tindakan Pilatus yang mencuci tangan di depan orang banyak adalah dua contoh paling nyata dari pola itu.
Dalam Taurat, Tuhan memerintahkan para imam mencuci tangan dan kaki di bejana tembaga sebelum melayani di mezbah dan memasuki Kemah Suci. “Apabila mereka masuk ke Kemah Pertemuan, mereka harus membasuh tangan dan kaki supaya mereka jangan mati” Keluaran 30:19-21. Ini bukan ritual biasa. Imam yang lalai melakukannya bisa kehilangan nyawanya.
Adapun tempat pembasuhan itu berupa bejana terbuat dari tembaga cermin-cermin milik wanita-wanita yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan (Keluaran 38:8). Pilihan material ini menyimpan pesan yang dalam. Sebelum seorang imam membasuh diri, ia harus bercermin untuk melihat kekotorannya sendiri melalui pantulan air. Tanpa kejujuran itu, pembasuhan hanya merupakan seremoni belaka.

Antara Darah Kambing dan Simbol Cuci Tangan
Pada hari paling suci, Yom Kippur, kisahnya lebih jelas. Imam besar memilih dua kambing yang serupa. Satu disembelih sebagai korban dosa dan darahnya disiramkan untuk menyucikan Bait Suci dan seluruh bangsa (Imamat 16:15-16). Kambing kedua, yang disebut kambing Azazel, diletakkan tangan imam di atas kepalanya sembari mengakui semua dosa Israel, lalu diusir ke padang gurun. Menurut tradisi kuno, kambing itu didorong dari tebing hingga hancur. Ini melambangkan bahwa dosa harus benar-benar dihilangkan jauh dari hadirat Allah. Satu ayat Taurat menjadi landasannya: “Karena nyawa segala makhluk ada di dalam darahnya… darah itulah yang mendamaikan” Imamat 17:11.
Di sinilah fakta sejarahnya muncul. Catatan Talmud (Yoma 39b) menyebut bahwa seutas pita kirmizi diikatkan pada tanduk kambing Azazel setiap tahunnya, dan secara ajaib akan berubah menjadi putih jika Tuhan mengampuni dosa bangsa itu. Sungguh merupakan sebuah tanda yang mengingatkan pada janji di Yesaya 1:18: “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju.” Namun tradisi Yahudi sendiri mengakui bahwa selama empat puluh tahun sebelum Bait Allah runtuh, persis setelah masa penyaliban Yesus, pita merah itu tidak pernah lagi berubah menjadi putih. Sistem kurban lama telah mengakhiri dirinya sendiri.
Di luar Bait Suci, umat biasa juga menjalankan ritual cuci tangan yang ketat. Namanya Netilat yadayim, yaitu mencuci tangan sebelum makan roti. Ritual ini berakar dari kebiasaan para imam yang harus suci sebelum memakan persembahan. Para rabi memperluasnya agar seluruh umat teringat pada kekudusan Bait Suci. Caranya dengan menuangkan air dengan cara tertentu, dan merupakan ritual yang dilakukan meski tangan sudah bersih secara fisik. Tujuannya adalah membersihkan “kotoran rohani” yang melekat karena bersentuhan dengan dunia sehari-hari.
Pilatus, gubernur Romawi yang bukan orang Yahudi, melakukan tindakan yang sama persis. Ia mencuci tangan di depan kerumunan sambil berkata: “Aku tidak bertanggung jawab atas darah orang ini. Tanggung jawab ada pada kamu” Matius 27:24. Ia menggunakan simbol ritual Yahudi yang paling dikenal untuk menyatakan dirinya bebas dari tanggung jawab kematian Yesus. Tapi di balik gesturnya tersimpan sinisme yang dalam. Pilatus memakai ritual paling suci mereka untuk mencuci tangannya dari pembunuhan yang ia sendiri tahu tidak adil.

Saat Sang Rabi Membasuh Kaki Murid-Nya
Semua ritual itu masih bersifat parsial dan harus terus diulang. Imam mencuci tangan setiap kali melayani. Korban dosa diulang setiap tahun. Dosa diakui dan dipindahkan, dan manusia tetap mencari cara yang paling nyaman dengan membersihkan bagian luar sambil berharap bagian dalamnya juga ikut beres. Yesus datang dan mematahkan pola ritual legalistik tersebut.
Malam itu adalah malam Paskah Yahudi di mana Yesus memperingatinya bersama para murid. Tepat sebelum Ia disalibkan (Yohanes 13:1-3). Pada zaman itu, orang makan sambil berbaring di dipan dan berdekatan satu sama lain. Terlihat kasut kotor yang dikenakan para murid untuk berjalan di jalanan berdebu. Kasut itu tidak mampu mencegahnya bercampur dengan berbagai kotoran, seperti kotoran hewan contohnya. Hal inilah yang menjadikan kaki sebagai bagian tubuh yang paling najis sekaligus paling rendah martabatnya.

Menariknya, ada satu fakta sosial pada saat itu, yaitu: dalam hukum Yahudi kuno, seorang budak Yahudi, tidak boleh disuruh membasuh kaki tuannya. Tugas itu dianggap terlalu menghina martabat sesama orang Israel. Pekerjaan itu hanya boleh dilakukan oleh budak non-Yahudi yang dianggap paling rendah derajatnya.
Malam itu, Yesus kemudian bangkit dari meja, melepaskan jubah-Nya, mengikat handuk di pinggang, menuang air, lalu membasuh kaki murid-murid-Nya satu per satu (Yohanes 13:4-5). Tangan Sang Guru menyentuh bagian paling kotor dari orang-orang yang dikasihi-Nya dan setia mengikuti-Nya. Melakukan hal tersebut berarti Yesus mengambil posisi yang bahkan lebih rendah dari seorang budak.
Ketika Petrus menolak, Yesus berkata dengan tegas: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak akan mendapat bagian dalam Aku” Yohanes 13:8. Lalu Yesus menambahkan: “Orang yang sudah mandi tidak perlu mandi lagi, cukup membasuh kakinya saja” Yohanes 13:10. Kontrasnya di sini sangat nyata. Mencuci tangan dalam Yudaisme adalah pembersihan parsial berulang pada bagian tangan dan itu dipandang sebagai sebuah simbol pada saat itu. Sementara mencuci kaki para murid yang dilakukan Yesus adalah sesuatu yang sama sekali berbeda dan bersifat personal, menyeluruh, dan datang bukan atas permintaan manusia melainkan atas kehendak-Nya dan dari tangan-Nya sendiri.
Yesus menggunakan dua istilah berbeda dalam bahasa asli Yunani:
- Louo: untuk mandi seluruh tubuh, dan nipto untuk membasuh kaki. Louo melambangkan penebusan sekali untuk selamanya di kayu salib seperti darah kambing yang disembelih di Yom Kippur, tapi bersifat sempurna dan tak perlu diulang.
- Nipto: adalah pemeliharaan harian. Yesus terus membersihkan “debu” yang kita kumpulkan dalam perjalanan hidup. Penulis Surat Ibrani menangkap ini dengan logika : “Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” Ibrani 7:25.
“The Lord Jesus loves his people so, that every day he is washing their feet. Their poorest action he accepts; their deepest sorrow he feels; their slenderest wish he hears, and their greatest sin he forgives. He is still their servant as well as their friend; still he takes the basin; still he wears the towel.”
C.H. Spurgeon, “Jesus Washing His Disciples’ Feet” (Sermon No. 612)
Penebusan Sempurna Melalui Darah dan Air
Di kayu salib, ketika prajurit menusuk sisi Yesus dan keluar darah serta air (Yohanes 19:34), itu menggenapi segalanya. Pada zaman itu, sistem drainase di Bait Suci dirancang untuk mengalirkan darah dan air dari kurban-kurban yang terus-menerus dipersembahkan. Dari tubuh Yesus begitu juga, darah dan air mengalir. Tubuh-Nya adalah Bait Suci yang baru (Yohanes 2:19-21), darah-Nya untuk penebusan, dan air untuk penyucian. Semua dilakukan hanya sekali dan untuk selamanya. Rasul Yohanes pun kemudian menulis: “Darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” 1 Yohanes 1:7.

Salib dan pembasuhan kaki bukan dua peristiwa yang terpisah. Kedua peristiwa itu memiliki keterkaitan. Salib adalah dasar yang sempurna, dan di sanalah dosa kita diampuni seperti yang dijanjikan dalam Taurat. Hal ini tidak pernah bisa dicapai oleh korban binatang yang berulang (Ibrani 10:4, 10:11-12). Pembasuhan kaki adalah kelanjutannya di mana Yesus merendahkan diri-Nya, menyentuh bagian paling kotor dalam hidup kita, dan membersihkannya dengan tangan-Nya sendiri. Yesus mau melakukannya bukan karena kita layak, melainkan karena Ia setia.
“The bath of his blood is your only washing; the stream of water from his side is your perfect purification. None but Jesus, none but Jesus, has wrought out the work of our salvation.”
C.H. Spurgeon, “The Day of Atonement” (Sermon)
Kesimpulan
Jika apa yang dilakukan dari luar tidak lagi menunjukkan penerimaan yang sama, maka persoalannya bukan hanya pada ritual, tetapi pada hati yang belum benar-benar tersentuh. Pada titik inilah makna “ melayani” menjadi berbeda.
Bukan sekadar melakukan kebaikan dari jauh, tetapi bersedia turun seperti Yesus yang mau menyentuh bagian yang paling kotor dan dihindari dari kehidupan manusia. Yesus memberikan teladan bahwa melayani yang sejati tidak lahir dari apa yang terlihat, melainkan dari kerendahan hati yang mau mendekat.
Penutup: Kasih yang Tetap Membungkuk Penuh Kasih
Ketika kita mencuci tangan, kita melakukannya supaya terlihat bersih di mata orang lain, layaknya yang dilakukan oleh Pilatus, dan para imam. Kita berusaha terlihat bersih dan kudus di hadapan manusia dengan menampilkan tampilan rohani, tetapi diam-diam menyimpan dosa agar tidak terlihat oleh orang lain. Namun yang dilakukan oleh Yesus berbeda. Dia justru mendekat, membungkuk, dan menyentuh bagian tersembunyi yang kita tidak mau orang lain menyentuhnya.
Semua ini membawa pada satu pemahaman bahwa kita tidak hanya diselamatkan oleh Yesus dari dosa masa lalu, tetapi juga dipelihara oleh-Nya setiap hari. Yesus bukan hanya Juruselamat yang mati di salib, tetapi Ia juga Tuhan yang rela membasuh kaki kita dalam perjalanan hidup kita yang penuh debu dosa ini.
Kasih-Nya yang paling nyata tidak hanya saat Ia menumpahkan darahNya, melainkan juga saat Ia tetap mau mendekat, membersihkan kita bahkan ketika kita sendiri tidak sadar betapa kotornya kehidupan kita ini.
Itulah yang membuat Yesus berbeda dari segala ritual manusia. Ia tidak menyucikan dari luar. Ia menyentuh yang paling dalam dari hidup kita dan Dia setia melakukannya setiap saat.


